Analisis Puisi:
Puisi “Munajat Sayap” karya Dimas Arika Mihardja merupakan puisi pendek yang sarat dengan simbol dan muatan spiritual. Dengan diksi yang ringkas namun sugestif, puisi ini menampilkan doa personal seorang aku-lirik yang merindukan keterhubungan langsung dengan Yang Ilahi melalui pengalaman batin yang transenden.
Tema
Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan kerinduan transendental. Sayap menjadi simbol hasrat manusia untuk melampaui keterbatasan ragawi dan menjangkau dimensi ketuhanan.
Puisi ini bercerita tentang seorang aku-lirik yang memohon agar sayap tumbuh di tubuhnya. Sayap tersebut diharapkan mampu membawanya terbang mengangkasa, menikmati isyarat langit, dan pada akhirnya mengagumi singgasana Tuhan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan kerinduan manusia untuk mendekat kepada Tuhan melalui proses batin yang tidak selalu nyaman. Ungkapan “sayatan dan pahatan isyarat langit” menyiratkan bahwa perjalanan spiritual kerap menuntut luka, pengorbanan, dan keikhlasan untuk ditempa.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa khusyuk, kontemplatif, dan penuh harap. Puisi ini menyerupai munajat atau doa lirih yang dilantunkan dengan kesadaran akan keterbatasan diri.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak datang secara instan. Ia membutuhkan kesiapan batin untuk menerima proses, termasuk rasa perih dan ujian, sebagai bagian dari perjalanan menuju pemahaman yang lebih tinggi.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji visual dan simbolik, seperti sayap yang tumbuh di tubuh, kepakan yang mengangkasa, serta langit dan singgasana-Nya. Imaji ini menegaskan nuansa spiritual dan transendental yang kuat.
Majas
Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan simbolik. Sayap berfungsi sebagai metafora kebebasan spiritual, sementara langit dan singgasana-Nya melambangkan keagungan Tuhan dan tujuan akhir perjalanan batin.
Puisi “Munajat Sayap” karya Dimas Arika Mihardja adalah puisi singkat namun padat makna. Ia mengajak pembaca merenungi kerinduan terdalam manusia untuk terbang melampaui dirinya sendiri, menuju ruang keimanan yang lebih luas dan penuh kekhusyukan.
Karya: Dimas Arika Mihardja
