Oleh Nuriyatin Fighya
Kalau kamu pernah melewati jalur Selo, jalur legendaris di antara Merapi–Merbabu yang sejuknya menusuk tapi nagih, kamu pasti tahu satu hal: hampir mustahil lewat sini tanpa tergoda berhenti di warung sate kelinci. Entah karena aroma bakarnya yang menggoda atau karena angin gunung yang membuat perut merasa kosong lebih cepat, Sate Kelinci Selo selalu berhasil bikin wisatawan ngerem mendadak.
Aroma yang Menyapa dari Jauh
Belum duduk saja, hidungmu sudah lebih dulu menerima salam dari asap sate yang dibakar perlahan. Bau manis dari bumbu kecap, gurihnya rempah, dan wangi arang bercampur jadi satu—kombinasi yang langsung bikin kamu mikir, “Sebentar aja deh, makan dulu.”
Warung-warung di Selo biasanya sederhana: meja kayu, bangku panjang, dan dapur kecil dengan tungku arang yang terus menyala. Justru kesederhanaan itu yang bikin makanannya kerasa tulus.
Tekstur Dagingnya Juara
Buat yang belum pernah coba sate kelinci, banyak yang kaget karena rasanya nggak jauh beda dari ayam, tapi lebih lembut dan lebih mudah mengunyah. Rempahnya meresap sampai ke serat-serat dagingnya, terutama kalau kamu pesan yang versi pedas-manis.
Disajikan panas—kadang masih bunyi “cesss” dari lemak yang menetes—sate kelinci Selo punya gaya penyajian yang khas: seporsi sate, sambal kecap yang medok, plus lalapan segar yang dinginnya cocok sama udara pegunungan.
Angin Selo Membuat Segalanya Lebih Enak
Makan sate di kota dan makan sate di Selo itu rasanya beda. Bukan hanya soal bumbu, tapi suasananya. Dari tempat makan, sering kali kamu bisa lihat siluet Merapi dari satu sisi dan Merbabu di sisi lain. Udara dingin yang menusuk justru bikin makanan terasa dua kali lebih nikmat. Bahkan teh panas di sini punya rasa yang entah kenapa lebih mendamaikan.
Berhenti Sebentar, Pulang dengan Cerita
Makanya, para pendaki, pesepeda, sampai rombongan keluarga sering berhenti sebentar di Selo. Ada yang baru turun gunung dan butuh tenaga, ada yang cuma lewat tapi ingin isi bensin—bukan ke motor, tapi ke perut. Dari anak-anak sampai orang tua, semua cocok dengan menu yang sederhana tapi memorable ini.
Di Boyolali, sate kelinci bukan sekadar makanan tetapi adalah ritual kecil sebelum melanjutkan perjalanan, bagian dari pengalaman melintasi jalur Selo yang dingin, cantik, dan penuh cerita.
Sate Kelinci Selo, Kuliner yang Layak Ditandai
Kalau kamu lewat Boyolali dan mau merasakan makanan yang rasanya nempel sampai rumah, berhenti sebentar di Selo itu wajib. Jangan heran kalau akhirnya kamu ketagihan dan tiap lewat langsung nyari asap bakar di pinggir jalan.
Karena ada beberapa kuliner yang enaknya bukan cuma dari rasa, tapi dari suasana di sekelilingnya. Dan Sate Kelinci Selo punya keduanya.
Biodata Penulis:
Nuriyatin Fighya saat ini aktif sebagai mahasiswa dan bisa disapa di Instagram @n.fghyaa