Analisis Puisi:
Puisi “Ziarah pada Tubuh Sendiri” karya Dorothea Rosa Herliany menghadirkan pengalaman spiritual yang tidak lazim: ziarah bukan ke makam, tempat suci, atau simbol eksternal, melainkan ke tubuh dan batin sendiri. Dengan bahasa yang keras, simbolik, dan sarat citra religius, puisi ini menyingkap pergulatan antara iman, luka, kekerasan, dan kemanusiaan.
Dorothea tidak menawarkan doa yang manis atau religiositas yang tenang, melainkan sebuah perjalanan batin yang penuh darah, tudingan, dan kesunyian kata.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ziarah batin dan pencarian iman melalui tubuh yang terluka. Puisi ini juga memuat tema kekerasan simbolik, penghakiman, serta pertentangan antara iman dan dogma.
Selain itu, terlihat pula tema pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan, terutama dalam gambaran anggur yang dibagikan kepada musafir yang dahaga.
Puisi ini bercerita tentang seorang aku-lirik yang mengalami kekerasan simbolik melalui “pedang”, sebuah lambang kuasa, hukum, atau tafsir iman yang menghakimi. Pedang itu membelah anggur—yang biasanya melambangkan kehidupan, darah, atau berkah—dan dari sana mengalir “darah dari jantung matahari”.
Aku-lirik berusaha mengumpulkan kata-kata dari rintihan, menuliskannya dalam kitab, namun kitab itu “tak dibaca-baca”. Ia dituding zina, disamakan dengan borok dan ulat pada tubuh para pengemis, hingga akhirnya “terbunuh dalam sebait mazmur yang tak ditembangkan”.
Pada bagian akhir, aku-lirik memilih berziarah ke dirinya sendiri, ketika doa kehilangan kata-kata, tetapi iman justru menjelma luas dan dalam.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap iman yang kering dan menghakimi, yang lebih sibuk menuding dosa daripada merawat luka manusia. “Pedang” dapat dibaca sebagai simbol kekuasaan moral, tafsir agama, atau sistem sosial yang menghakimi tubuh dan pengalaman personal.
Kitab yang “tak dibaca-baca” menyiratkan bahwa teks suci atau kata-kata kebenaran kehilangan makna ketika tidak dihidupi dengan empati. Tuduhan zina, ulat, dan borok mencerminkan stigma sosial terhadap tubuh—terutama tubuh yang dianggap menyimpang atau najis.
Ziarah pada tubuh sendiri menjadi bentuk perlawanan sunyi: ketika dunia menolak, iman justru tumbuh dari dalam, bukan dari pengakuan luar.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung gelap, getir, dan intens, terutama pada bagian awal dan tengah. Luka, darah, tudingan, dan kematian simbolik menciptakan nuansa kekerasan batin yang kuat.
Namun pada bagian akhir, suasana bergeser menjadi hening dan reflektif, ketika aku-lirik menerima kebisuan doa dan menemukan keluasan iman.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk memaknai iman secara lebih manusiawi dan personal. Puisi ini menegaskan bahwa iman tidak selalu lahir dari kepatuhan buta atau penghakiman, melainkan dari keberanian menghadapi luka, kesunyian, dan tubuh sendiri.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa ketika kata-kata habis, iman sejati justru dapat tumbuh menjadi sesuatu yang luas, mendalam, dan membebaskan.
Puisi “Ziarah pada Tubuh Sendiri” karya Dorothea Rosa Herliany adalah puisi perlawanan batin yang menolak iman yang kaku dan menghakimi. Melalui luka, darah, dan kesunyian, penyair menunjukkan bahwa tubuh bukan sumber dosa, melainkan ruang ziarah—tempat iman diuji, diruntuhkan, lalu dibangun kembali dengan cara yang lebih luas dan manusiawi. Puisi ini mengajak pembaca untuk berani masuk ke dalam dirinya sendiri, bahkan ketika kata-kata telah habis.

Puisi: Ziarah pada Tubuh Sendiri
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Biodata Dorothea Rosa Herliany:
- Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
- Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.