Terjepit
Di saat sendiri, dalam ruang sempitnya rasa
Aku terhimpit dan terjepit
Namun aku tak menjerit
Merasa sendiri, namun tak sepi
Aku dengan perasaanku sedang berperang, tentang memiliki atau hanya sekadar mengenal perempuan berkerudung itu
Kami saling mengayunkan pedang, sampai darahku di jantung menetes
Sakit rasanya tikaman pedang perasaan itu membuat jantungku robek
Lalu aku tersungkur dan tertawa
Hahahaha...
Mengapa mengenalmu harus ada rasa sakit?
Tanyaku pada ruang sempit itu
Cicak mengejekku dengan menggoyangkan ekornya
Aku ingin menangkapnya, namun cepat menghindar dari tanganku
Begitupun dengan rasaku aku kembali tenang lagi
Aku harus tidur rasanya
2025
Analisis Puisi:
Puisi “Terjepit” karya Okto Son menghadirkan potret konflik batin seseorang yang terperangkap dalam ruang perasaan yang sempit. Dengan bahasa lugas dan metafora keras, puisi ini mengekspresikan pergulatan emosi antara hasrat memiliki dan kesadaran untuk menjaga jarak. Ruang fisik yang sempit berkelindan dengan ruang psikologis yang menekan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah konflik batin akibat perasaan cinta yang tidak tuntas, serta keterjepitan emosional antara keinginan dan realitas.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa terhimpit dan terjepit dalam kesendirian. Ia tidak menjerit, tetapi mengalami perang batin yang sengit dalam dirinya sendiri. Perang tersebut berpusat pada dilema: ingin memiliki atau hanya mengenal seorang perempuan berkerudung.
Pergulatan ini digambarkan seperti duel pedang yang berujung pada luka di jantung. Setelah rasa sakit mencapai puncaknya, penyair justru tertawa dan mempertanyakan mengapa mengenal seseorang harus disertai rasa sakit. Adegan kecil dengan cicak yang mengejek menjadi cermin dari ketidakberdayaan perasaan yang tak bisa digenggam. Puisi ditutup dengan keinginan untuk tidur—sebuah bentuk pelarian dan penerimaan sementara.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah gambaran bahwa mengenal dan mencintai seseorang kerap menghadirkan luka batin, terutama ketika perasaan itu tidak menemukan kepastian. Keterjepitan bukan hanya berasal dari orang lain, melainkan dari konflik internal yang tak terselesaikan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa ketenangan kadang datang bukan dari kemenangan, melainkan dari kelelahan emosional dan penerimaan atas batas diri.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa tekan, gelisah, dan intens, namun perlahan mereda menjadi tenang dan pasrah di bagian akhir.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa perasaan tidak selalu bisa dimenangkan atau dikuasai. Ada saatnya manusia harus menerima luka sebagai bagian dari proses mengenal diri dan orang lain, lalu memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk beristirahat.
Puisi “Terjepit” karya Okto Son adalah ungkapan jujur tentang luka emosional yang lahir dari perasaan yang tak menemukan kepastian. Dengan bahasa langsung dan metafora keras, puisi ini menghadirkan pengalaman batin yang dekat dengan keseharian pembaca: mencintai, terluka, lalu belajar menenangkan diri. Puisi ini menunjukkan bahwa keterjepitan terbesar sering kali bukan pada keadaan, melainkan pada perasaan sendiri.
