Analisis Puisi:
Puisi “Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda” menghadirkan pertemuan antara visual lukisan dan kedalaman batin puisi. Lanskap alam, tubuh perempuan, dan ingatan masa lalu saling bertaut membentuk ruang kontemplatif yang puitis. Penyair seolah mengajak pembaca memasuki satu adegan yang diam, namun sarat pergolakan batin dan kenangan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ingatan dan keterikatan masa lalu yang melekat pada tubuh dan kesadaran perempuan. Alam—pepohonan jakaranda, angin, langit merah saga—menjadi medium yang menyimpan sekaligus memantulkan pengalaman batin tokoh perempuan.
Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang berdiri sendiri di antara pepohonan jakaranda, menatap jalan setapak seolah menunggu atau mengenang seseorang yang telah pergi. Tubuh, rambut, dan geraknya menyatu dengan lanskap alam, sementara kenangan masa lalu muncul, diusir, lalu kembali bersemayam dalam dirinya.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa masa lalu tidak benar-benar bisa diusir. Kenangan yang tampak telah “terusir” justru kembali dan menjelma bagian dari diri. Alam dalam puisi ini bukan sekadar latar, melainkan cermin batin—tempat ingatan, kehilangan, dan identitas saling berkelindan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa lirih, melankolis, dan kontemplatif. Ada kesenyapan yang dalam, namun di baliknya tersimpan gejolak emosi—kerinduan, kehilangan, dan kegelisahan—yang perlahan berdenyut dalam tubuh perempuan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran bahwa manusia kerap hidup berdampingan dengan masa lalunya. Upaya melupakan sering kali berujung pada penerimaan: bahwa kenangan adalah bagian dari pembentuk diri, bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat disingkirkan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan gerak, seperti “langit merah saga,” “permadani ungu” dari guguran jakaranda, rambut yang “berayun-ayun,” serta tubuh yang “seperti gunung volcano yang gemetar.” Imaji-imaji ini menghadirkan lukisan hidup yang bergerak antara keindahan dan kegelisahan.
Majas
Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora dan personifikasi. Rambut diibaratkan sebagai “cemara sutra,” guguran bunga menjadi “permadani ungu,” dan tubuh perempuan dianalogikan sebagai “gunung volcano” yang mengeluarkan lava—metafora kuat bagi emosi terpendam. Alam juga dipersonifikasikan seolah ikut menyimpan dan menghidupkan kembali kenangan.
Puisi “Perempuan di Antara Pepohonan Jakaranda” karya Agit Yogi Subandi adalah puisi yang bekerja seperti lukisan: mengandalkan warna, gerak, dan suasana untuk menyampaikan makna. Puisi ini menegaskan bahwa ingatan, tubuh, dan alam adalah satu kesatuan—tempat masa lalu terus hidup, bahkan ketika kita merasa telah meninggalkannya.
Karya: Agit Yogi Subandi