Oleh Nailah Surfi Irawan
Ulakan adalah sebuah daerah yang terletak di kota Padang Pariaman, Sumatera Barat. Daerah ini menyimpan akan kekayaan kuliner tradisionalnya tersendiri sehingga menjadi kebanggaan lokal masyarakat setempat. Rakik Udang, Udang Batusuak, Rakik Kapitiang dan Sala lauak adalah oleh-oleh khas yang terkenal dan menjadi identitas di daerah Ulakan. Makanan ringan ini bukan hanya sekedar cemilan saja, melainkan menjadi simbol cita rasa yang otentik, karena resepnya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Rakik Udang adalah salah satu makanan favorit para wisatawan yang berkunjung ke Masjid Syekh Burhanuddin, selain cita rasanya yang unik, proses pembuatannya juga berbeda dengan makanan yang lain.
Walaupun proses pembuatan Rakik udang ini berbeda dengan makanan yang lainnya, akan tetapi bahan yang digunakan tetap sama. Bahan utama dan bahan yang paling penting dari pembuatan rakik udang ini adalah tepung beras. Biasanya dengan 3 tepung beras dapat menghasilkan 50 lebih rakik udang dan 3 jenis makanan lainnya. Resep yang digunakan tetap sama dari tahun ke tahun, tanpa adanya perubahan untuk menjaga cita rasa yang otentik. Adapun bahan atau bumbu yang digunakan dalam pembuatan rakik udang yaitu tepung beras, bawang putih, kunyit, supadeh, daun bawang, dan cabai.
Prose pembuatan tiap makanan sama, akan tetapi berbeda dengan rakik udang yang mempunyai cetakan khusus berbentuk bulat, yang terbuat dari seng atau disebut dengan seng plat. Tepung beras dan adonan bumbu lainnya disatukan ke dalam satu wadah, lalu diaduk dengan merata. Udang segar yang sudah disiapkan langsung dicelupkan ke adonan tanpa direbus atau diberi bumbu pada udang. Lalu udang yang sudah tercampur pada adonan di tuangkan ke dalam alat cetakan yaitu seng plat, dan digoreng sebentar saja, karena ketika ada orang yang ingin membeli rakik udang, maka akan digoreng kembali. Tujuannya agar rakik udang dimakan dalam keadaan yang masih panas. Ini adalah proses pembuatan yang efisien dan dapat menjaga tekstur udang agar tetap renyah dan lezat. Setiap pedagang memiliki variasi dalam proses pembuatan, tergantung pada skil dan teknik pembuatannya, sehingga rasanya bisa berbeda beda akan tetapi bahan pembuatannya tetaplah sama.
Selain sebagai cemilan ataupun oleh-oleh, rakik udang juga bisa dijadikan sebagai lauk pendamping nasi, rasanya akan lebih lezat lagi ketika ditambahkan dengan sambal ataupun cabe. Rakik udang bukan hanya sebagai cemilan biasa, melainkan bisa sebagai hidangan yang bisa mengangkat suasana makan siang atau sore hari lebih bertambah.
Rakik udang dijual dengan harga yang sangat terjangkau, dengan uang Rp 10.000 kita bisa mendapatkan 3 rakik udang. Harga ini sama untuk jenis makanan yang serupa seperti udang batusuak dan rakik kapitiang. Sedangkan untuk penjualan sala lauak lebih murah, yaitu dengan harga Rp 500 perak tiap satunya. Penjualan tiap harinya tidaklah sama, terkadang bisa habis ataupun tersisa di hari itu. Jika pada hari itu tidak habis terjual, maka rakik udang dan makanan lainnya bisa disimpan pada kulkas untuk penjualan di hari berikutnya, dan untuk ketahanannya bisa bertahan selama 1 minggu. Akan tetapi menurut pedagang, dalam 1 minggu itu pasti habis, karena makanan ini banyak diminati oleh para pelanggan, baik pelanggan setempat ataupun pelanggang yang datang dari luar Ulakan untuk berkunjung.
Penjualan rakik udang, udang batusuak, rakik kapitiang dan sala lauak ini dapat mengalami peningkatan yang signifikan ketika pada hari-hari tertentu, biasanya lebih laris terjual ketika memasuki bulan puasa atau biasanya masyarakat daerah setempat menyebutnya dengan “Bulan Lamang”. Pada hari inilah biasanya para pedagang memasak rakik udang, udang batusuak, rakik kapitiang dan sala lauak dimasak dengan jumlah yang banyak. Pada hari-hari biasa menggunakan 3 tepung beras, akan tetapi pada bulan lamang ini bisa mencapai 10 tepung beras yang digunakan untuk memenuhi permintaan wisatawan yang selalu ramai berdatangan, dan dibantu dengan banyaknya pengunjung yang datang dari berbagai daerah untuk berziarah ke masjid Syekh Burhanuddin.
Menurut para pedagang yang berjualan rakik udang, udang batusuak, rakik kapitiang dan sala lauak, berdagang makanan ini bukan hanya sekedar pekerjaan sampingan saja, melainkan ini merupakan pekerjaan utama bagi mereka. Dengan berdagang ini, mereka merasa kebutuhan sehari-harinya sudah tercukupi hanya dengan berdagang makanan khas ini. Hal ini dapat membuktikan bahwa permintaan pasar terhadap oleh-oleh khas Nagari Ulakan ini selalu tinggi dan setiap minggunya pasti selalu habis terjual.
Meskipun rakik udang dan makanan ringan lainnya memiliki cita rasa yang istimewa, akan tetapi dalam kebutuhan pangan, makananan ini hanya untuk diperjual belikan kepada pelanggan harian saja, makanan ini tidak tersedia pada acara-acara penting seperti pernikahan ataupun acara mendo’a.
Penjualan rakik udang bukanlah hanya tentang soal rasa, melainkan tentang warisan budaya masyarakat setempat. Terutama dari proses pembuatannya yang menggunakan bahan bahan lokal seperti tepung beras, kunyit, supadeh dan bahan lainnya, ini dapat mencerminkan kesederhanaan hidup di Nagari Ulakan Padang Pariaman. Dengan demikian, kuliner tradisional ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi para pedagang setempat, melainkan menjadi jembatan untuk memperkenalkan kekayaan akan budaya Sumatera Barat kepada dunia luar. Para wisatawan juga dapat berkunjung untuk membeli oleh-oleh khas Nagari Ulakan ini, sehingga dapat membantu melestarikan tradisi agar tetap terus berlanjut dari generasi ke generasi. Hal ini juga dapat mendukung perekonomian lokal yang bergantung pada warisan kuliner ini.
Pada era globalisasi saat ini, makanan lokal seperti rakik udang berperan penting dalam menjaga identitas budaya lokal, terutama di tengah arus masuknya makanan-makanan modern dari luar. Di masa depan yang akan datang, diharapkan bahwa kuliner lokal ini bisa dikembangkan lebih dalam melalui promosi lewat media digital atau ikut serta dalam acara festival makanan, sehingga lebih banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia atau bahkan mancanegara dapat mengenal dan mencoba cita rasa makanan yang otentik dari Nagari Ulakan Padang Pariaman.
Biodata Penulis:
Nailah Surfi Irawan saat ini aktif sebagai mahasiswa, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, di Universitas Andalas.