Longgin
kalau bukan aku
siapa lagi
yang harus dipercaya
— Tuhan diam di gaib
orang-orang
membikin dinding
kalau bukan aku
siapa lagi
yang bisa diandalkan
— Tuhan diam di gaib
orang-orang
percaya nilai tukar
dengan keakuan
aku
mempersoalkan hidup
— Tuhan diam di gaib
orang-orang
berbenah di dunia
diriku, duniaku,
milikku, ruhku
berkeregangan. Menyusut
dan Tuhan tanpa orang-orang
adalah aku tanpa kabut ku
a semata. Alif
tak apa-apa oleh apa-apa
dan tak menginginkan apa
1981/1982
Sumber: Horison (Januari, 1984)
Analisis Puisi:
Puisi “Longgin” karya Beni Setia merupakan puisi reflektif-filosofis yang menggugat hubungan antara manusia, Tuhan, dan dunia modern. Dengan pengulangan kalimat yang ritmis dan pernyataan-pernyataan tegas, puisi ini memperlihatkan kegelisahan eksistensial aku-lirik di tengah realitas sosial yang makin materialistis.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keakuan manusia dalam relasinya dengan Tuhan dan dunia, serta krisis kepercayaan di tengah kehidupan sosial modern. Puisi ini juga mengangkat tema eksistensi, spiritualitas, dan keterasingan manusia.
Puisi ini bercerita tentang seorang aku-lirik yang mempertanyakan siapa lagi yang bisa dipercaya dan diandalkan selain dirinya sendiri. Tuhan digambarkan “diam di gaib”, sementara manusia sibuk membangun dinding, mempercayai nilai tukar, dan membenahi dunia secara lahiriah.
Aku-lirik berada dalam ketegangan antara keakuannya dengan realitas sosial. Ia mempersoalkan hidup melalui dirinya sendiri, hingga pada akhirnya menyadari penyusutan diri—antara “diriku, duniaku, milikku, ruhku”—yang terus merenggang.
Puisi ditutup dengan sikap pasrah: tidak menginginkan apa pun dan tidak lagi terikat oleh apa-apa.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap manusia modern yang kehilangan dimensi spiritual, terlalu percaya pada sistem nilai duniawi, dan menjadikan dirinya pusat segalanya. Ketika Tuhan terasa “diam”, manusia menggantinya dengan keakuan, rasionalitas, dan nilai tukar.
Namun, puisi ini juga menyiratkan pencarian kesunyian batin: saat manusia dan Tuhan dilepaskan dari hiruk-pikuk sosial, yang tersisa hanyalah kesadaran murni—“Alif”, simbol keesaan dan awal.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa kontemplatif, gersang, dan sunyi, dengan nada kegelisahan yang perlahan berubah menjadi keheningan pasrah.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan keakuan manusia dan tidak sepenuhnya menggantungkan hidup pada nilai duniawi. Puisi ini mengingatkan bahwa kepercayaan sejati dan ketenangan batin tidak ditemukan dalam sistem sosial, melainkan dalam kesadaran diri yang jujur dan spiritual.
Puisi “Longgin” karya Beni Setia adalah puisi perenungan yang kuat dan minimalis, mengajak pembaca menelusuri pertanyaan mendasar tentang kepercayaan, keakuan, dan spiritualitas di dunia modern. Melalui bahasa yang ringkas namun sarat makna, puisi ini menegaskan bahwa pada akhirnya, manusia harus berani menghadapi kekosongan, melepaskan keinginan, dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Biodata Beni Setia:
- Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
