Puisi: Pulang Kerja (Karya Bob Anwar)

Puisi “Pulang Kerja” karya Bob Anwar mengajak pembaca menengok kembali cita-cita yang pernah ditinggalkan, sekaligus memahami bahwa pertumbuhan ...

Pulang Kerja

saya pulang
dengan senyuman
tertinggal di foto profil

bagaimana menjelaskan
pada diri sendiri bahwa hidup
yang saya jalani adalah hidup
yang saya tolak bertahun lalu

saya tak pernah berjanji
menulis atau membaca
puisi, tapi pernah bermimpi
mangga yang berbuah
dari pohon hari saya
dikupas banyak orang

sekarang, di layar gawai
kebohongan nampak cantik
mendapat banyak suka
dalam segelas kopi mahal
yang saya pesan terpaksa

di luar, saya profesional
di dalam, saya masih anak
yang takut mengecewakan
doa ibu setiap malam

suatu hari
seseorang bertanya
apa kabar cita-citamu?

saya sadar, cita-cita
adalah sebuah jalan
yang kita tinggalkan
karena takut tersesat

saat pasangan
bertanya tentang karier
saya menjawab:
sedang tumbuh

seperti pohon
dari benih yang salah
terus tumbuh
demi membuktikan
ia bukanlah
masalah

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Pulang Kerja” karya Bob Anwar menghadirkan potret jujur tentang kegamangan batin manusia modern, khususnya mereka yang hidup dalam ritme kerja profesional tetapi menyimpan kegelisahan tentang jati diri dan cita-cita. Dengan bahasa sederhana dan narasi yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, puisi ini menjadi refleksi personal sekaligus sosial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertentangan antara jati diri batin dan identitas sosial. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema cita-cita yang ditinggalkan, kepura-puraan di ruang publik, serta proses bertahan hidup di dunia kerja.

Puisi ini bercerita tentang seorang "saya" yang pulang kerja dengan senyuman yang hanya tersisa di foto profil—sebuah simbol citra yang ditampilkan kepada dunia. Ia menyadari bahwa hidup yang kini dijalani justru adalah hidup yang dulu ia tolak.

"Saya" mengenang mimpi-mimpinya yang sederhana namun bermakna, termasuk keinginan untuk menulis dan menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati banyak orang. Kini, ia hidup di tengah dunia digital, di mana kebohongan tampak cantik dan mendapat banyak “suka”, sementara ia sendiri memesan kopi mahal dengan terpaksa.

Di luar, ia tampil profesional; di dalam, ia masih anak kecil yang takut mengecewakan doa ibu. Pertanyaan tentang cita-cita menyadarkannya bahwa cita-cita sering kali ditinggalkan karena takut tersesat. Ia pun mencoba meyakinkan diri bahwa kariernya “sedang tumbuh”, seperti pohon dari benih yang salah, yang terus tumbuh demi membuktikan dirinya bukan masalah.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap budaya pencitraan dan standar kesuksesan semu. Foto profil, layar gawai, dan kopi mahal menjadi simbol bagaimana manusia dipaksa tampak bahagia dan berhasil, meski batinnya kosong atau ragu.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa banyak orang menjalani hidup yang tidak mereka pilih sepenuhnya, melainkan hidup yang diterima karena tuntutan, ketakutan, dan harapan orang lain.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa melankolis, reflektif, dan jujur. Ada kesedihan yang tidak meledak-ledak, tetapi mengendap sebagai kesadaran yang tenang dan getir.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah ajakan untuk berani berdamai dengan pilihan hidup dan jujur pada diri sendiri. Puisi ini juga mengingatkan bahwa pertumbuhan tidak selalu berangkat dari benih yang ideal, tetapi usaha untuk terus bertahan pun memiliki nilai.

Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan bahwa ketakutan akan kegagalan sering membuat manusia meninggalkan cita-citanya sendiri.

Puisi “Pulang Kerja” karya Bob Anwar adalah potret reflektif tentang manusia yang berusaha bertahan di antara tuntutan sosial dan kejujuran batin. Dengan bahasa yang sederhana namun tajam, puisi ini mengajak pembaca menengok kembali cita-cita yang pernah ditinggalkan, sekaligus memahami bahwa pertumbuhan hidup sering kali lahir dari pilihan yang tidak sempurna.

Bob Anwar
Puisi: Pulang Kerja
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.