Puisi “Nama Jalan” karya Bob Anwar menghadirkan potret getir tentang identitas yang terhapus, relasi personal yang timpang, serta realitas sosial yang penuh ketidakadilan. Dengan bahasa lugas, sinis, dan sarat ironi, puisi ini menelusuri bagaimana cinta, kemiskinan, dan kekuasaan saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketimpangan sosial dan krisis identitas dalam masyarakat kelas. Puisi ini juga mengangkat tema kemiskinan struktural, pengkhianatan personal, serta warisan kekuasaan yang terus berulang.
Puisi ini bercerita tentang seorang "saya" yang merasa tak memiliki tempat dalam peta kota—namanya tak tercatat, seperti ayahnya yang pergi sebelum sempat mengajarkan cara bertahan hidup. Ia hidup di dunia yang menuntut tanda tangan sebagai alat meminjam masa depan, sekadar mengubah “angka nol” menjadi roti.
"Saya" juga mengenang relasi dengan “kamu” yang kini berada di lingkar kekuasaan—bersandar di jok mobil seorang anak menteri—sementara dirinya tetap terpinggirkan. Pengalaman ditinggalkan, dilupakan, dan ditertawakan berulang kali menegaskan posisinya sebagai figur yang tak diakui.
Puisi ini bergerak dari ruang personal ke ruang sosial-politik: negeri di mana kemiskinan menjadi “hantu siang bolong” yang hanya dilihat oleh mereka yang mengalaminya, dan di mana nama serta jalan diwariskan bersama kursi kekuasaan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik tajam terhadap sistem sosial yang menormalisasi ketimpangan dan menghapus identitas kaum miskin. “Nama jalan” menjadi simbol pengakuan sosial; siapa yang memiliki nama dan jalan, memiliki akses pada masa depan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta kerap dikalahkan oleh kelas, lapar, dan ingatan. Relasi personal pun tak luput dari struktur kuasa yang timpang.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa getir, sinis, dan muram, dengan kemarahan yang ditahan. Ada luka yang tak meledak, tetapi mengendap sebagai kesadaran pahit tentang posisi diri di dunia.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari ketidakadilan struktural dan berani memelihara keberanian, meski berada di posisi kalah. Puisi ini juga menegaskan bahwa kesetiaan dan cinta bukan komoditas yang bisa dibeli atau didiskon.
Di tengah dunia yang timpang, keberanian untuk tetap “bermain” menjadi satu-satunya bentuk perlawanan.
Puisi “Nama Jalan” karya Bob Anwar adalah puisi sosial yang kuat dan menyayat. Ia menyingkap bagaimana identitas, cinta, dan keberanian diuji dalam struktur masyarakat yang timpang. Dengan nada getir namun jujur, puisi ini menegaskan bahwa dalam dunia yang tak adil, keberanian untuk terus bertahan—meski sadar akan kalah—adalah bentuk kemanusiaan yang paling utuh.