Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Mendengar Kata Anak Alam (Karya Diah Hadaning)

Puisi “Mendengar Kata Anak Alam” karya Diah Hadaning bercerita tentang suara “anak alam” yang menyampaikan kegelisahannya terhadap hadirnya ...
Mendengar Kata Anak Alam

Bunga-bunga rumput di padang
mekar sepanjang musim kehidupan
mestikah kupindahkan musim kehidupan
mestikah kupindahkan di dada ibu
jika di sana muncul kerajaan raksasa
kemana kerajaan raksasa
akar umbi dan daunan
kemana kerajaan obat diselamatkan
jika di sana muncul kerajaan raksasa
kemana nanti akan dibuang
ampas-ampas penuh rahasia maut
di laut - nelayan dan ikan mati
di pulau - satwa dan damai halau
di bawah tanah - bumi terluka
cerobong-cerobong tumbuh
jadi naga kepala tujuh
koyak cakrawala bumi dan angin
dengar kata anak alam siap lahir
aku ini embrio sedang tumbuh
dalam rahim bumi penuh rahmat
aku ingin berkasih dengan alam
aku takut maut bukan dari-Nya
aku ngeri mata mulur tulang lentur
aku mau kita memuja Dia
dengan kepuasan yang samadya
di sini rahmat tersedia nyata.

Jakarta, 1991

Analisis Puisi:

Puisi “Mendengar Kata Anak Alam” karya Diah Hadaning menghadirkan suara alam sebagai subjek yang hidup, berbicara, dan mengingatkan manusia. Melalui larik-larik yang padat simbol dan metafora, puisi ini menyoroti hubungan manusia dengan alam, sekaligus kegelisahan terhadap kerusakan ekologis yang semakin mengkhawatirkan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran ekologis dan spiritualitas alam. Alam tidak hanya diposisikan sebagai ruang hidup, tetapi sebagai ibu, rahim, dan sumber rahmat yang sedang terluka oleh keserakahan manusia.

Puisi ini bercerita tentang suara “anak alam” yang menyampaikan kegelisahannya terhadap hadirnya “kerajaan raksasa”—simbol kekuasaan industri dan eksploitasi. Racun, limbah, dan kerusakan digambarkan merambah laut, pulau, dan perut bumi, sementara alam sendiri bersiap melahirkan kesadaran baru yang memohon kasih dan pemulihan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik tajam terhadap pembangunan yang mengorbankan kelestarian lingkungan. Di balik kemajuan dan “kerajaan raksasa,” terdapat ampas maut yang mematikan kehidupan laut, satwa, dan keseimbangan bumi. Puisi ini juga menyiratkan ajakan kembali pada nilai kesederhanaan dan keselarasan dengan kehendak Ilahi.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi bergerak dari lirih dan kontemplatif menuju tegang dan genting. Gambaran bumi yang terluka, naga berkepala tujuh, serta maut yang mengintai menghadirkan rasa cemas, namun ditutup dengan nada harap akan rahmat dan kelahiran kesadaran baru.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah seruan untuk mendengar suara alam dan menghentikan keserakahan. Manusia diajak memuja Tuhan dengan cara menjaga ciptaan-Nya, hidup secukupnya (samadya), dan menempatkan kasih sebagai dasar relasi dengan alam.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan simbolik, seperti “bunga-bunga rumput di padang,” “cerobong-cerobong tumbuh jadi naga kepala tujuh,” serta “rahim bumi penuh rahmat.” Imaji tersebut menciptakan gambaran kontras antara keindahan alam dan ancaman kehancuran.

Majas

Puisi ini menggunakan berbagai majas, antara lain personifikasi pada alam yang berbicara dan merasakan luka, serta metafora seperti “kerajaan raksasa” untuk kekuasaan destruktif dan “embrio” sebagai simbol harapan serta kelahiran kesadaran ekologis. Simbol “naga kepala tujuh” memperkuat kesan ancaman besar dan rakus.

Puisi “Mendengar Kata Anak Alam” adalah puisi perlawanan ekologis yang bernuansa spiritual. Diah Hadaning mengajak pembaca untuk tidak tuli terhadap jeritan alam, sebab di sanalah rahmat masih tersedia nyata—selama manusia bersedia mendengar, mengasihi, dan menjaga.

"Puisi: Mendengar Kata Anak Alam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mendengar Kata Anak Alam
Karya: Diah Hadaning
© Sepenuhnya. All rights reserved.