Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Arakan Gema-Gema (Karya Leon Agusta)

Puisi “Arakan Gema-Gema” karya Leon Agusta menunjukkan bahwa kepergian seorang tokoh besar tidak hanya meninggalkan duka personal, tetapi juga ...
Arakan Gema-Gema
Bung Karno Berpulang

Di langit-langit ranjang terbakar bintang-bintang
Bintang-bintang yang rasaku dulu selalu menyinariku
dari jauh: kepercayaan tanpa batas
kepadamu. Menghilang disapu kabut akhir musim
akhir segala mimpimu dan puji-pujian

Di bulan Juni yang mengepul
Luka-luka kubalsami sendiri. Dan tahu
tak ada tempat berbaring lagi
Bersamamu

Adalah kini padang perburuan yang ditinggalkan. Di sana
Sunyi berwarna coklat berlatar biru gulita
Arakan gema-gema kembali mengangkut perpisahan. Lalu
Adakah makna rasa haru yang mengambang
naik. Terpajang pada hasrat hidupku
Menegaskan arah yang tak tertegaskan
Sementara kemurungan dan gairah enggan berpaling

Dan nanti engkau pun akan menghitung
tanpa angka-angka. Malu untuk bertanya; bingung
Tenggelam di laut tanpa cinta

Juni, 1970

Sumber: Horison (Desember, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi “Arakan Gema-Gema” karya Leon Agusta merupakan sajak elegi yang lahir dari peristiwa duka kolektif: wafatnya Bung Karno pada Juni 1970. Puisi ini tidak tampil sebagai ratapan langsung yang historis-deskriptif, melainkan sebagai perenungan batin tentang kehilangan figur besar, runtuhnya kepercayaan, serta kegamangan arah hidup setelah sebuah cahaya padam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehilangan dan duka eksistensial atas wafatnya seorang figur pemimpin yang pernah menjadi sumber kepercayaan dan harapan. Tema lain yang mengiringinya adalah keruntuhan mimpi, kebingungan arah, dan kesunyian pasca-kepergian.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menghadapi perpisahan besar. Sosok “engkau” dalam puisi dapat dibaca sebagai figur Bung Karno—tokoh yang dulu dipandang seperti bintang penuntun, pemberi “kepercayaan tanpa batas”.

Kematian itu digambarkan sebagai berakhirnya musim, pupusnya mimpi, dan kosongnya ruang tempat bersandar. “Arakan gema-gema” menjadi metafora prosesi perpisahan: bukan hanya iring-iringan jenazah, melainkan juga gema kenangan, pidato, cita-cita, dan harapan yang kini hanya tersisa sebagai resonansi.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kepergian seorang tokoh besar tidak hanya meninggalkan duka personal, tetapi juga kehampaan ideologis dan kebingungan kolektif. Kepercayaan yang dulu menyinari kini “menghilang disapu kabut”.

Ungkapan “padang perburuan yang ditinggalkan” menyiratkan negeri atau perjuangan yang kehilangan pusat orientasi. Penyair berada di antara haru dan gairah, antara kenangan dan keharusan untuk melanjutkan hidup, namun tanpa arah yang jelas.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa muram, sendu, dan kontemplatif. Ada kesan sunyi yang pekat, kesedihan yang ditahan, serta kegamangan batin yang tidak meledak-ledak, melainkan mengendap dan mengambang seperti kabut.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kehilangan figur besar menuntut kedewasaan batin untuk berdiri sendiri. Ketergantungan pada sosok pemimpin, betapapun agungnya, pada akhirnya harus diakhiri dengan kesadaran untuk menemukan arah baru. Tanpa itu, manusia akan “tenggelam di laut tanpa cinta”.

Puisi “Arakan Gema-Gema” adalah puisi duka yang matang dan reflektif. Leon Agusta tidak sekadar mengenang wafatnya Bung Karno, tetapi juga memotret keguncangan batin sebuah generasi yang kehilangan pusat cahaya. Puisi ini menjadi elegi tentang berakhirnya sebuah zaman, sekaligus cermin kegamangan manusia ketika harus melangkah tanpa sosok yang selama ini diyakini.

Leon Agusta
Puisi: Arakan Gema-Gema
Karya: Leon Agusta

Biodata Leon Agusta:
  • Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
  • Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.