Puisi: Alue Naga (Karya Mustafa Ismail)

Puisi “Alue Naga” karya Mustafa Ismail bercerita tentang situasi genting yang dihadapi sebuah komunitas atau “kita”, yang hidup di wilayah penuh ...
Alue Naga

Di jembatan Lamnyong kulihat matahari sudah condong ke barat
kau masih saja berpura-pura. Bermain dengan mimpi bagus
yang ditiupkan negeri jauh

Serangan demi serangan tak mungkin dielakkan
kita mesti bertahan
pada rumah yang dibangun dengan cinta dan pengorbanan
kuatkan tanganmu pada akar-akar pohon bakau
menghadapi setiap kemungkinan

hadapi ledakan demi ledakan dengan doa dan perjalanan
pada satu terminal akan kita temui sejarah yang tenggelam:
masa silam yang manis. Tanpa luka dan keresahan.

Banda Aceh, 28 September 1993

Sumber: Tarian Cermin (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Alue Naga” karya Mustafa Ismail menghadirkan refleksi tentang tanah, ingatan, dan keteguhan manusia menghadapi ancaman yang terus datang. Dengan latar geografis yang jelas—jembatan Lamnyong dan kawasan bakau—puisi ini tidak hanya berbicara tentang ruang fisik, tetapi juga ruang sejarah dan batin. Diksi yang digunakan cenderung lugas, namun sarat simbol dan makna kolektif.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketahanan, perjuangan, dan kesetiaan pada tanah serta sejarah. Puisi ini juga memuat tema ingatan kolektif, ancaman berulang, dan harapan akan masa depan yang lebih damai. Alam dan manusia hadir sebagai satu kesatuan yang saling menopang dalam menghadapi kemungkinan terburuk.

Puisi ini bercerita tentang situasi genting yang dihadapi sebuah komunitas atau “kita”, yang hidup di wilayah penuh sejarah dan potensi ancaman. Penyair berdiri di jembatan Lamnyong, menyaksikan matahari condong ke barat—sebuah penanda waktu dan perubahan—sementara orang yang diajak bicara masih “berpura-pura” dan memeluk mimpi yang berasal dari negeri jauh.

Di tengah serangan dan ledakan yang tak terelakkan, puisi ini mengajak untuk bertahan, berpegang pada rumah yang dibangun dengan cinta, serta menguatkan diri pada akar-akar bakau sebagai simbol ketahanan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa ancaman—baik berupa konflik, bencana, maupun tekanan dari luar—merupakan bagian dari sejarah yang harus dihadapi dengan kesadaran dan keteguhan. Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap sikap lalai dan mimpi semu yang membuat seseorang lupa pada realitas di sekitarnya.

Selain itu, terdapat makna tentang ingatan masa silam yang ideal, yang dikenang sebagai ruang tanpa luka, meski pada kenyataannya sejarah sering kali tidak sesederhana itu.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana tegang, waspada, namun tetap diiringi harapan. Ketegangan muncul melalui kata-kata seperti “serangan”, “ledakan”, dan “bertahan”, sementara nuansa harapan hadir lewat doa, perjalanan, dan bayangan masa silam yang manis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah pentingnya bertahan dan menjaga akar—baik akar sejarah, budaya, maupun kemanusiaan—di tengah berbagai ancaman. Puisi ini juga menyampaikan pesan agar tidak terbuai oleh mimpi yang menjauhkan manusia dari realitas dan tanggung jawab pada tanahnya sendiri.

Puisi “Alue Naga” karya Mustafa Ismail adalah puisi reflektif yang memadukan ruang geografis, sejarah, dan batin manusia. Ia tidak hanya mengingatkan pembaca pada luka dan ancaman yang pernah atau sedang terjadi, tetapi juga menegaskan pentingnya bertahan dengan cinta, doa, dan kesadaran sejarah. Sebuah puisi yang berbicara pelan, namun menyimpan daya gugah yang kuat.

Mustafa Ismail
Puisi: Alue Naga
Karya: Mustafa Ismail

Biodata Mustafa Ismail:
  • Mustafa Ismail lahir pada tanggal 25 Agustus 1971 di Aceh.
© Sepenuhnya. All rights reserved.