Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda (Karya Agit Yogi Subandi)

Puisi “Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda” karya Agit Yogi Subandi bercerita tentang seorang perempuan yang berdiri sendiri di antara ...
Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda
(- inspirasi dari lukisan F.X. Teguh Prima)

langit merah saga menjadi lanskap bagi pepohonan.
dan perempuan itu, sendiri menatap jalan setapak di depannya.
seolah-olah ada yang dinanti, seolah-olah ada
... yang meninggalkannya.

rambutmu tergerai, berayun-ayun dan sesekali membuka
punggungmu yang terhampar masa lalu.
rambutmu adalah cemara sutra.
dan semak belukar di depannya dan kusut itu,
persinggahan terakhir bunga-bunga jakaranda,
menjelma permadani ungu.

lihatlah perempuan itu;
rambut dan blues putihnya kerap tersingkap angin.
ia sedang mengusir masa lalunya lewat gelembung bajunya.
hingga tubuhnya seperti gunung volcano yang gemetar 
... mengeluarkan lava.

tapi ia tak sadar, betapa angin, guguran jakaranda,
semak belukar dan langit merah saga serta kenangan
yang terusir, beberapa detik telah lesap ke dalam tubuhnya:
menjelma masa lalu pula,
ingatan pula:
tentang dirinya di antara hutan
jakaranda.

2008

Analisis Puisi:

Puisi “Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda” menghadirkan pertemuan antara visual lukisan dan kedalaman batin puisi. Lanskap alam, tubuh perempuan, dan ingatan masa lalu saling bertaut membentuk ruang kontemplatif yang puitis. Penyair seolah mengajak pembaca memasuki satu adegan yang diam, namun sarat pergolakan batin dan kenangan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ingatan dan keterikatan masa lalu yang melekat pada tubuh dan kesadaran perempuan. Alam—pepohonan jakaranda, angin, langit merah saga—menjadi medium yang menyimpan sekaligus memantulkan pengalaman batin tokoh perempuan.

Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang berdiri sendiri di antara pepohonan jakaranda, menatap jalan setapak seolah menunggu atau mengenang seseorang yang telah pergi. Tubuh, rambut, dan geraknya menyatu dengan lanskap alam, sementara kenangan masa lalu muncul, diusir, lalu kembali bersemayam dalam dirinya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa masa lalu tidak benar-benar bisa diusir. Kenangan yang tampak telah “terusir” justru kembali dan menjelma bagian dari diri. Alam dalam puisi ini bukan sekadar latar, melainkan cermin batin—tempat ingatan, kehilangan, dan identitas saling berkelindan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa lirih, melankolis, dan kontemplatif. Ada kesenyapan yang dalam, namun di baliknya tersimpan gejolak emosi—kerinduan, kehilangan, dan kegelisahan—yang perlahan berdenyut dalam tubuh perempuan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran bahwa manusia kerap hidup berdampingan dengan masa lalunya. Upaya melupakan sering kali berujung pada penerimaan: bahwa kenangan adalah bagian dari pembentuk diri, bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat disingkirkan.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan gerak, seperti “langit merah saga,” “permadani ungu” dari guguran jakaranda, rambut yang “berayun-ayun,” serta tubuh yang “seperti gunung volcano yang gemetar.” Imaji-imaji ini menghadirkan lukisan hidup yang bergerak antara keindahan dan kegelisahan.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan personifikasi. Rambut diibaratkan sebagai “cemara sutra,” guguran bunga menjadi “permadani ungu,” dan tubuh perempuan dianalogikan sebagai “gunung volcano” yang mengeluarkan lava—metafora kuat bagi emosi terpendam. Alam juga dipersonifikasikan seolah ikut menyimpan dan menghidupkan kembali kenangan.

Puisi “Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda” karya Agit Yogi Subandi adalah puisi yang bekerja seperti lukisan: mengandalkan warna, gerak, dan suasana untuk menyampaikan makna. Puisi ini menegaskan bahwa ingatan, tubuh, dan alam adalah satu kesatuan—tempat masa lalu terus hidup, bahkan ketika kita merasa telah meninggalkannya.

Agit Yogi Subandi
Puisi: Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda
Karya: Agit Yogi Subandi
© Sepenuhnya. All rights reserved.