Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Another Reason (Karya Fitri Yani)

Puisi "Another Reason" karya Fitri Yani bercerita tentang hubungan dua insan yang bertemu di “persimpangan”, sebuah metafora tentang fase hidup ...
Another Reason

kita berjumpa di persimpangan yang telah letih, sebuah jalan yang berakhir di tepian malam. aku tak tahu haruskah berbahagia atau berduka saat kau genggam tanganku malam itu, di sebuah beranda, di bawah purnama. malam di depan kita menjelma layar kaca, dan kita seperti berada di dalam labirin, yang tak lagi kita ketahui di mana awal-akhirnya.

seakan perayaan—setiap malam dan siang yang datang menghanyutkan kita ke dalam mimpi-mimpi tanpa tepi. sungai, taman, dan cita-cita  memadat di telapak tangan. sementara tiga putaran kemarau, menghendaki rasa pasti bergema di dinding jantungku.

bukan cuma waktu yang kita lewati, tapi juga laut luas dan dinding batu di hati kita—ketahuilah, aku memperbaiki harapan demi harapan yang kau kehendaki, agar perjalanan menjadi genap dan memesona. tapi kau kerap mengelak dan mengulur perasaan sendiri. sampai di suatu ketika, kau dan aku pun merasa letih, matahari membakar pohon-pohon, hujan sore hari  tertahan menutupi kehampaan. lalu kita mencoba bangkit kembali, berjalan lagi, menuruni lembah-lembah, mendaki bukit-bukit. ah, seharusnya kita tak berjalan dengan kerumitan di kepala masing-masing, seharusnya kita melangkah saja.

di sudut lain, banyak sekali tangan yang mencoba menarikmu dariku, cengkramannya bagai belitan akar yang meremukkan harapan. aku tak tahu, apakah aku harus berbahagia atau berduka saat kutatap matamu yang berwarna madu, ada sungai harapan yang mengalir diam-diam, juga pepohonan yang mulai tumbang di setiap pinggirnya, “kau belum memulai apa-apa, kau tak akan mengakhiri apa-apa” kataku. aku melihat kelepak elang, langit begitu biru.

keheningan jadi begitu sempurna saat kau meninggalkanku. rintik-rintik hujan jatuh mengaburkan seluruh pandangan.

hari seakan mengambang, daun-daun gugur, hutan terbakar, dan burung-burung terbang tanpa arah. kita hanya sepasang mahluk yang penuh dengan harapan, sekujur tubuh kita penuh warna, yang siapa pun tak akan sanggup menafsirnya—kau meletakkan rumahmu di dadaku, sementara aku melukis cakrawala di wajahmu.

jika saat itu kau menatap langsung ke mata yang dalam dan kecewa—kau akan tahu, aku bukan datang dari ujung sebuah jalan yang lengang, tapi dari segumpal hening fajar yang berdiam di ulu hatimu. barangkali saat itu kau begitu ingin memeluk tubuhku yang terlanjur membeku, barangkali kau ingin sekali menjelaskan makna sebuah taman, barangkali juga saat itu aku merasa kau telah menghianati cintaku, tapi aku tak ingin mengetahuinya. sebab betapa musim telah begitu rapi merawat benih-benih asmara.

di sebuah jalan, di antara bukit berpasir, ada sebait sajak cengeng tentang cinta.

kau mungkin masih akan memukauku dengan bait-bait sajakmu, agar kau tak kulupakan, agar suaramu menjadi bahana di dadaku. tapi saat ini, tak ada lagi yang menarik di mataku. kehidupan seperti pergerakan benda-benda mati, tubuh-tubuh berjalan tanpa tujuan, namun dadanya penuh kerinduan.

aku memandang hari-hari yang lewat dengan mata yang berat, duka dan bahagia berlintasan bagaikan gelombang lagu yang tak putus-putus. aku pun mencoba berprasangka baik tentangmu—bukankah tak ada jalan yang benar-benar selesai. kutempatkan diriku di sebuah taman, karena taman adalah kehidupan, penuh semerbak dan warna bunga-bunga.

patah hatiku karena tak akan lagi pernah melihat keteduhan matamu, kalaupun kau menatapku lagi, cerlangnya telah pudar. duhai, mengapa begini perih lukanya asmara—apakah takkan lunas setiap kelahiran untuk menebus duka yang ada.

saat ini aku ingin mengenang ketika kau panggil namaku berulang-ulang di ujung cakrawala, ketika aku merasa tunai sembunyi di balik dadamu.

semoga setelah ombak menggemakan nostalgia, ia reda secepat datangnya.

Tanjungkarang, Juli 2012

Sumber: Jurnal Nasional (6 Januari 2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Another Reason" karya Fitri Yani merupakan puisi panjang bernuansa reflektif yang memotret perjalanan cinta, kelelahan emosional, dan usaha memahami kehilangan. Puisi ini bergerak seperti arus kenangan—kadang deras, kadang hening—mempertemukan harapan, keraguan, dan kepasrahan dalam satu lanskap batin yang luas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan cinta yang rapuh dan kompleks, disertai kelelahan batin serta upaya menerima perpisahan. Selain cinta, puisi ini juga menyentuh tema waktu, harapan, dan ketidakpastian arah hidup.

Puisi ini bercerita tentang hubungan dua insan yang bertemu di “persimpangan”, sebuah metafora tentang fase hidup yang tidak lagi muda dan penuh kepastian. Sosok “aku” dan “kau” berjalan bersama melewati mimpi, harapan, dan konflik batin masing-masing. Seiring waktu, hubungan itu dipenuhi kelelahan, tarik-menarik perasaan, dan gangguan dari luar, hingga akhirnya berujung pada perpisahan yang sunyi dan meninggalkan luka.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan kepemilikan atau kebersamaan. Ada hubungan yang hadir hanya untuk mengajarkan proses: tentang memberi harapan, memperbaiki diri, lalu belajar merelakan. Persimpangan, labirin, jalan, dan taman menjadi simbol bahwa hidup dan cinta tidak pernah lurus, tetapi penuh belokan dan kebimbangan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi cenderung melankolis, reflektif, dan perlahan-lahan sendu. Di beberapa bagian, muncul suasana hangat dan romantis, tetapi segera bergeser menjadi letih, sepi, dan duka yang tenang. Kesedihan dalam puisi ini tidak meledak-ledak, melainkan mengendap dan meresap.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk menerima bahwa tidak semua harapan cinta harus sampai pada tujuan akhir. Kadang, pertemuan dan perpisahan sama-sama memiliki makna. Dengan menerima luka dan merawat kenangan, manusia dapat tetap melanjutkan hidup tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Puisi "Another Reason" adalah puisi yang kaya lapisan emosi dan makna. Fitri Yani berhasil menghadirkan kisah cinta yang tidak sederhana—cinta yang tumbuh, letih, dan akhirnya dilepaskan dengan kesadaran. Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa dalam cinta, kadang alasan terpenting bukanlah untuk bertahan, melainkan untuk merelakan dengan penuh kejujuran.

Fitri Yani
Puisi: Another Reason
Karya: Fitri Yani

Biodata Fitri Yani:
  • Fitri Yani lahir pada tanggal 28 Februari 1986 di Liwa, Lampung Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.