Puisi: Sore di Balkon (Karya Bob Anwar)

Puisi “Sore di Balkon” karya Bob Anwar menghadirkan suara reflektif seseorang yang menatap hidup dari jarak tertentu. Balkon menjadi ruang antara: ...

Sore di Balkon

sore ini
saya di balkon
menyaksikan dunia
terus berputar
tanpa puisi

yang tersisa
dari penyair muda itu
hanya kartu nama
dan nomor rekening

di kampus dulu
saya dan teman
menyusun revolusi
dari kata-kata
kini, revolusi kami
lunas angsuran
tanpa peringatan

di laci meja kerja
sebuah buku catatan
dengan halaman kosong
yang mahal

saya menyimpan puisi
seperti rahasia
yang tak ingin
siapapun rasa

pada pertemuan keluarga
mereka menanyakan
masa depan
saya tersenyum
seolah puisi pernah
menjanjikan sesuatu

di antara pembicaraan
investasi dan liburan
saya teringat, dulu
kata-kata begitu berharga

ada jalan yang tak jadi
saya tempuh
ada hidup yang tak jadi
saya jalani

ibu masih percaya
saya akan menjadi sesuatu
saya tak berani bilang 
saya sudah menjadi apa-apa

kadang
saya masih menulis
seperti orang mendoakan
sesuatu yang telah mati
berkali-kali

puisi, ya
tak mengubah dunia
ia hanya mengubah
cara saya melihatnya

2025

Analisis Puisi:

Puisi “Sore di Balkon” karya Bob Anwar menghadirkan suara reflektif seseorang yang menatap hidup dari jarak tertentu. Balkon menjadi ruang antara: tidak sepenuhnya di dalam, tidak pula sepenuhnya di luar. Dari tempat inilah penyair menyaksikan dunia yang terus bergerak, sementara puisi—yang dulu diyakini sebagai jalan hidup—perlahan terpinggirkan oleh tuntutan realitas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kompromi antara idealisme dan realitas hidup, khususnya relasi antara puisi, cita-cita muda, dan kehidupan dewasa yang pragmatis. Puisi ini juga memuat tema kehilangan, refleksi diri, dan kedewasaan yang getir.

Puisi ini bercerita tentang seorang penyair—atau seseorang yang pernah ingin menjadi penyair—yang kini menjalani kehidupan profesional. Dari balkon, ia menyaksikan dunia berjalan “tanpa puisi”. Yang tersisa dari identitas kepenyairannya hanyalah kartu nama dan nomor rekening.

Penyair mengenang masa kampus ketika kata-kata dipercaya mampu menyusun revolusi. Kini, revolusi itu berubah menjadi angsuran yang lunas tanpa peringatan. Di tengah pertemuan keluarga, pembicaraan investasi, dan pertanyaan tentang masa depan, penyair hanya tersenyum, seolah puisi tak pernah menjanjikan apa pun.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik lembut terhadap pergeseran nilai dalam kehidupan modern, di mana idealisme, kata-kata, dan seni sering kali kalah oleh stabilitas ekonomi dan tuntutan sosial. Namun puisi ini tidak menghakimi sepenuhnya; ia justru jujur pada ambiguitas: antara bertahan hidup dan tetap setia pada diri sendiri.

Puisi juga menyiratkan bahwa menulis bukan lagi alat perubahan dunia, melainkan cara bertahan secara batin—sebuah doa yang diulang meski yang didoakan terasa telah mati.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa melankolis, reflektif, dan sunyi, dengan nada pasrah yang tenang namun menyimpan kepedihan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa hidup kerap memaksa manusia berkompromi, dan tidak semua jalan yang direncanakan dapat ditempuh. Namun, puisi—atau kesadaran akan makna—tetap memiliki fungsi penting: bukan untuk mengubah dunia, melainkan untuk mengubah cara manusia memandang dunia dan dirinya sendiri.

Puisi “Sore di Balkon” karya Bob Anwar adalah potret jujur tentang generasi yang tumbuh dengan idealisme, lalu berhadapan dengan kenyataan. Tanpa nada heroik atau ratapan berlebihan, puisi ini mengajak pembaca berdamai dengan pilihan hidupnya masing-masing. Pada akhirnya, seperti yang ditegaskan di larik penutup, puisi mungkin tak mengubah dunia—namun ia tetap mengubah cara kita melihatnya.

Bob Anwar
Puisi: Sore di Balkon
Karya: Bob Anwar

Biodata Bob Anwar:

Bob Anwar (nama panggung dari Fajar M. Fitrah) lahir pada tanggal 25 Maret 1993 di Bandung. Sastrawan dan musisi ini menamatkan studinya di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, pada tahun 2016. Sehari-hari bekerja sebagai guru di Bina Bangsa International School, BBS Bandung, menjadi manager Komuji Indonesia dan kurator Bandung Berpuisi. Buku puisinya, Pangkur (Penerbit Buruan, 2022).

Sebagai sastrawan, karya-karyanya berupa esai dan puisi tersebar di berbagai media. Selain itu beberapa karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin, Korea, dan Inggris.

Bob Anwar sesekali diundang mengikuti perhelatan sastra, di antaranya Temu Penyair Asia Tenggara, Padang Panjang 2018 dan Bali Literary International Symposium, Sanur 2019. Pada tahun 2015 ia terpilih menjadi ketua DPD Jawa Barat, HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), dan menjadi kurator sekaligus editor "Menapak ke Arah Senja", antologi puisi bersama penyair se-Indonesia lintas generasi. Pada tahun 2016 masuk 100 Penyair Nusantara Terpilih di Festival Tjimanoek.

Bob Anwar bisa dijumpai secara online di Instagram @bobanwar_

© Sepenuhnya. All rights reserved.