Puisi “Sore di Balkon” karya Bob Anwar menghadirkan suara reflektif seseorang yang menatap hidup dari jarak tertentu. Balkon menjadi ruang antara: tidak sepenuhnya di dalam, tidak pula sepenuhnya di luar. Dari tempat inilah penyair menyaksikan dunia yang terus bergerak, sementara puisi—yang dulu diyakini sebagai jalan hidup—perlahan terpinggirkan oleh tuntutan realitas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kompromi antara idealisme dan realitas hidup, khususnya relasi antara puisi, cita-cita muda, dan kehidupan dewasa yang pragmatis. Puisi ini juga memuat tema kehilangan, refleksi diri, dan kedewasaan yang getir.
Puisi ini bercerita tentang seorang penyair—atau seseorang yang pernah ingin menjadi penyair—yang kini menjalani kehidupan profesional. Dari balkon, ia menyaksikan dunia berjalan “tanpa puisi”. Yang tersisa dari identitas kepenyairannya hanyalah kartu nama dan nomor rekening.
Penyair mengenang masa kampus ketika kata-kata dipercaya mampu menyusun revolusi. Kini, revolusi itu berubah menjadi angsuran yang lunas tanpa peringatan. Di tengah pertemuan keluarga, pembicaraan investasi, dan pertanyaan tentang masa depan, penyair hanya tersenyum, seolah puisi tak pernah menjanjikan apa pun.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik lembut terhadap pergeseran nilai dalam kehidupan modern, di mana idealisme, kata-kata, dan seni sering kali kalah oleh stabilitas ekonomi dan tuntutan sosial. Namun puisi ini tidak menghakimi sepenuhnya; ia justru jujur pada ambiguitas: antara bertahan hidup dan tetap setia pada diri sendiri.
Puisi juga menyiratkan bahwa menulis bukan lagi alat perubahan dunia, melainkan cara bertahan secara batin—sebuah doa yang diulang meski yang didoakan terasa telah mati.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa melankolis, reflektif, dan sunyi, dengan nada pasrah yang tenang namun menyimpan kepedihan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa hidup kerap memaksa manusia berkompromi, dan tidak semua jalan yang direncanakan dapat ditempuh. Namun, puisi—atau kesadaran akan makna—tetap memiliki fungsi penting: bukan untuk mengubah dunia, melainkan untuk mengubah cara manusia memandang dunia dan dirinya sendiri.
Puisi “Sore di Balkon” karya Bob Anwar adalah potret jujur tentang generasi yang tumbuh dengan idealisme, lalu berhadapan dengan kenyataan. Tanpa nada heroik atau ratapan berlebihan, puisi ini mengajak pembaca berdamai dengan pilihan hidupnya masing-masing. Pada akhirnya, seperti yang ditegaskan di larik penutup, puisi mungkin tak mengubah dunia—namun ia tetap mengubah cara kita melihatnya.