Puisi: Adakah Mentari di Kulit Manis (Karya Jang Sukmanbrata)

Puisi “Adakah Mentari di Kulit Manis” bercerita tentang seseorang yang menyapa sosok “kau” dengan penuh kelembutan dan kekaguman. Sosok ini ...

Adakah Mentari di Kulit Manis


masih adakah cinta di gelombang hidupmu, laut pasang di tengah malam,
cakrawala bergetar melihat senyuman,
hitam matamu - jalan setapak gunung,
aku lalai memindahkan wajah tirus ke kanvas baru, berwarna lebih putih
dari kanvas idaman pelukis klasik
dan pelukis akademik di masa krisis.
Tak usah ragu dan takut mengadu, pembiaran hutan diganti kebun sawit
tak menggeser patok-patok leluhur suci,
toh tubuhmu melingkariku bak ular, ramah, pemurah, tak bersisik dan manis
apalagi gerimis, sedang di kaki pelangi lidahmu mengunci,
tak segaris pun sepi.
Siutan angin teramat setia di ranting
Jadi, peluklah aku, dingin akan mengerdil dengan sukacita, kematian pun kukenali,
toh anak-anak bermain dan bernyanyi
di tanah air,
tengah ilalang kering
di hati bening.

sekarang aku di ujung kilauan rambut,
adakah kasih sayang seliat bambu,
rendaman lumpur,
dan jadi teguh,
tak akan rapuh
juga pantang mengeluh:
Hidup adalah pembuatan buku,
: kemarilah sayang, lihat tanganku membentang dari barat ke timur jauh
Yup lipatan hening terbang di pohon-Mu

Bukit Ngamprah, 2 Juni 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Adakah Mentari di Kulit Manis” bergerak dalam lanskap bahasa yang lirih, metaforis, dan kaya citraan alam. Jang Sukmanbrata merangkai cinta, tubuh, alam, dan sejarah kolektif ke dalam satu tarikan napas panjang. Puisi ini tidak berdiri sebagai ungkapan cinta personal semata, melainkan sebagai perenungan tentang kasih, keteguhan, dan harapan di tengah dunia yang rapuh dan terus berubah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang menyatu dengan alam dan keteguhan hidup. Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema keberlanjutan, ingatan leluhur, dan harapan akan kasih yang tetap tegak di tengah krisis—baik krisis kemanusiaan, lingkungan, maupun batin.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyapa sosok “kau” dengan penuh kelembutan dan kekaguman. Sosok ini digambarkan melalui metafora laut, gunung, hutan, bambu, dan pelangi. Di tengah gambaran cinta yang intim, terselip refleksi tentang pembiaran hutan yang diganti kebun sawit, patok leluhur, serta anak-anak yang bermain di tanah air. Cinta personal dan realitas sosial berjalan berdampingan, saling meneguhkan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah pencarian kasih sayang yang tidak rapuh oleh perubahan zaman. Pertanyaan “adakah mentari di kulit manis” dapat dibaca sebagai pencarian cahaya, harapan, dan ketulusan dalam diri manusia dan kehidupan itu sendiri. Keteguhan seperti bambu—lentur namun tidak patah—menjadi simbol kasih yang ideal: tahan uji, tidak mengeluh, dan tetap berdiri meski direndam lumpur kehidupan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa lirih, hangat, dan kontemplatif. Ada kelembutan cinta, ketenangan penerimaan, serta optimisme sunyi yang mengalir pelan namun menetap.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk merawat cinta, harapan, dan kehidupan dengan keteguhan serta kesadaran ekologis dan kemanusiaan. Kasih sayang yang sejati bukan sekadar perasaan, melainkan daya hidup yang mampu bertahan, menumbuhkan, dan memberi makna, bahkan di tengah krisis dan dingin dunia.

Puisi “Adakah Mentari di Kulit Manis” adalah puisi yang kaya bahasa dan makna. Jang Sukmanbrata menghadirkan cinta sebagai energi yang menyatu dengan alam, sejarah, dan harapan kolektif—sebuah cinta yang lentur seperti bambu, bening di hati, dan tetap menyimpan mentari di balik segala gelombang kehidupan.

Puisi Jang Sukmanbrata
Puisi: Adakah Mentari di Kulit Manis
Karya: Jang Sukmanbrata

Biodata Jang Sukmanbrata:
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.

Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.

Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.

Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
© Sepenuhnya. All rights reserved.