Puisi: Aku Tidak Mengerti (Karya Abrar Yusra)

Puisi “Aku Tidak Mengerti” bercerita tentang seseorang yang merasa “mengerti” berbagai simbol dunia modern: merek, kantor, surat resmi, seragam, ...
Aku Tidak Mengerti

        Aku mengerti merek-merek toko, merek-merek
perkebunan dan industri walaupun tak bisa mem-
baca aksara Cina dan India
        Aku mengerti merek-merek kantor
Aku mengerti surat-surat resmi, pakaian seragam,
tanda-tanda pangkat
Seperti aku mengerti arti sebuah paspor, pintu hotel
        seorang hakim, pintu bui atau seberondong tembakan algojo
        Aku mengerti meski tak sepenuhnya mengerti dan memerlukannya!
        Dan itu membuatku termangu
di pantai Kuala Trengganu, Laut Cina Selatan biru
di senja lembab bau garam:

        Aku begitu sepi!

        Ada jejak-jejak seribu nelayan di pasir tabal putih basah ini
lalu jejak-jejak sepatu dan sapuan longdressmu
jejak sayup mobil sedanmu
menjelang malam hari

        Di pasir tabal putih basah ini
pun terbenam jejak-jejakku yang sepi dalam sepi
sebelum akhirnya hilang sebelum sepenuhnya di mengerti!

        Aku tidak mengerti kenapa seribu jejak nelayan
jejak sepatu dan sapuan longdressmu, jejak sayup mobil sedanmu
di pantai Kuala Trengganu
menyisakan sepi lebih sepi!

        Aku tidak mengerti. Barangkali takkan pernah aku mengerti.

24 Februari 1985

Sumber: Horison (Juli, 1989)

Analisis Puisi:

Puisi “Aku Tidak Mengerti” menghadirkan suara lirih seseorang yang terjebak di antara pemahaman formal tentang dunia modern dan ketidakmengertian eksistensial terhadap makna hidup itu sendiri. Abrar Yusra menyusun puisi ini dengan narasi reflektif yang panjang, repetitif, dan kontemplatif, sehingga pembaca diajak masuk ke dalam ruang kesadaran yang sepi dan gamang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan kegagalan memahami makna hidup secara utuh. Puisi ini juga menyentuh tema kritik terhadap modernitas, identitas, serta kesepian manusia di tengah sistem sosial yang tertata rapi namun dingin.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa “mengerti” berbagai simbol dunia modern: merek, kantor, surat resmi, seragam, paspor, hotel, hingga institusi hukum dan kekerasan negara. Namun, pemahaman tersebut bersifat mekanis dan dangkal. Di tengah semua itu, penyair justru mengalami kesepian yang mendalam ketika berada di Pantai Kuala Trengganu, menyaksikan jejak-jejak manusia yang perlahan lenyap ditelan waktu dan alam.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menegaskan ironi: semakin banyak hal yang “dimengerti” secara administratif dan simbolik, semakin besar ruang ketidakmengertian terhadap diri sendiri dan makna keberadaan. Jejak nelayan, sepatu, longdress, dan mobil sedan adalah simbol aktivitas manusia yang berlapis-lapis, namun semuanya bermuara pada kesepian yang sama. Ketidakmengertian di akhir puisi menandakan penerimaan akan keterbatasan manusia dalam memahami hidup sepenuhnya.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sunyi, melankolis, dan reflektif. Pantai, senja, dan bau garam memperkuat kesan kesendirian yang lembab dan menetap, seolah kesepian menjadi ruang batin yang tak terelakkan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah kesadaran bahwa pemahaman teknis dan simbolik tentang dunia tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman makna hidup. Puisi ini mengajak pembaca untuk rendah hati terhadap keterbatasan nalar dan berani mengakui ketidakmengertian sebagai bagian dari kemanusiaan.

Puisi “Aku Tidak Mengerti” adalah puisi reflektif yang kuat dan jujur. Abrar Yusra tidak menawarkan jawaban, melainkan mengajak pembaca tinggal sejenak dalam ketidakpastian dan kesepian, seraya menyadari bahwa mungkin memang ada hal-hal yang takkan pernah sepenuhnya dimengerti.

Abrar Yusra
Puisi: Aku Tidak Mengerti
Karya: Abrar Yusra

Biodata Abrar Yusra:
  • Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
  • Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.