Puisi: Nama Jalan (Karya Bob Anwar)

Puisi “Nama Jalan” karya Bob Anwar menghadirkan potret getir tentang identitas yang terhapus, relasi personal yang timpang, serta realitas sosial ...

Nama Jalan

di peta kota
tak ada nama saya
seperti ayah yang pergi
sebelum menjelaskan
cara bertahan hidup

tanda tangan, kata mereka
adalah cara meminjam
masa depan untuk hari ini
mengubah angka nol
menjadi satu ton roti

barangkali
karena itu kamu pergi
menyisakan tragis sinema
dan semerbak zalora
di bioskop yang tak lagi
saya kunjungi

di sebuah podcast dewasa
yang saya lupa namanya
seseorang berkata:
cinta adalah pilihan
tapi lapar dan kenangan
tak pernah ditawar

seperti kamu yang kini
bersandar di jok mobil
seorang anak menteri
memandangi hujan
yang bahkan tak sudi
membasahi saya

di lampu merah itu
seseorang yang dulu
saya pinjami suara, tertawa
seakan saya tak pernah ada

begitulah, dunia
membagikan peran
dan saya mendapat bagian
yang tertatih di pojokan

di negeri ini, kemiskinan
adalah hantu siang bolong
tak seorang pun melihat
kecuali yang dirasuki

di negeri ini pula
ayah-ayah yang memiliki
nama dan jalan, selalu
mewariskan kursi
pada anaknya, juga padamu
seseorang yang saya kira
milik saya

ketika saya tidur
ledakan-ledakan itu
bersembunyi di bawah Kasur
di meja kerja tempatmu
dulu tertidur: menunggu
saat tepat menjadi cahaya

saat itu, mungkin
nama saya dikenang
bukan sebagai pecundang
tapi sebagai titik api
membangunkanmu
dari mimpi manis:
kebohongan

di belakang struk belanja
saya menulis:
"kesetiaan tak dijual
dalam diskon akhir tahun"
lalu melipatnya kecil
seperti kemarahan
yang urung meledak

dari seberang waktu
saya berbisik: cinta
bukan perkara memilih
tapi kesediaan menerima
bahwa kita sebenarnya
tak punya apa-apa

kecuali keberanian
untuk terus bermain
meski tahu akan kalah

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Nama Jalan” karya Bob Anwar menghadirkan potret getir tentang identitas yang terhapus, relasi personal yang timpang, serta realitas sosial yang penuh ketidakadilan. Dengan bahasa lugas, sinis, dan sarat ironi, puisi ini menelusuri bagaimana cinta, kemiskinan, dan kekuasaan saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketimpangan sosial dan krisis identitas dalam masyarakat kelas. Puisi ini juga mengangkat tema kemiskinan struktural, pengkhianatan personal, serta warisan kekuasaan yang terus berulang.

Puisi ini bercerita tentang seorang "saya" yang merasa tak memiliki tempat dalam peta kota—namanya tak tercatat, seperti ayahnya yang pergi sebelum sempat mengajarkan cara bertahan hidup. Ia hidup di dunia yang menuntut tanda tangan sebagai alat meminjam masa depan, sekadar mengubah “angka nol” menjadi roti.

"Saya" juga mengenang relasi dengan “kamu” yang kini berada di lingkar kekuasaan—bersandar di jok mobil seorang anak menteri—sementara dirinya tetap terpinggirkan. Pengalaman ditinggalkan, dilupakan, dan ditertawakan berulang kali menegaskan posisinya sebagai figur yang tak diakui.

Puisi ini bergerak dari ruang personal ke ruang sosial-politik: negeri di mana kemiskinan menjadi “hantu siang bolong” yang hanya dilihat oleh mereka yang mengalaminya, dan di mana nama serta jalan diwariskan bersama kursi kekuasaan.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik tajam terhadap sistem sosial yang menormalisasi ketimpangan dan menghapus identitas kaum miskin. “Nama jalan” menjadi simbol pengakuan sosial; siapa yang memiliki nama dan jalan, memiliki akses pada masa depan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta kerap dikalahkan oleh kelas, lapar, dan ingatan. Relasi personal pun tak luput dari struktur kuasa yang timpang.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa getir, sinis, dan muram, dengan kemarahan yang ditahan. Ada luka yang tak meledak, tetapi mengendap sebagai kesadaran pahit tentang posisi diri di dunia.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari ketidakadilan struktural dan berani memelihara keberanian, meski berada di posisi kalah. Puisi ini juga menegaskan bahwa kesetiaan dan cinta bukan komoditas yang bisa dibeli atau didiskon.

Di tengah dunia yang timpang, keberanian untuk tetap “bermain” menjadi satu-satunya bentuk perlawanan.

Puisi “Nama Jalan” karya Bob Anwar adalah puisi sosial yang kuat dan menyayat. Ia menyingkap bagaimana identitas, cinta, dan keberanian diuji dalam struktur masyarakat yang timpang. Dengan nada getir namun jujur, puisi ini menegaskan bahwa dalam dunia yang tak adil, keberanian untuk terus bertahan—meski sadar akan kalah—adalah bentuk kemanusiaan yang paling utuh.

Bob Anwar
Puisi: Nama Jalan
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.