Puisi: Aku Kira (Karya Moh. Wan Anwar) Aku Kira aku kira lautan akan tetap saja lautan bila matamu curiga pada kehadiranku pada kapal yang lebih menaklukkan air mata pulau-pulau akan tetap…
Puisi: Lagu Pecinta Negeri (Karya Moh. Wan Anwar) Lagu Pecinta Negeri bayangan hitam berkelebat di luar rumah menciptakan getar aneh di cangkir kopi dan menggores huruf-huruf pada namaku seperti keri…
Puisi: Mataku Luka (Karya Moh. Wan Anwar) Mataku Luka mungkin kaulah yang membuat mataku luka sebelum mereka riuh mengibarkan kata-kata kaukirim aku sapu tangan untuk mengusap air mata dan ke…
Puisi: Un-Known Territory (Karya Arahmaiani) Un-Known Territory Telah kujalani Hal pantas dan tidak pantas Melawan aturan Melanggar larangan Menyalahgunakan pikiran Meninggalkan a…
Puisi: Ibu yang Tabah (Karya Joko Pinurbo) Ibu yang Tabah Ibu itu mengasuh anak-anaknya sendirian sejak suaminya dipinjam negara untuk dijadikan kelinci dalam percobaan sistem keamanan. S…
Puisi: Kenang-kenangan (Karya Andy Sri Wahyudi) Kenang-kenangan Pernah, ketika siang Ku menyapamu di sebuah kedai kecil Tempat biasa ku melepas rasa lelahku Kau tersenyum sambil berlalu…
Puisi: Teluk Parepare (Karya Tri Astoto Kodarie) Teluk Parepare dulu, tanganmu riang bercengkerama di sini jernih buih ombak dan camar yang menggerombol anginnya menjadi rumah bagi kehangatan nelaya…
Puisi: Wabah (Karya Dorothea Rosa Herliany) Wabah Selamping pundakmu damar melati. gemerincing merah saga mata tembaga pudar sehempas saja. Santa Maria! Di mana benteng it…
Puisi: Bidang Berkabut (Karya Juniarso Ridwan) Bidang Berkabut sebuah tempat tak bernama, bidang kosong berkabut. Ingat Mark Rothko *) dalam hari-hari sunyi kota besar. langit mempertontonkan warn…
Puisi: Demi Pendidikan Anak-anakku (Karya La ode Balawa) Demi Pendidikan Anak-anakku Demi pendidikan anak-anakku relakan aku pergi merantau melintasi tujuh pulau tujuh selat tujuh samudra demi pendidikan an…
Puisi: Doa (Karya W.S. Rendra) Doa Allah menatap hati. Manusia menatap raga. Hamba bersujud kepada-Mu, ya Allah! Karena hidupku, karena matiku. Allah Yang Maha Ben…
Puisi: Bolong (Karya Joko Pinurbo) Bolong Bahkan celana memilih nasibnya sendiri: ia pergi ke pasar loak justru ketika aku sedang giat belajar…
Puisi: Wajahmu (Karya Arahmaiani) Wajahmu Aku berdiri di persimpangan Aku menoleh Ke kanan Lalu ke kiri Tak begitu paham Arah mana harus berjalan Kamu Hadir tak t…
Puisi: Penumpang Terakhir (Karya Joko Pinurbo) Penumpang Terakhir untuk Joni Ariadinata Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak yang mangkal d…