Puisi: Sejarah (Karya Bob Anwar)

Puisi “Sejarah” karya Bob Anwar menghadirkan potret getir tentang kehidupan sosial-politik yang akrab dengan ketimpangan, korupsi, dan sikap diam ...

Sejarah

kita semua tahu
tentang kantor-kantor
dan nama-nama
tentang uang rakyat
yang menguap
seperti genangan

kita diam saja
membiarkan berita
mengalir di televisi
kita pun makan
sambil mendengar
mereka berpidato

adik saya bertanya
mengapa jembatan
di kampung halaman
belum selesai, meski
dibangun tiga kali
saya tak menjawab

sepanjang jalan
reklame pemilu
tersenyum pada kita
seperti pacar lama
yang mengkhianati lagi

di ujung gang
kepala desa baru
memperluas terasnya
untuk kolam renang
dan pangkalan elpigi
anaknya pun kuliah
di luar negeri

sebenarnya saya
hanya ingin tenang
terima gaji bulanan
melunasi pajak
juga hutang-hutang
tapi tiap malam
bayangan anak-anak
yang putus sekolah
mengetuki pintu

kita semua tahu
kita pura-pura
tak tahu
saat makan
saat tidur
saat berdoa
sejarah kita
adalah sejarah diam

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Sejarah” karya Bob Anwar menghadirkan potret getir tentang kehidupan sosial-politik yang akrab dengan ketimpangan, korupsi, dan sikap diam masyarakat. Dengan bahasa sederhana dan narasi keseharian, puisi ini tidak berteriak lantang, tetapi justru menyampaikan kritik yang tajam melalui pengakuan jujur tentang kelelahan dan kepasrahan kolektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik sosial dan tanggung jawab kolektif. Puisi ini menyoroti bagaimana penyelewengan kekuasaan terus berlangsung karena dibarengi oleh sikap diam dan pembiaran masyarakat.

Puisi ini bercerita tentang kesadaran bersama akan praktik korupsi dan ketidakadilan—kantor-kantor, uang rakyat yang menguap, janji-janji politik, hingga pembangunan yang tak kunjung selesai. Tokoh aku menyaksikan semua itu dalam kehidupan sehari-hari, dari berita televisi hingga perubahan mencolok di lingkungan sekitar, tetapi sering kali memilih diam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh para penguasa atau pelaku kejahatan, melainkan juga oleh mereka yang mengetahui namun memilih tidak bertindak. Diam menjadi bentuk keterlibatan pasif yang sama berbahayanya dengan perbuatan langsung.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, getir, dan penuh rasa bersalah. Ada ketenangan semu dalam rutinitas—makan, tidur, bekerja—yang terusik oleh bayangan anak-anak putus sekolah dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk tidak terus-menerus menormalisasi ketidakadilan. Puisi ini mengingatkan bahwa sikap acuh dan pura-pura tidak tahu akan tercatat dalam sejarah sebagai bentuk kegagalan moral bersama.

Imaji

Puisi ini kuat dalam imaji keseharian dan sosial, seperti uang rakyat yang “menguap seperti genangan,” berita di televisi, reklame pemilu yang tersenyum, kolam renang di teras kepala desa, serta anak-anak putus sekolah yang “mengetuki pintu.” Imaji ini membangun realitas sosial yang konkret dan menyentuh.

Majas

Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora, simile, dan ironi. Uang rakyat yang menguap menjadi metafora korupsi, reklame pemilu disamakan dengan “pacar lama yang mengkhianati lagi,” dan penutup puisi menghadirkan ironi tajam melalui frasa “sejarah diam.”

Puisi “Sejarah” karya Bob Anwar adalah puisi kesaksian yang menohok kesadaran pembaca. Ia tidak hanya menuding pelaku ketidakadilan, tetapi juga mengajak kita bercermin: sejauh mana diam kita turut menulis sejarah yang sama—sejarah tentang pembiaran, kepasrahan, dan kegagalan untuk bersuara.

Bob Anwar
Puisi: Sejarah
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.