Sajak Sepasang Kekasih di Gerbang Kota
Bila engkau menungguku di gerbang kota, kekasih
Aku akan datang bersama kilau hujan di rambutku
Menghitung detak waktu yang beku dalam ingatan
Kematian untuk tanah air, merdeka di genggaman
Bila engkau menungguku di gerbang kota, kekasih
Akan kubawa kenangan sekental sumpah suci
di tubuhku, berlama-lama aku menanti janji
tapi kejujuran pudar pelan pelan, kita cuma diam
Kini aku menunggumu di gerbang kota, kekasih
Manusia makin bergeser dari kiblat, negeri kita
serupa kolase retak, kita tetap selingkuhi bayang
menua bersama negeri yang kian berdarah
Sumpah berseliweran di udara
menggema di lorong langit, anyir dusta
; aku menunggu di gerbang kota, kekasih
2014
Sumber: Media Indonesia (25 Januari 2015)
Analisis Puisi:
Puisi "Sajak Sepasang Kekasih di Gerbang Kota" menciptakan atmosfer romantis dan melankolis sekaligus merenungkan kondisi sosial dan politik. Dengan pilihan kata yang hati-hati, penyair memberikan gambaran yang mendalam tentang perasaan cinta dan kerinduan, sambil menyelipkan refleksi tentang keadaan negeri dan kejujuran.
Kilau Hujan di Rambut: Imaji kilau hujan di rambut menciptakan gambaran keindahan dan kemurnian. Hujan seringkali dianggap sebagai elemen pembersih, dan kilauannya memberikan nuansa kesegaran dan kebersihan pada perasaan cinta.
Detak Waktu yang Beku: Detak waktu yang beku menciptakan atmosfer melankolis dan keheningan. Ini bisa diartikan sebagai perasaan menunggu yang panjang dan sulit, atau mungkin merujuk pada keadaan politik yang membeku.
Sumpah Suci dan Kejujuran yang Pudar: Kontras antara sumpah suci dan pudarnya kejujuran menciptakan ketegangan dalam hubungan. Ini bisa mencerminkan perubahan dan tantangan yang dihadapi oleh sepasang kekasih seiring waktu.
Negeri yang Kian Berdarah: Gambaran negeri yang kian berdarah menyelipkan dimensi politik ke dalam puisi. Ini bisa diartikan sebagai gambaran keadaan sosial dan politik yang sulit dan penuh konflik.
Sumpah Berseliweran di Udara: Penggambaran sumpah yang berseliweran di udara menunjukkan ketegangan dan konflik di lingkungan sekitar. Ada nuansa ketidakstabilan dan mungkin pemberontakan dalam suasana puisi.
Aku Menunggu di Gerbang Kota: Baris terakhir menjadi penegasan dari perasaan menunggu dan kesetiaan. Meskipun ada konflik dan keretakan, kekasih tetap menunggu di gerbang kota, menciptakan aura harapan dan keteguhan.
Puisi "Sajak Sepasang Kekasih di Gerbang Kota" adalah puisi yang menyentuh dengan menyatukan keindahan cinta dengan refleksi sosial dan politik. Melalui simbolisme dan imajinatif, penyair menggambarkan perasaan, tantangan, dan harapan sepasang kekasih dalam menghadapi kehidupan yang sulit. Puisi ini memberikan lapisan makna yang dalam dan menantang pembaca untuk merenungkan tentang hubungan manusia, keadaan negeri, dan perjuangan cinta yang abadi.
Karya: Weni Suryandari
Biodata Weni Suryandari:
- Weni Suryandari lahir pada tanggal 4 Februari 1966 di Surabaya, Indonesia.
