Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Orang yang Dianiaya (Karya Beni Setia)

Puisi “Orang yang Dianiaya” karya Beni Setia menghadirkan gambaran kekerasan dan ketidakadilan yang ekstrem, tetapi disampaikan dengan lirih dan ...

Orang yang Dianiaya

orang yang dianiaya, luka-lukanya sangat perih
darahnya tercecer-cecer, mayatnya dibuang di hutan
ya, bertahun-tahun ia berbaring. Menanti
ada yang akan menemukannya. Menanti

tersamarkan oleh lapisan humus, kerontang dan putih
benaknya hancur. Tulang-tulang menggeronggang, menyerpih
sisa matanya menatap sangat dalam, sangat jauh
: betapa lantang jerit yang terbungkam bertahun-tahun

orang-orang cuma bisa menggerombol, dan anjing menggonggong
dan "siapa" dilemparkan di setiap saat, di setiap kelok
bertumbukan. Lumpuh di dinding waktu
(hanya tanah yang tak bertanya-tanya, berseru: "saudaraku")

betapa lengang, betapa kosong dadanya. Rusuknya lepas
dan pada rongga pada mana kehangatan pernah menyala
tertumpuk kenangan. Lapuk
tanpa ada yang sempat mengenangkannya

bagaimana ia bisa tahan? Menanti dalam kehampaan
(kosong harapan, alpa kenalan dan miskin kemesraan)
bagaimana ia bisa tahan?

17/8/1982

Sumber: Horison (November, 1982)

Catatan:
Puisi ini tidak memiliki judul.

Analisis Puisi:

Puisi “Orang yang Dianiaya” karya Beni Setia menghadirkan gambaran kekerasan dan ketidakadilan yang ekstrem, tetapi disampaikan dengan lirih dan penuh empati. Puisi ini tidak hanya merekam tubuh yang disakiti, melainkan juga jerit kemanusiaan yang terbungkam dan dilupakan oleh waktu serta masyarakat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekerasan, ketidakadilan, dan pengingkaran kemanusiaan. Puisi ini menyoroti nasib korban penganiayaan yang bukan hanya dibunuh secara fisik, tetapi juga dihapus dari ingatan sosial.

Puisi ini bercerita tentang seorang manusia yang dianiaya hingga mati, tubuhnya dibuang di hutan, dan dibiarkan terbaring bertahun-tahun tanpa ada yang mencari atau mengenang. Ia menunggu dalam sunyi, sementara dunia di luar hanya bergumam, bertanya-tanya, dan tak pernah benar-benar peduli.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap masyarakat yang lebih sibuk bertanya daripada bertindak. Kekerasan tidak hanya terjadi pada tubuh korban, tetapi juga pada ingatan kolektif yang memilih lupa. Pembiaran dan pengabaian menjadi bentuk kekerasan lanjutan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sangat muram, mencekam, dan penuh duka. Ada kehampaan yang panjang, kesunyian yang menekan, dan rasa ngeri yang tidak meledak, tetapi terus menghantui.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan korban kekerasan. Puisi ini mengingatkan bahwa diam, lupa, dan acuh adalah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual yang keras dan kuat, seperti darah yang tercecer, mayat di hutan, tulang-tulang menggeronggang, lapisan humus, dan rongga dada yang kosong. Imaji ini menegaskan penderitaan fisik sekaligus kehampaan batin yang dialami korban.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora, personifikasi, dan repetisi. Tanah dipersonifikasikan sebagai satu-satunya yang berseru “saudaraku,” sementara repetisi kata “menanti” dan pertanyaan “bagaimana ia bisa tahan?” menegaskan lamanya penderitaan dan sunyinya penantian.

Puisi “Orang yang Dianiaya” karya Beni Setia adalah puisi perlawanan yang hening namun mengguncang. Ia tidak menawarkan penghiburan, tetapi menghadirkan ingatan—bahwa di balik setiap kekerasan yang terlupakan, ada jerit kemanusiaan yang terus menunggu untuk didengar.

Beni Setia
Puisi: Orang yang Dianiaya
Karya: Beni Setia

Biodata Beni Setia:
  • Beni Setia lahir pada tanggal 1 Januari 1954 di Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.