Aku Ingat Suatu Kali
aku ingat suatu kali engkau berkata datanglah kembali ke rumah tua itu mematah-matah ranting memungut daun-daun berserakan di halamannya kanak-kanak bersorak di kejauhan melantunkan sajak dan irama tak lagi terbaca oleh bahasa melayang ke sawang pecah dalam semak-semak cuaca
aku ingat suatu kali engkau pun berkata pandanglah langit tak habis-habisnya menyelam ke dalam laut tenteram dengan segala apa yang masih jadi rahasia
aku pun masih ingat ketika engkau berkata tataplah manusia
10 Oktober 2002
Analisis Puisi:
Puisi “Aku Ingat Suatu Kali” karya Damiri Mahmud menghadirkan pengalaman ingatan yang tidak sekadar nostalgik, melainkan reflektif. Ingatan dalam puisi ini tidak berdiri sebagai arsip masa lalu, tetapi sebagai ruang perenungan: tentang rumah, alam, bahasa, dan manusia. Penyair mengajak pembaca menyusuri fragmen-fragmen kenangan yang terasa lirih, personal, sekaligus universal.
Puisi ini bergerak melalui kalimat-kalimat panjang tanpa tanda baca yang ketat, menciptakan kesan mengalir, seolah-olah ingatan itu datang tanpa bisa ditahan, seperti arus kesadaran.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah ingatan dan pencarian makna hidup melalui alam, bahasa, dan kemanusiaan. Ingatan tidak hanya berfungsi sebagai kenangan personal antara “aku” dan “engkau”, tetapi juga sebagai medium untuk meninjau ulang relasi manusia dengan rumah asal, dengan alam semesta, serta dengan sesama manusia.
Tema ini juga bersinggungan dengan kerinduan akan keutuhan makna, ketika bahasa, alam, dan manusia masih bisa dipandang dengan kesadaran penuh, sebelum segalanya terpecah oleh waktu dan kompleksitas hidup.
Makna Tersirat
Secara tersirat, puisi ini mengandung kritik halus terhadap keterputusan manusia modern dari makna asal. Rumah tua yang ditinggalkan, bahasa yang “tak lagi terbaca”, dan sajak yang pecah dalam cuaca, menandakan adanya jarak antara manusia dan akar pengalaman batinnya.
Ajakan untuk “datanglah kembali”, “pandanglah langit”, hingga “tataplah manusia” dapat dibaca sebagai proses pembelajaran eksistensial: manusia perlu kembali, merenung, dan akhirnya berani menatap dirinya sendiri serta sesamanya dengan jujur.
Makna tersirat lainnya adalah bahwa bahasa dan sajak tidak selalu mampu menampung sepenuhnya pengalaman hidup, sehingga sebagian makna hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana kontemplatif dan melankolis, namun tidak muram. Ada ketenangan yang lembut, disertai rasa rindu dan keheningan. Suasana tersebut diperkuat oleh pilihan diksi alam dan kenangan masa lalu yang tidak dihadirkan secara dramatik, melainkan mengalir perlahan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk kembali menyadari makna hidup melalui perhatian yang jujur terhadap sekitar: rumah, alam, dan manusia. Puisi ini seolah mengingatkan bahwa sebelum terlalu jauh melangkah, manusia perlu berhenti sejenak, mengingat, dan menatap ulang apa yang selama ini terlewatkan.
Puisi “Aku Ingat Suatu Kali” karya Damiri Mahmud bukan sekadar puisi kenangan, melainkan ruang refleksi tentang perjalanan batin manusia. Dengan bahasa yang tenang namun dalam, penyair mengajak pembaca untuk kembali, memandang, dan menatap—tiga tindakan sederhana yang menyimpan makna besar dalam memahami hidup.
Puisi: Aku Ingat Suatu Kali
Karya: Damiri Mahmud
Biodata Damiri Mahmud:
- Damiri Mahmud lahir pada tanggal 17 Januari 1945 di Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara.
- Damiri Mahmud meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 2019 (pada usia 74) di Deli Serdang, Sumatra Utara.