Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi Rita Oetoro

Puisi: Stasiun A. (Karya Rita Oetoro)

Stasiun A. loko-loko tua sehitam jelaga kanak-kanak bermain di dalamnya padam nostalgia ketika angin lembah sejuk menerpa wajah 1977 Sumber: Dari Seb…

Puisi: In Abstracto (Karya Rita Oetoro)

In Abstracto warna — warna bianglala — baur dalam deru alfa dan omega, ketika samar kudengar — stanza penyair sappho 1989 S umber:  Sangkakala (1996)…

Puisi: Tentang Sebuah Dogma (Karya Rita Oetoro)

Tentang Sebuah Dogma tak ada yang tinggal: gemintang malam kejayaan dan nestapa kita semua sirna esok: akan datang hari lain yang disarati kebahagiaa…

Puisi: Silhouette (Karya Rita Oetoro)

Silhouette  (1) anno 1951 ketika usiaku delapan — paman hiap mengajarku naik sepeda dan menyusuri tepian kota desau daun-daun bambu pekik anak-anak d…

Puisi: Requiem (Karya Rita Oetoro)

Requiem dari tiada - kembali kepada ketiadaan dari ada - menjelma ke dalam keabadian bila akhir tiba relakan jasadku - bagi: ilmu kedokteran dan lemb…

Puisi: Doa (Karya Rita Oetoro)

Doa Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: 'Jadilah'…

Puisi: In Solitude (Karya Rita Oetoro)

In Solitude — for home is where love and forgiveness are always full to the brim — dan apa yang telah dikuduskan tidak akan pernah bisa dipatahkan 19…

Puisi: Fantastis (Karya Rita Oetoro)

Fantastis seorang gadis kecil — bermahkota lantana, bersenda dalam pigura Sumber: Dari Sebuah Album (1986) Analisis Puisi : Puisi "Fantastis&quo…

Puisi: Postscript (Karya Rita Oetoro)

Postscript jangan sadarkan aku — dari lelap mimpi jangan hadapkan aku — pada sebuah janji let's be lovers — till the end of time — till the end o…

Puisi: Apologis (Karya Rita Oetoro)

Apologis sia-sia — ketika aku harus meniti tangga-tangga yang begitu panjang — yang bernama tradisi (where does discontent start? you are warm enough…

Puisi: Simponi (Karya Rita Oetoro)

Simponi (I) sudahkah kita — menghayati liku-liku sang waktu? (II) adakah kita — menjadi lebih bijak, lebih cerdas dan lebih santun? (III) pada stasi …

Puisi: Pertemuan (Karya Rita Oetoro)

Pertemuan senyum mengembang di wajahnya, saat membaca sajak-sajak berdebu dari suatu masa yang teramat jauh dan berpandangan kami: dalam alunan kenan…

Puisi: Rumpun Pisang (Karya Rita Oetoro)

Rumpun Pisang hanya dari kejauhan saja, gadis kecil itu diperbolehkan mengawasi orang-orang kampung mengalah dedaunan hijau aroma tanah kebun yang ba…

Puisi: Panorama (Karya Rita Oetoro)

Panorama lembah itu tidak seberapa luas di tepi kota — dan hijau semata hijau perdu-perdu liar serta gemuruh air terjun di batu-batu sungai 1975 Sumb…

Puisi: Romansa (Karya Rita Oetoro)

Romansa yang tersurat dan yang tersirat — kadangkala membuat kita tertawa dan menangis pada saat yang sama, bukan? biar, biarkan mereka mengatakan ki…

Puisi: Elegi (Karya Rita Oetoro)

Elegi ternyata belum sepenuhnya — daku pasrah sumarah: masih juga kebimbangan menjadi pedang bermata dua, terhunus tajam di tubir jurang! 1992 S umbe…

Puisi: Jakarta (Karya Rita Oetoro)

Jakarta senja demi senja menelan usia berbunga debu dan bising kota — selalu melantunkan lagu-lagu rindu dalam hati telah kukenal — garis-garis wajah…

Puisi: Hutan Jati (Karya Rita Oetoro)

Hutan Jati aroma menyengat khas dedaunan jati yang telah lama kukenal, tiada di sini; hanya warna kecokelatan batang-batang dan rerantingan meranggas…
© Sepenuhnya. All rights reserved.