Analisis Puisi:
Puisi “Angka yang Manis” karya Fridolin Ukur menghadirkan refleksi mendalam tentang usia, pengalaman hidup, dan tanggung jawab moral manusia terhadap dunia yang diwarisinya. Melalui bahasa yang tenang, repetitif, dan simbolik, penyair tidak sekadar menandai pertambahan umur, tetapi juga mengajak pembaca merenungi makna keberadaan, spiritualitas, serta relasi manusia dengan alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perenungan usia dan kedewasaan batin yang disertai kesadaran tanggung jawab moral. Angka usia—dalam hal ini “68”—tidak dimaknai sebagai bilangan matematis semata, melainkan sebagai simbol akumulasi pengalaman, kebijaksanaan, dan beban etis yang lahir dari perjalanan hidup panjang.
Selain itu, tema ekologis juga muncul secara kuat, terutama pada bagian akhir puisi yang menyinggung hutan yang tak lagi melahirkan pepohonan. Tema usia dan tema kerusakan alam saling berkelindan, seolah usia yang menua menuntut tanggung jawab lebih besar terhadap keberlangsungan kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyadari dirinya telah menua, digambarkan melalui frasa “kuseret kakiku yang renta”. Ia menapaki waktu, menghirup udara untuk raga dan firman untuk roh, serta menoleh ke belakang pada kenangan dan pengalaman hidup yang telah dilalui.
Di sisi lain, puisi ini juga berkisah tentang kesadaran ekologis: hutan yang dulu hidup kini tak lagi melahirkan pepohonan. Namun cerita ini tidak berhenti pada keluh kesah, melainkan ditutup dengan niat dan tekad untuk “membuat hutanku hijau kembali”.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini terletak pada pemaknaan usia sebagai amanah, bukan sekadar angka biologis. “Angka yang manis” menandakan bahwa usia lanjut bisa menjadi indah jika diisi dengan refleksi, kebijaksanaan, dan niat memperbaiki kehidupan.
Angka 68 diuraikan menjadi “panca ditambah satu” dan “sapta ditambah satu”, yang mengisyaratkan penyempurnaan. Ini menyiratkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar selesai; selalu ada “tambahan satu” berupa tanggung jawab, kesadaran, dan tugas moral yang harus dijalani.
Selain itu, hutan yang gersang menyiratkan kondisi dunia—atau bahkan batin manusia—yang rusak akibat kelalaian, namun masih terbuka kemungkinan pemulihan selama niat itu ada.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung kontemplatif dan reflektif. Nada lirih terasa melalui pengulangan kalimat dan penggunaan kata-kata seperti “renta”, “desah”, dan “keluh”. Namun, suasana ini tidak sepenuhnya muram; terdapat kejernihan dan harapan yang muncul dari kata-kata seperti “bening”, “jernih”, serta tekad di bagian akhir puisi.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk memaknai usia sebagai kesempatan memperdalam kebijaksanaan dan memperbaiki relasi dengan kehidupan, termasuk dengan alam. Pertambahan umur seharusnya melahirkan kesadaran spiritual, empati, dan tanggung jawab, bukan keputusasaan.
Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa meski kerusakan telah terjadi, harapan selalu hadir melalui niat dan tindakan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji, terutama imaji visual dan kinestetik. Gambaran “kuseret kakiku yang renta” menghadirkan citra tubuh yang menua dan berjalan tertatih. Imaji alam muncul melalui “angin dan awan”, “cakrawala”, serta “hutan” yang gersang. Imaji kejernihan tergambar melalui kata “bening” dan “jernih” yang mencerminkan kejernihan batin dan pengalaman hidup.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, pada frasa “menginjak hitungan waktu” dan “angka yang manis”, yang memaknai waktu dan usia secara simbolik.
- Repetisi, terlihat dari pengulangan baris “Kuseret kakiku yang renta” yang menegaskan kondisi fisik sekaligus batin penyair.
- Personifikasi, pada hutan yang “tak lagi melahirkan pepohonan”, seolah hutan memiliki kemampuan biologis layaknya manusia.
Puisi “Angka yang Manis” bukan sekadar catatan ulang tahun atau perayaan usia, melainkan sebuah renungan filosofis dan ekologis. Fridolin Ukur berhasil menjadikan angka sebagai simbol kematangan, kejernihan batin, dan panggilan untuk bertindak. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, puisi ini mengingatkan bahwa usia yang menua seharusnya berjalan seiring dengan tanggung jawab untuk menjaga kehidupan—baik kehidupan pribadi, spiritual, maupun alam semesta.