Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Roda (Karya F. Aziz Manna)

Puisi “Roda” karya F. Aziz Manna tampil sebagai ledakan bahasa yang berulang, padat, dan nyaris tanpa jeda. Repetisi kata “roda” yang terus-menerus ..
Roda

roda berputar demikian liar, lingkar-melingkar, gila-menggila, roda tar-berputar di tubuh kami, sar-berpusar di otak kami, roda, membelit diri kami, roda, melilit hidup kami, roda, membekas-gurat di kening kami, di perut kami, roda, jelma jalan usia, roda, tumbuh melingkar, roda, membelukar, roda, liar seperti ular, roda, menyimpan lobang jebakan, roda, mengancam leher kami, roda, menderu napas kami, roda, mengguruh hendak runtuh, roda, laju-berpacu, roda, buru-memburu, roda, ngilu, roda, ini waktu, roda, ngilu

Sumber: Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang (2010)

Analisis Puisi:

Puisi “Roda” karya F. Aziz Manna tampil sebagai ledakan bahasa yang berulang, padat, dan nyaris tanpa jeda. Repetisi kata “roda” yang terus-menerus menciptakan ritme yang menghimpit pembaca, seolah meniru gerak roda itu sendiri: berputar cepat, liar, dan tak memberi ruang untuk berhenti. Puisi ini lebih dari sekadar gambaran benda, melainkan alegori tentang kehidupan yang terus bergerak dan menekan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan tekanan waktu. Roda menjadi simbol siklus kehidupan yang tak henti berputar, sering kali di luar kendali manusia.

Puisi ini bercerita tentang roda yang terus berputar, membelit tubuh, pikiran, dan kehidupan manusia. Roda hadir di kening, perut, napas, bahkan usia, menandakan bahwa seluruh aspek hidup terjerat oleh putaran waktu, tuntutan, dan keadaan yang tak memberi jeda.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan modern yang bergerak terlalu cepat dan brutal. Manusia digambarkan terperangkap dalam sistem dan rutinitas yang berputar tanpa henti, hingga menimbulkan rasa ngilu, lelah, dan terancam.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa intens, tertekan, dan gelisah. Repetisi dan diksi yang keras menciptakan atmosfer kepanikan dan kelelahan batin.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah kesadaran bahwa hidup yang hanya mengikuti putaran tanpa refleksi dapat melukai manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari tekanan yang dihadirkan oleh “roda” kehidupan dan pentingnya mencari jarak atau jeda.

Puisi “Roda” karya F. Aziz Manna adalah puisi yang menekan sekaligus menggugah. Dengan bahasa yang berputar dan menghimpit, puisi ini berhasil memvisualisasikan bagaimana waktu dan kehidupan dapat berubah menjadi kekuatan liar yang menggulung manusia, meninggalkan rasa ngilu sebagai penanda kelelahan eksistensial.

F. Aziz Manna
Puisi: Roda
Karya: F. Aziz Manna

Biodata F. Aziz Manna:
  • F. Aziz Manna lahir pada tanggal 8 Desember 1978 di Sidoarjo, Jawa Timur.
© Sepenuhnya. All rights reserved.