Puisi: Masa Depan dari Dasar Sumur (Karya Bob Anwar)

Puisi “Masa Depan dari Dasar Sumur” karya Bob Anwar merupakan perenungan eksistensial tentang kecemasan generasi muda dalam memandang masa depan.

Masa Depan dari Dasar Sumur

saya bayangkan masa depan
seperti seseorang melihat langit
dari dasar sumur

sempit, jauh, sunyi
cahaya yang tak bisa saya sentuh

ayah berkata
gelar adalah kunci

kunci apa? saya tak paham
hanya ada pintu-pintu terkunci
dan saya bukan gembok yang tepat

angka-angka di transkrip
hanyalah catatan kepatuhan
bukan jejak keberanian

saya telah menjadi patung
yang dipahat orang lain
lalu dipuji bentuknya

di trotoar, sepulang wisuda
saya bertanya pada bayangan:
siapa yang baru saja dimatikan?

di sekitar saya, orang-orang
berbicara tentang masa depan
seolah mereka pernah ke sana
dan kembali untuk bercerita

saya menyimpan ijazah di laci
dan impian-impian di perut
keduanya sama lapar
keduanya sama menyakitkan
tak satu pun berani saya keluarkan

di usia seperti ini
saya lebih hafal pola retak
langit-langit kamar
daripada garis telapak tangan sendiri

waktu mengalir seperti koin
yang jatuh ke dasar sumur
kilau sesaat, lalu sunyi
saya menghitung koin-koin itu
seperti menjumlah kerugian

teman-teman bergerak cepat
seperti kereta yang yakin akan relnya

saya masih berdiri di peron
dengan tiket ke tempat asing
yang tak pernah saya pilih

ketika orang bertanya:
apa keahlianmu?
diam adalah satu-satunya kejujuran

ada kemarahan
tidur di ujung lidah saya
saya takut jika ia bangun
tak akan ada yang tersisa

hingga suatu pagi
saya menyadari:

saya adalah sumur itu sendiri
menunggu seseorang menemukan
air di dasar kegelapan

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Masa Depan dari Dasar Sumur” karya Bob Anwar merupakan perenungan eksistensial tentang kecemasan generasi muda dalam memandang masa depan. Dengan metafora utama “dasar sumur”, puisi ini menyuarakan rasa terkungkung, ketidakpastian, dan kegamangan identitas di tengah tuntutan sosial tentang pendidikan, gelar, dan kesuksesan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah krisis identitas dan kecemasan masa depan. Puisi ini menggambarkan benturan antara harapan sosial dan pengalaman batin individu yang merasa terjebak serta kehilangan arah.

Puisi ini bercerita tentang seorang "saya" yang membayangkan masa depan seperti melihat langit dari dasar sumur: sempit, jauh, dan sulit dijangkau. Ia mempertanyakan makna gelar, ijazah, dan nilai akademik, serta merasa dirinya dibentuk oleh kehendak orang lain. Di tengah arus teman-temannya yang melaju cepat, ia justru terdiam, diliputi keraguan dan kemarahan yang dipendam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sistem yang mengukur manusia berdasarkan kepatuhan dan sertifikat, bukan keberanian dan pilihan personal. Puisi ini juga menyiratkan bahwa rasa hampa dan keterasingan lahir ketika seseorang kehilangan kendali atas jalan hidupnya sendiri.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sunyi, tertekan, dan kontemplatif. Ada kesepian yang mendalam, kecemasan yang tertahan, serta kesadaran pahit yang perlahan muncul menuju penutup puisi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menemukan kembali makna diri di luar definisi sosial tentang sukses. Puisi ini mengingatkan bahwa setiap orang perlu mengenali potensi terdalamnya sendiri, meski harus memulai dari “dasar kegelapan”.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan simbolik, seperti dasar sumur, langit sempit, koin jatuh ke kegelapan, peron dan kereta, laci ijazah, serta langit-langit kamar yang retak. Imaji ini memperkuat rasa terkurung dan keterasingan tokoh "saya".

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora, simile, dan personifikasi. Masa depan disamakan dengan langit di dasar sumur, waktu dianalogikan sebagai koin jatuh, dan kemarahan digambarkan seolah “tidur di ujung lidah”. Metafora sumur menjadi poros utama yang menyatukan seluruh makna puisi.

Puisi “Masa Depan dari Dasar Sumur” karya Bob Anwar adalah puisi yang jujur dan relevan dengan kegelisahan generasi hari ini. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi membuka ruang kesadaran: bahwa bahkan dari dasar sumur, selalu ada kemungkinan air—asal seseorang berani mengenali dan menggali dirinya sendiri.

Bob Anwar
Puisi: Masa Depan dari Dasar Sumur
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.