Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Orkestra Ruang Tunggu (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Puisi “Orkestra Ruang Tunggu” karya Dorothea Rosa Herliany bercerita tentang seseorang yang berada di dalam kamar—sebuah ruang tertutup—yang ...
Orkestra Ruang Tunggu

Barangkali ada yang mengetuk pintu kamar
sebab lengang yang dingin, dan takut yang berpendar
dan bisikan-bisikan getir: kapan berangkat?

Barangkali ada yang mengetuk pintu kamar
-- dan di luar terdengar gaduh
suara gemerincing kereta kencana
dan derap kaki kuda, menjemputmu.

1987

Sumber: Matahari yang Mengalir (1990)

Analisis Puisi:

Puisi “Orkestra Ruang Tunggu” karya Dorothea Rosa Herliany menghadirkan pengalaman menunggu sebagai peristiwa batin yang sunyi namun sarat ketegangan. Dengan larik-larik singkat dan pengulangan, penyair menciptakan suasana ruang antara—ruang tunggu—yang dipenuhi kecemasan, bisikan, dan pertanyaan tentang keberangkatan. Ruang ini bukan sekadar tempat fisik, melainkan medan psikologis dan eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penantian dan kecemasan menjelang sebuah peralihan. Peralihan tersebut bisa dimaknai sebagai keberangkatan, perubahan besar dalam hidup, atau bahkan kematian. Tema ini diperkuat oleh nuansa dingin, lengang, dan rasa takut yang terus berpendar.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di dalam kamar—sebuah ruang tertutup—yang diliputi kesunyian dan rasa takut. Ada dugaan bahwa seseorang mengetuk pintu, namun kepastian tidak pernah diberikan.

Di luar kamar, terdengar suara gaduh: gemerincing kereta kencana dan derap kaki kuda, seolah ada rombongan yang datang menjemput. Semua bunyi itu membentuk “orkestra” yang mengiringi momen menunggu sebelum keberangkatan.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah gambaran tentang ketidakpastian manusia ketika menghadapi perubahan yang tak terelakkan. Ketukan pintu dapat dimaknai sebagai panggilan takdir, waktu, atau kematian yang datang tanpa pemberitahuan pasti.

Ruang tunggu menjadi simbol kondisi manusia yang berada di antara: belum berangkat, tetapi juga tidak sepenuhnya tinggal. Bisikan “kapan berangkat?” mencerminkan kegelisahan batin yang tidak menemukan jawaban.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa lengang, dingin, dan mencekam. Rasa takut hadir secara perlahan, bukan melalui teriakan, melainkan bisikan. Suara-suara dari luar kamar justru memperkuat ketegangan, seolah sesuatu yang besar dan menentukan sedang mendekat.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan manusia dalam menghadapi waktu dan perubahan. Puisi ini mengingatkan bahwa penantian sering kali diisi oleh ketakutan dan tanya, namun keberangkatan tetap akan datang, siap atau tidak.

Selain itu, puisi ini juga mengajak pembaca untuk berdamai dengan ketidakpastian sebagai bagian dari pengalaman hidup.

Puisi “Orkestra Ruang Tunggu” karya Dorothea Rosa Herliany adalah puisi singkat namun padat makna tentang penantian yang sarat kecemasan. Melalui bunyi, pengulangan, dan simbol, penyair menghadirkan pengalaman universal manusia: menunggu panggilan yang tak pasti, di ruang sunyi antara tinggal dan berangkat. Puisi ini mengajak pembaca merenungi bagaimana ketakutan, harap, dan ketidakpastian berpadu menjadi orkestra batin dalam hidup manusia.

Dorothea Rosa Herliany
Puisi: Orkestra Ruang Tunggu
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Biodata Dorothea Rosa Herliany:
  • Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
  • Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.