Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sarapan di Undak Sayan (Karya Nirwan Dewanto)

Puisi “Sarapan di Undak Sayan” karya Nirwan Dewanto bercerita tentang momen sarapan yang diapit oleh berbagai kontras: piring putih dan cakram ...
Sarapan di Undak Sayan

Antara piring putih ini
dan cakram matahari
kukekalkan sepetak roti
dengan luka ujung jari.

Antara meja tohor ini
dan gerimis sore nanti
lap penuh bara birahi
menempel ke pucat pipi.

Antara kilau sungai itu
dan gelap geligi beku
seraya cemburu, kuburu

ke ujung garpu, rambutmu,
dan ke mata pisau, matamu.
Sebab lapar tak juga milikku.

2006

Sumber: Jantung Lebah Ratu (2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Sarapan di Undak Sayan” karya Nirwan Dewanto menghadirkan peristiwa sederhana—sarapan—sebagai ruang pertemuan antara tubuh, hasrat, dan kesadaran. Dengan bahasa yang padat, sensual, dan penuh ketegangan metaforis, puisi ini mengubah aktivitas sehari-hari menjadi pengalaman batin yang kompleks. Sarapan tidak lagi sekadar pemenuhan fisik, melainkan medan pergelutan antara keinginan, kecemburuan, dan rasa lapar yang tak sepenuhnya bersifat jasmani.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hasrat dan lapar eksistensial. Puisi ini juga memuat tema ketegangan antara tubuh dan perasaan, serta kerinduan yang tidak sepenuhnya terpenuhi. Lapar dalam puisi tidak hanya merujuk pada kebutuhan makan, tetapi juga pada keinginan emosional dan sensual yang tak pernah benar-benar menjadi milik subjek lirik.

Puisi ini bercerita tentang momen sarapan yang diapit oleh berbagai kontras: piring putih dan cakram matahari, meja tohor dan gerimis sore, kilau sungai dan gelap geligi beku. Di tengah bentangan kontras itu, aku-lirik memegang sepotong roti dengan ujung jari yang terluka, seolah menandai bahwa tindakan paling sederhana pun mengandung rasa sakit.

Hasrat muncul secara intens melalui citra tubuh: pipi pucat yang ditempeli bara birahi, rambut yang diburu ke ujung garpu, dan mata yang disandingkan dengan mata pisau. Semua gerak itu berlangsung di tengah rasa lapar yang paradoksal—“sebab lapar tak juga milikku”.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa keinginan manusia sering kali bersifat ambivalen dan tak pernah benar-benar terpenuhi. Sarapan, yang seharusnya meredakan lapar, justru menjadi ruang di mana lapar semakin disadari sebagai sesuatu yang terus memburu, namun tak pernah dimiliki sepenuhnya.

Perburuan terhadap rambut dan mata kekasih menyiratkan kecemburuan, posesivitas, sekaligus ketakutan kehilangan. Lapar yang “tak juga milikku” menunjukkan keterasingan subjek terhadap hasratnya sendiri—bahwa keinginan tidak selalu berujung pada pemenuhan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa intim, tegang, dan sensual, namun sekaligus dingin dan gelisah. Ketegangan ini muncul dari pertemuan antara citra kehangatan (matahari, bara birahi) dan citra dingin (gerimis, geligi beku), menciptakan suasana batin yang tidak stabil.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah refleksi bahwa manusia kerap terjebak dalam hasrat yang tidak pernah benar-benar selesai. Puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa pemenuhan fisik maupun emosional tidak selalu mengakhiri rasa lapar, karena keinginan memiliki sifat terus-menerus dan paradoksal.

Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang kewaspadaan terhadap kecemburuan dan dorongan posesif yang dapat melukai, baik diri sendiri maupun orang lain.

Puisi “Sarapan di Undak Sayan” karya Nirwan Dewanto adalah puisi yang padat dan intens, menghadirkan pengalaman keseharian sebagai ruang perenungan hasrat dan keterasingan. Dengan bahasa metaforis dan imaji yang tajam, puisi ini menunjukkan bahwa lapar manusia tidak selalu tentang makanan, melainkan tentang keinginan yang terus memburu, namun tak pernah sepenuhnya menjadi milik.

Nirwan Dewanto
Puisi: Sarapan di Undak Sayan
Karya: Nirwan Dewanto

Biodata Nirwan Dewanto:
  • Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.