Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Antara Tragedi dan Parodi (Karya Diah Hadaning)

Puisi “Antara Tragedi dan Parodi” karya Diah Hadaning merupakan kritik sosial yang tajam terhadap kondisi masyarakat dan bangsa yang terjebak dalam ..
Antara Tragedi dan Parodi (1)

Dalam langkah mencari
antara dua gunung
orang-orang bingung
orang-orang yang mbilung
orang-orang yang limbung
menjadi ulat jedung.

Dalam suara ribut
antara kubu-kubu
orang-orang lupa
bening danau-Nya
teduh rembulan-Nya
hangat mentari-Nya.

Dalam sengit berebut
antara badai kemelut
orang-orang hilang pemahaman
yang gila itu waras
yang waras itu gila
sementara negeri bunga
disebut kini negeri prahara
di rumah-rumah orang berbantah
di jalan kota orang usung bara
menyalakan api di dada-dada.

Antara Tragedi dan Parodi (2)

Perempuan-perempuan elok
yang duduk tenang di rumah atap cendawan
intannya sebesar kenong
tapi jiwanya kosong
jadi tak beda
dengan si meong
saat kampung-kampung basah
dipenuhi garong
saat kebijaksanaan baru
tetap kirim saudara-saudaranya
ke tanah seberang
untuk menjadi ajang
liur-liur tak bertuan

Perempuan-perempuan elok
suaranya lenyap
didalam gedung anggun
perjuangan itu dimana
kalian sembunyikan
teriak parau mereka yang di jalanan.

Bogor, Maret 2000

Analisis Puisi:

Puisi “Antara Tragedi dan Parodi” karya Diah Hadaning merupakan kritik sosial yang tajam terhadap kondisi masyarakat dan bangsa yang terjebak dalam konflik, kebingungan, serta kemunafikan. Melalui diksi yang lugas namun simbolik, penyair menyoroti bagaimana tragedi kemanusiaan sering kali berubah menjadi parodi, kehilangan makna, dan justru dipertontonkan sebagai absurditas sosial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegamangan sosial dan krisis moral dalam kehidupan berbangsa. Puisi menyoroti benturan kepentingan, hilangnya kebijaksanaan, serta paradoks antara nilai luhur dan kenyataan pahit yang terjadi di masyarakat.

Puisi ini bercerita tentang orang-orang yang terjebak di “antara dua gunung”, antara kubu-kubu yang saling bertentangan, antara kepentingan dan nurani. Dalam situasi tersebut, masyarakat digambarkan bingung, limbung, kehilangan arah, hingga kehilangan kemampuan membedakan yang waras dan yang gila. Bagian kedua puisi mengangkat potret perempuan-perempuan elok yang hidup nyaman, namun abai terhadap penderitaan sosial di sekitarnya.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap elite, kelompok berkuasa, dan masyarakat yang kehilangan empati. Tragedi kemanusiaan—kemiskinan, konflik, dan ketidakadilan—dipermainkan hingga berubah menjadi parodi, sementara suara rakyat kecil tenggelam dan tak terdengar.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi cenderung gelisah, getir, dan penuh kegundahan. Nada kritik terasa kuat, disertai ironi dan sindiran yang mempertegas kekecewaan penyair terhadap realitas sosial yang dihadapi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk kembali pada kebeningan nurani, empati, dan kebijaksanaan. Penyair mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam hiruk-pikuk konflik dan kemewahan semu, serta tidak membiarkan penderitaan orang lain menjadi tontonan tanpa kepedulian.

Puisi “Antara Tragedi dan Parodi” karya Diah Hadaning menempatkan pembaca di ruang perenungan yang tidak nyaman. Ia mengajak kita menyadari bahwa ketika empati dan kebijaksanaan hilang, tragedi mudah berubah menjadi parodi. Melalui puisi ini, penyair menyuarakan keprihatinan sekaligus peringatan agar masyarakat tidak larut dalam kebisingan konflik dan kemewahan semu, tetapi kembali mendengarkan jeritan kemanusiaan.

"Puisi: Antara Tragedi dan Parodi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Antara Tragedi dan Parodi
Karya: Diah Hadaning
© Sepenuhnya. All rights reserved.