Puisi: Aku di Punggung Patung Kerbau (Karya Toto ST Radik)

Puisi "Aku di Punggung Patung Kerbau" karya Toto ST Radik bercerita tentang seseorang yang mendengar kisah manis mengenai kampung yang subur, namun ..
Aku di Punggung Patung Kerbau

Selalu engkau bercakap tentang kampung yang subur
tetapi yang berhamburan dari mulutmu ialah kawanan
tikus pemusnah sawah. Cangkul dan bajak dan kerbau
mengubah diri menjadi batu. Menjadi patung

Aku di punggung patung kerbau
meniup seruling dengan airmata
: lagu perih yang penghabisan

Senja pun bergegas
dan langit kehilangan bulan.

Serang, 25 April 1996

Sumber: Indonesia Setengah Tiang (1999)

Analisis Puisi:

Puisi "Aku di Punggung Patung Kerbau" karya Toto ST Radik menampilkan lanskap pedesaan yang tidak lagi hidup sebagaimana mestinya. Melalui diksi-diksi simbolik dan citraan yang suram, penyair menghadirkan kritik sosial yang dibungkus dalam bahasa puitik. Kerbau, sawah, cangkul, dan bajak—unsur yang lazim melambangkan kesuburan—justru dihadirkan sebagai sesuatu yang beku dan kehilangan daya hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemerosotan kehidupan agraris dan kepalsuan wacana tentang kesuburan. Puisi ini juga memuat tema keterasingan, kehancuran harapan, serta ironi antara kata-kata dan kenyataan dalam kehidupan sosial pedesaan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mendengar kisah manis mengenai kampung yang subur, namun kenyataan yang muncul justru kehancuran. Dari “mulut” yang berbicara tentang kesuburan, yang keluar hanyalah “kawanan tikus pemusnah sawah”. Alat-alat pertanian dan kerbau—penopang hidup petani—berubah menjadi batu dan patung, menandakan berhentinya denyut kehidupan. Di atas punggung patung kerbau itu, seseorang hadir sebagai sosok yang memainkan seruling sambil menangis, melantunkan lagu perih terakhir.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap retorika kosong dan ketidakjujuran sosial. Kampung yang “subur” hanya hidup dalam ucapan, sementara kenyataan dipenuhi kehancuran dan hama. Perubahan cangkul, bajak, dan kerbau menjadi patung melambangkan stagnasi: kerja, tenaga, dan tradisi agraris tidak lagi berfungsi.

Penyair meniup seruling di atas patung kerbau dapat dimaknai sebagai suara kesedihan, protes, atau ratapan terakhir dari manusia yang terjebak dalam sistem yang telah mati, tetapi masih dipertontonkan seolah hidup.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, getir, dan penuh kepedihan. Kesedihan memuncak pada larik “meniup seruling dengan airmata” dan semakin dipertegas oleh penutup puisi: senja yang bergegas dan langit yang kehilangan bulan, menghadirkan kesan hilangnya cahaya dan harapan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah peringatan agar tidak terjebak pada romantisme dan kata-kata kosong tentang kesejahteraan. Puisi ini mengajak pembaca untuk melihat kenyataan secara jujur, serta menyadari bahwa ketika alam, kerja, dan manusia dibekukan oleh kebohongan atau ketidakpedulian, yang tersisa hanyalah ratapan.

Puisi "Aku di Punggung Patung Kerbau" adalah puisi kritik sosial yang kuat dan lirih. Toto ST Radik menghadirkan ratapan tentang dunia agraris yang membeku, di mana harapan tinggal lagu perih yang ditiupkan dengan air mata, tepat sebelum cahaya benar-benar menghilang.

"Puisi Toto ST Radik"
Puisi: Aku di Punggung Patung Kerbau
Karya: Toto ST Radik

Biodata Toto ST Radik:
  • Toto Suhud Tuchaeni Radik lahir pada tanggal 30 Juni 1965 di desa Singarajan, Serang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.