Ada Daun Gugur
lalu i’tibar itu berserakan: keserakahan, peperangan, daun gugur
yang menguning, dan hujan yang ungu dan air sungai yang kelabu
dan awan yang menebar bianglala di mana-mana... di mana-mana
seekor capung sekarat di ujung lalang; sekali ia menyebutmu:
penyair, lalu diam, kau ambil sayapnya, untuk kau tenun
menjadi jubahmu, alangkah indah bekas-bekas tanganmu, penyair
lihatlah hari-hari maha karya direjang seloka waktumu
dan, demi waktu, ujarmu di antara desau arus sungai
aku ada di tebing, di lunas, dan di riam-riamnya
hari pun lingsir
aku menggigil
"Demi Waktu," ujarmu lagi, tapi alangkah fasih diam ini
jendela yang kacanya ditempias hujan jadi berlinangan
suara seloka kita kau biarkan hanyut ke muara
di tengah sungai, sebentar nanti perahumu akan milir di sini
kunanti dikau menyapa oleng lanting-ku: lalu aku tersipu
aku sudah mengawini kesunyianmu, ujarku, ketika
seloka belum selesai kueja
lalu waktu pun binasa
Analisis Puisi:
Puisi “Ada Daun Gugur” karya Ajamuddin Tifani menampilkan perenungan yang padat dan simbolik tentang waktu, kesunyian, dan tanggung jawab batin seorang penyair dalam membaca tanda-tanda kehidupan. Puisi ini bergerak di antara kesadaran sosial, spiritual, dan estetika bahasa, dengan larik-larik panjang yang membentuk alur refleksi mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perenungan tentang waktu, kefanaan, dan kesadaran moral manusia, terutama dalam kaitannya dengan peran penyair sebagai saksi zaman. Waktu hadir sebagai kekuatan yang menghakimi, mengalir, sekaligus membinasakan.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang menyaksikan berbagai tanda kehidupan: keserakahan, peperangan, alam yang berubah warna, hingga kesunyian yang menyelimuti relasi antara aku dan sosok “penyair”. Dalam alur ini, waktu menjadi poros utama—mengalir di sungai, merayap dalam hari yang lingsir, dan akhirnya “binasa” setelah seluruh kesadaran ditumpahkan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menyingkap kritik terhadap manusia—khususnya kaum intelektual atau penyair—yang kerap memanfaatkan penderitaan dan kerusakan sebagai bahan estetika tanpa sepenuhnya memikul tanggung jawab moralnya. Adegan capung sekarat yang sayapnya diambil untuk ditenun menjadi jubah menyiratkan ironi: keindahan puisi lahir dari luka dan kematian. Selain itu, sumpah “demi waktu” merujuk pada kesaksian spiritual bahwa waktu adalah saksi atas segala perbuatan dan keheningan manusia.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana muram, reflektif, dan getir. Nuansa kesunyian semakin kuat menjelang akhir puisi, ketika diam justru menjadi bahasa paling fasih, dan waktu digambarkan sebagai sesuatu yang telah hancur setelah segala makna dicurahkan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari bahwa waktu, kata-kata, dan keindahan tidak bebas dari tanggung jawab etis. Penyair—dan manusia pada umumnya—dituntut untuk jujur pada penderitaan yang disaksikannya, tidak sekadar mengolahnya menjadi seloka yang indah tetapi kosong makna kemanusiaan.
Puisi “Ada Daun Gugur” karya Ajamuddin Tifani merupakan puisi reflektif yang menantang pembaca untuk menafsir ulang hubungan antara kata, waktu, dan tanggung jawab moral. Dengan bahasa yang simbolik dan imaji yang kuat, puisi ini tidak hanya menghadirkan keindahan estetis, tetapi juga kegelisahan etis—bahwa setiap seloka yang lahir dari waktu akan selalu dimintai pertanggungjawaban.
Puisi: Ada Daun Gugur
Karya: Ajamuddin Tifani
Biodata Ajamuddin Tifani:
- Ajamuddin Tifani lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 23 September 1951.
- Ajamuddin Tifani meninggal dunia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 6 Mei 2002.
