Malam Itu
Malam itu aku berharap kamu ada di sana
Namun aku tak menemukanmu di sana
Malam itu aku berharap aku dapat memelukmu
Namun kamu tak di sana
Malam itu aku tak mendapatkan dirimu di sana
Aku tak tahu di sana ada apa denganmu
Malam itu, aku sendirian tanpa dirimu
Merasa terjepit oleh rindu, namun aku tak harus menjerit
2025
Analisis Puisi:
Puisi “Malam Itu” karya Okto Son merupakan puisi pendek yang bertumpu pada pengulangan dan kesederhanaan diksi untuk menegaskan perasaan kehilangan. Melalui larik-larik yang lugas, penyair menghadirkan pengalaman rindu yang tidak tersampaikan dan kesepian yang dipendam tanpa teriakan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan kehilangan dalam relasi personal. Rindu tidak tampil sebagai luapan emosi yang meledak, melainkan sebagai tekanan batin yang sunyi dan tertahan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berharap kehadiran sosok yang dirindukan pada suatu malam, namun harapan itu berulang kali kandas. Sosok “kamu” tidak ditemukan, tidak bisa dipeluk, dan keberadaannya menjadi tanda tanya. Malam tersebut berakhir dengan kesendirian dan rindu yang menyesakkan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa rindu tidak selalu diekspresikan dengan tangisan atau jeritan. Ada rindu yang justru menekan dari dalam, membuat seseorang merasa terjepit, namun memilih diam. Ketidakhadiran “kamu” juga bisa dimaknai sebagai jarak emosional, bukan sekadar jarak fisik.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa sepi, murung, dan sendu. Pengulangan frasa “malam itu” memperkuat kesan waktu yang berhenti pada satu momen penuh kehampaan dan penantian yang gagal.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa tidak semua perasaan dapat disuarakan, dan tidak semua rindu harus dijeritkan. Ada kalanya manusia memilih menanggung kesepian sendiri, belajar bertahan meski hati sedang terhimpit oleh kehilangan.
Puisi “Malam Itu” menampilkan kesederhanaan sebagai kekuatannya. Dengan bahasa yang langsung dan pengulangan yang konsisten, Okto Son berhasil menghadirkan potret rindu yang hening—rindu yang tidak berteriak, tetapi justru terasa lebih menyakitkan karena dipendam dalam diam.
