Puisi “Sejarah” karya Bob Anwar menghadirkan potret getir tentang kehidupan sosial-politik yang akrab dengan ketimpangan, korupsi, dan sikap diam masyarakat. Dengan bahasa sederhana dan narasi keseharian, puisi ini tidak berteriak lantang, tetapi justru menyampaikan kritik yang tajam melalui pengakuan jujur tentang kelelahan dan kepasrahan kolektif.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kritik sosial dan tanggung jawab kolektif. Puisi ini menyoroti bagaimana penyelewengan kekuasaan terus berlangsung karena dibarengi oleh sikap diam dan pembiaran masyarakat.
Puisi ini bercerita tentang kesadaran bersama akan praktik korupsi dan ketidakadilan—kantor-kantor, uang rakyat yang menguap, janji-janji politik, hingga pembangunan yang tak kunjung selesai. Tokoh aku menyaksikan semua itu dalam kehidupan sehari-hari, dari berita televisi hingga perubahan mencolok di lingkungan sekitar, tetapi sering kali memilih diam.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh para penguasa atau pelaku kejahatan, melainkan juga oleh mereka yang mengetahui namun memilih tidak bertindak. Diam menjadi bentuk keterlibatan pasif yang sama berbahayanya dengan perbuatan langsung.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, getir, dan penuh rasa bersalah. Ada ketenangan semu dalam rutinitas—makan, tidur, bekerja—yang terusik oleh bayangan anak-anak putus sekolah dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk tidak terus-menerus menormalisasi ketidakadilan. Puisi ini mengingatkan bahwa sikap acuh dan pura-pura tidak tahu akan tercatat dalam sejarah sebagai bentuk kegagalan moral bersama.
Imaji
Puisi ini kuat dalam imaji keseharian dan sosial, seperti uang rakyat yang “menguap seperti genangan,” berita di televisi, reklame pemilu yang tersenyum, kolam renang di teras kepala desa, serta anak-anak putus sekolah yang “mengetuki pintu.” Imaji ini membangun realitas sosial yang konkret dan menyentuh.
Majas
Dalam puisi ini tampak penggunaan majas metafora, simile, dan ironi. Uang rakyat yang menguap menjadi metafora korupsi, reklame pemilu disamakan dengan “pacar lama yang mengkhianati lagi,” dan penutup puisi menghadirkan ironi tajam melalui frasa “sejarah diam.”
Puisi “Sejarah” karya Bob Anwar adalah puisi kesaksian yang menohok kesadaran pembaca. Ia tidak hanya menuding pelaku ketidakadilan, tetapi juga mengajak kita bercermin: sejauh mana diam kita turut menulis sejarah yang sama—sejarah tentang pembiaran, kepasrahan, dan kegagalan untuk bersuara.