Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Secarik Kenangan (Karya Kurniawan Junaedhie)

Puisi “Secarik Kenangan” karya Kurniawan Junaedhie menghadirkan kisah pertemuan sederhana yang berujung pada kenangan panjang dan tak terhapuskan.
Secarik Kenangan

Pertemuan itu tak pernah dirancang
Hanya karena saling iseng
Tiba-tiba kita ingin bertemu.
Lagian, apa salahnya berkenalan?

Dua jam aku menunggu
dari waktu yang dijanjikan
Jantungku seperti berpacu dengan waktu.
Jalanan macet, Sayang. 

Sayang? Hm. Kita tak pernah saling kenal.
Apalagi bersisian, dan menyentuh kulitmu.
Kamu hanya membaca puisi-puisiku di koran
lalu ingin kenalan. Puisimu bagus. 

Baiklah,  aku tetap menunggumu.
Menunggu adalah pekerjaan membosankan.
Arlojiku terus berderik-derik
Rongga waktu berjalan lambat seperti sepatu. 

Tiga jam sudah aku menunggumu. 
Empat cangkir kopi berlalu. Waiting for Godot? 
Aku toh tetap menunggumu 
meski hati disungkup kelu.

Lima jam akhirnya berlalu tanpa terasa.
Kita akhirnya bertemu.
Wajahmu merah karena tersipu. Mungkin juga pipiku.
Tulislah puisi untukku.

Kita pun berkenalan. Pacaran, dan putus!
Kamu menikah dengan seseorang
Aku menikah dengan seseorang.
Bukan karena aku tak mencintaimu, Sayang.  

Kenangan hampir 30 tahun itu,
kini membeku oleh waktu.
Hidup tak pernah menangis
untuk sebuah perpisahan.

Desember, 2014

Analisis Puisi:

Puisi “Secarik Kenangan” karya Kurniawan Junaedhie menghadirkan kisah pertemuan sederhana yang berujung pada kenangan panjang dan tak terhapuskan. Dengan gaya bertutur yang naratif dan dekat dengan bahasa keseharian, puisi ini merekam peristiwa-peristiwa kecil yang justru membentuk jejak emosional besar dalam hidup seseorang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan cinta dan ketidakterpenuhan. Hubungan yang tidak berakhir bersama justru menjadi ingatan yang bertahan lama dalam kesadaran tokoh aku.

Puisi ini bercerita tentang pertemuan tak terencana antara dua orang yang saling mengenal lewat puisi. Tokoh aku menunggu berjam-jam sebelum akhirnya bertemu. Dari pertemuan itu, hubungan berkembang—berkenalan, berpacaran, lalu berpisah. Waktu berlalu, masing-masing menikah dengan orang lain, sementara kenangan tetap tinggal.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa tidak semua cinta harus dimiliki untuk menjadi berarti. Ada hubungan yang hadir hanya sebagai persinggahan, namun meninggalkan bekas mendalam yang tak dapat dihapus oleh waktu.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi bergerak dari canggung, harap, dan cemas saat menunggu, menuju hangat ketika pertemuan terjadi, lalu berakhir dengan lirih dan reflektif ketika kenangan itu dikenang kembali setelah puluhan tahun.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah penerimaan terhadap kenyataan hidup. Puisi ini mengajarkan bahwa perpisahan tidak selalu berarti kegagalan, dan kenangan tidak selalu menuntut kesedihan yang berlarut-larut.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji keseharian yang kuat, seperti menunggu berjam-jam, arloji yang terus berdetik, cangkir-cangkir kopi yang habis, kemacetan jalan, hingga wajah yang tersipu saat pertemuan pertama. Imaji ini membangun suasana yang realistis dan intim.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas simile dan metafora, seperti “rongga waktu berjalan lambat seperti sepatu” dan rujukan intertekstual “Waiting for Godot” yang mempertegas absurditas penantian. Personifikasi juga hadir pada waktu yang “membeku” dan hidup yang “tak pernah menangis.”

Puisi “Secarik Kenangan” karya Kurniawan Junaedhie adalah puisi tentang cinta yang hadir sebentar, tetapi hidup lama dalam ingatan. Dengan penceritaan yang jujur dan tenang, puisi ini mengajak pembaca merenungi bahwa hidup terus berjalan, sementara kenangan—baik atau pahit—menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan manusia.

Kurniawan Junaedhie
Puisi: Secarik Kenangan
Karya: Kurniawan Junaedhie

Biodata Kurniawan Junaedhie:
  • Kurniawan Junaedhie lahir pada tanggal 24 November 1956 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.