Puisi: Apologis (Karya Rita Oetoro)

Puisi "Apologis" karya Rita Oetoro bercerita tentang seseorang yang menyadari kesia-siaan menjalani tradisi tanpa kesadaran batin.
Apologis

sia-sia — ketika aku harus
meniti tangga-tangga yang
begitu panjang — yang
bernama tradisi

(where does discontent start?
you are warm enough, but you shiver
you are fed, yet hunger gnaws you
you have been loved, but your yearning
wanders in new fields
— john steinbeck : sweet thursday)

sia-sia — sebab aku telah
memutuskan tali-tali rapuh yang
selama ini mengikatku

nun ada sebuah jalan
ke sana aku bergegas
ke sana aku menuju

1975

Sumber: Dari Sebuah Album (1986)

Analisis Puisi:

Puisi "Apologis" karya Rita Oetoro merupakan sajak yang ringkas namun sarat pergulatan batin. Melalui diksi sederhana, pengulangan kata “sia-sia”, serta sisipan kutipan John Steinbeck, penyair menghadirkan konflik antara keterikatan tradisi dan dorongan kuat untuk melepaskan diri demi pencarian makna yang lebih otentik.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pemberontakan batin terhadap tradisi dan pencarian kebebasan diri. Puisi ini menyoroti kegelisahan individu yang merasa terbelenggu oleh warisan nilai, kebiasaan, atau norma yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan jiwanya.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyadari kesia-siaan menjalani tradisi tanpa kesadaran batin. Tradisi digambarkan sebagai “tangga-tangga yang begitu panjang”, sesuatu yang harus dinaiki dengan susah payah namun tidak menjanjikan kepuasan.

Penyair kemudian mengambil keputusan penting: memutus “tali-tali rapuh” yang selama ini mengikatnya. Setelah keputusan itu, muncul gambaran tentang sebuah jalan lain—sebuah arah baru—yang segera dituju dengan penuh kesadaran dan keteguhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kepatuhan membabi buta pada tradisi. Tradisi tidak sepenuhnya ditolak, tetapi dipertanyakan: apakah ia masih memberi makna, atau justru mengekang pertumbuhan batin?

Kutipan John Steinbeck memperkuat makna ini dengan menegaskan bahwa ketidakpuasan hidup sering muncul bukan karena kekurangan material atau kasih sayang, melainkan karena kerinduan batin yang tidak terpenuhi. Puisi ini menyiratkan bahwa kegelisahan manusia kerap berakar dari keterputusan antara hidup yang dijalani dan suara hati yang terdalam.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa gelisah sekaligus tegas. Pada bagian awal, suasana didominasi rasa lelah dan sia-sia. Namun, menjelang akhir, suasana berubah menjadi lebih mantap dan penuh tekad, seiring keputusan aku lirik untuk menuju “sebuah jalan” yang lain.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya keberanian untuk memilih jalan hidup sendiri, meskipun harus berhadapan dengan tradisi atau nilai lama yang telah mengikat lama. Puisi ini mendorong pembaca untuk jujur pada kegelisahan batinnya dan tidak takut memutus ikatan yang tidak lagi memberi makna.

Puisi "Apologis" karya Rita Oetoro adalah refleksi singkat namun tajam tentang kegelisahan manusia modern dalam berhadapan dengan tradisi. Dengan nada yang jujur dan tegas, puisi ini menegaskan bahwa kebebasan batin sering kali menuntut keberanian untuk melepaskan, memilih, dan melangkah ke jalan yang diyakini sendiri.

Puisi: Apologis
Puisi: Apologis
Karya: Rita Oetoro

Biodata Rita Oetoro:

Rita Oetoro (Rita Cascia Saraswati atau Rita Oey) lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada tanggal 6 Desember 1943.
© Sepenuhnya. All rights reserved.