Analisis Puisi:
Puisi “Pulang Kerja” karya Ook Nugroho menghadirkan potret manusia pekerja dalam sistem modern yang menempatkan individu sebagai angka dan fungsi. Dengan bahasa yang lugas namun tajam, puisi ini mengajak pembaca menengok sisi kemanusiaan yang kerap tergerus oleh rutinitas kerja dan aturan-aturan institusional.
Tema
Tema utama puisi ini adalah dehumanisasi manusia dalam dunia kerja dan upaya merebut kembali identitas diri. Tokoh “engkau” digambarkan kehilangan keutuhan dirinya saat berada dalam jam kerja, lalu perlahan menemukan kembali kemanusiaannya ketika pulang ke rumah.
Puisi ini bercerita tentang seorang pekerja yang pulang dari kantor. Sepanjang jam kerja, ia direduksi menjadi “kertas”, “angka-angka”, dan “kolom-kolom penjumlahan”—simbol administratif yang dingin. Namun di luar jam kerja resmi, ia kembali menjadi manusia biasa: seorang laki-laki di kota, dengan impian, luka, dan kemarahan yang terpendam.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap sistem kerja yang memperlakukan manusia semata sebagai alat produksi. Identitas personal, perasaan, dan kehendak individu seolah dihapus demi efisiensi, absensi, dan aturan. Pulang kerja bukan hanya perpindahan ruang, tetapi juga momen pemulihan jati diri.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram dan reflektif. Ada kesan letih, tertekan, sekaligus pasrah ketika tokoh “engkau” memandang dunia “tak berdaya”. Meski demikian, terdapat juga nada kejujuran emosional yang kuat, seolah puisi ini menjadi ruang pengakuan atas luka-luka yang tidak pernah tercatat di laporan kerja.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya memanusiakan manusia, terutama dalam dunia kerja. Puisi ini mengingatkan bahwa di balik seragam, kartu absensi, dan aturan, terdapat individu dengan perasaan, impian, dan kemarahan yang nyata.
Imaji
Puisi ini memunculkan imaji konseptual yang kuat, seperti “kertas”, “angka-angka”, dan “kolom-kolom penjumlahan” yang membangun gambaran visual tentang dunia birokrasi dan administrasi. Sebaliknya, imaji “impian dan luka-luka” menghadirkan sisi batin yang tidak kasatmata, namun sangat manusiawi.
Majas
Dalam puisi ini, tampak penggunaan majas metafora, terutama saat manusia disamakan dengan “kertas”, “angka-angka”, dan “keranjang sampah para majikan”. Metafora tersebut menegaskan bagaimana nilai manusia direduksi dan dibuang ketika tidak lagi berguna bagi sistem.
Puisi “Pulang Kerja” karya Ook Nugroho adalah puisi kritik sosial yang kuat dan relevan. Dengan bahasa sederhana namun penuh makna, puisi ini mengajak pembaca merenungkan kembali posisi manusia dalam dunia kerja modern—apakah sekadar angka, atau makhluk utuh yang layak dihargai.
Karya: Ook Nugroho
Biodata Ook Nugroho:
- Ook Nugroho lahir pada tanggal 7 April 1960 di Jakarta, Indonesia.
