Analisis Puisi:
Puisi “Mendengar Kata Anak Alam” karya Diah Hadaning menghadirkan suara alam sebagai subjek yang hidup, berbicara, dan mengingatkan manusia. Melalui larik-larik yang padat simbol dan metafora, puisi ini menyoroti hubungan manusia dengan alam, sekaligus kegelisahan terhadap kerusakan ekologis yang semakin mengkhawatirkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesadaran ekologis dan spiritualitas alam. Alam tidak hanya diposisikan sebagai ruang hidup, tetapi sebagai ibu, rahim, dan sumber rahmat yang sedang terluka oleh keserakahan manusia.
Puisi ini bercerita tentang suara “anak alam” yang menyampaikan kegelisahannya terhadap hadirnya “kerajaan raksasa”—simbol kekuasaan industri dan eksploitasi. Racun, limbah, dan kerusakan digambarkan merambah laut, pulau, dan perut bumi, sementara alam sendiri bersiap melahirkan kesadaran baru yang memohon kasih dan pemulihan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap pembangunan yang mengorbankan kelestarian lingkungan. Di balik kemajuan dan “kerajaan raksasa,” terdapat ampas maut yang mematikan kehidupan laut, satwa, dan keseimbangan bumi. Puisi ini juga menyiratkan ajakan kembali pada nilai kesederhanaan dan keselarasan dengan kehendak Ilahi.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi bergerak dari lirih dan kontemplatif menuju tegang dan genting. Gambaran bumi yang terluka, naga berkepala tujuh, serta maut yang mengintai menghadirkan rasa cemas, namun ditutup dengan nada harap akan rahmat dan kelahiran kesadaran baru.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah seruan untuk mendengar suara alam dan menghentikan keserakahan. Manusia diajak memuja Tuhan dengan cara menjaga ciptaan-Nya, hidup secukupnya (samadya), dan menempatkan kasih sebagai dasar relasi dengan alam.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan simbolik, seperti “bunga-bunga rumput di padang,” “cerobong-cerobong tumbuh jadi naga kepala tujuh,” serta “rahim bumi penuh rahmat.” Imaji tersebut menciptakan gambaran kontras antara keindahan alam dan ancaman kehancuran.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas, antara lain personifikasi pada alam yang berbicara dan merasakan luka, serta metafora seperti “kerajaan raksasa” untuk kekuasaan destruktif dan “embrio” sebagai simbol harapan serta kelahiran kesadaran ekologis. Simbol “naga kepala tujuh” memperkuat kesan ancaman besar dan rakus.
Puisi “Mendengar Kata Anak Alam” adalah puisi perlawanan ekologis yang bernuansa spiritual. Diah Hadaning mengajak pembaca untuk tidak tuli terhadap jeritan alam, sebab di sanalah rahmat masih tersedia nyata—selama manusia bersedia mendengar, mengasihi, dan menjaga.

Puisi: Mendengar Kata Anak Alam
Karya: Diah Hadaning