Anak-Anak Tembakau
kepada petani tembakau di madura
kami anak-anak tembakau
tumbuh di antara anak-anak batu
nafas kami bau kemarau campur cerutu
bila kami saling dekap,
kami berdekapan dengan tangan kemarau
bila kami saling cium,
kami berciuman dengan bau tembakau
langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menangis
sebab kulit kami tetap coklat
secoklat tanah
tempat kami menggali airmata sendiri
langit desa kami rubuh seribu kali
tapi kami tak pernah menyerah
pada setiap daun tembakau
kami urai urat hidup kami
pada setiap pohon tembakau
kami rangkai serat doa kami
2000
Sumber: Garam-Garam Hujan (Hikayat Publishing, 2004)
Analisis Puisi:
Puisi "Anak-Anak Tembakau" karya Jamal D. Rahman menghadirkan potret kehidupan anak-anak petani tembakau dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna. Melalui diksi yang membumi, penyair mengajak pembaca menyelami realitas keras yang tumbuh bersama tembakau, kemarau, dan tanah desa. Puisi ini bukan sekadar kisah tentang tanaman komoditas, tetapi juga tentang identitas, ketahanan hidup, dan martabat manusia yang lahir dari tanah kering.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketahanan hidup dan identitas sosial anak-anak petani tembakau di tengah kerasnya alam dan keterbatasan hidup. Tembakau tidak hanya hadir sebagai tanaman, tetapi sebagai simbol kehidupan yang membentuk tubuh, nafas, dan jiwa para tokohnya.
Puisi ini bercerita tentang anak-anak yang tumbuh di lingkungan desa tembakau—di antara “anak-anak batu” dan kemarau yang panjang. Mereka hidup berdampingan dengan kerasnya alam, tanah kering, dan langit desa yang “rubuh seribu kali”. Meski demikian, mereka tetap bertahan, bekerja, dan menggantungkan hidup pada daun tembakau yang mereka rawat seperti merawat diri sendiri.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa penderitaan dan kerja keras telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas anak-anak tembakau. Ungkapan “kami menggali airmata sendiri” menyiratkan kemandirian yang terpaksa: tidak ada ruang untuk mengeluh, karena hidup menuntut mereka untuk terus berdiri. Tembakau menjadi simbol perjuangan sekaligus harapan—tempat mereka “mengurai urat hidup” dan “merangkai serat doa”.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana keras, kering, dan getir, namun tidak putus asa. Ada nuansa keteguhan dan keheningan batin, seolah penderitaan telah diterima sebagai bagian dari kehidupan yang dijalani tanpa ratap dan tangis.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menghargai keteguhan hidup kaum kecil—khususnya anak-anak petani tembakau—yang tumbuh dalam keterbatasan namun tidak menyerah. Puisi ini juga menyiratkan kritik sosial: bahwa di balik industri dan konsumsi tembakau, ada kehidupan desa yang terus bertarung dengan alam dan nasib.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji penciuman dan visual, seperti:
- “nafas kami bau kemarau campur cerutu”
- “kulit kami tetap coklat / secoklat tanah”
- “tangan kemarau”
- “daun tembakau” dan “pohon tembakau”
Imaji-imaji tersebut membuat pembaca seolah dapat mencium bau tembakau kering, merasakan panas kemarau, dan melihat warna coklat tanah yang melekat pada tubuh para tokoh puisi.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
- Metafora, pada ungkapan “anak-anak tembakau” dan “tangan kemarau”, yang menyatukan manusia dengan alam dan kondisi hidupnya.
- Personifikasi, terlihat pada “langit desa kami rubuh seribu kali”, seolah langit memiliki kemampuan untuk runtuh sebagai simbol bencana, kegagalan, atau penderitaan berulang.
- Repetisi, pada pengulangan larik “langit desa kami rubuh seribu kali”, yang menegaskan kerasnya cobaan yang terus datang namun tidak mematahkan semangat.
Puisi "Anak-Anak Tembakau" dapat dibaca sebagai suara lirih namun teguh dari desa, sebuah penghormatan kepada mereka yang hidupnya ditempa oleh tanah, kemarau, dan tembakau. Dengan bahasa yang bersahaja, Jamal D. Rahman berhasil menghadirkan potret manusia yang tidak hanya bertahan, tetapi juga memaknai hidup melalui kerja dan doa yang dirangkai di setiap daun tembakau.
Karya: Jamal D. Rahman
Biodata Jamal D. Rahman:
- Jamal D. Rahman lahir pada tanggal 14 Desember 1967 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.