Puisi: Aroma (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Aroma” karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang menolak kehadiran tamu, baik secara fisik maupun simbolik. Namun, penolakan ...
Aroma

siapa pun itu
yang berdiri di depan pintu
pergilah, janganlah mengganggu
aku tak mengharapkan tamu

siapa pun itu 
ah, tapi justru kudengar suaramu
bersama angin memanggil-memanggilku
menggema letih dari perjalanan waktu

apakah kau membawa berita?
apakah kau membawa kisah?
namun mendadak tercium kecut aroma 
yang kukenal sejak sebelum kita berpisah

2023

Analisis Puisi:

Puisi “Aroma” karya Gunoto Saparie menampilkan suasana batin yang hening, intim, sekaligus sarat kenangan. Dengan larik-larik pendek dan bahasa yang sederhana, penyair mengajak pembaca memasuki ruang personal seseorang yang berhadapan dengan masa lalu—hadir bukan melalui wujud, melainkan lewat aroma dan ingatan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan dan keterikatan emosional terhadap masa lalu. Aroma menjadi simbol kuat yang menghubungkan masa kini dengan pengalaman yang telah berlalu, khususnya perpisahan yang meninggalkan jejak batin mendalam.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menolak kehadiran tamu, baik secara fisik maupun simbolik. Namun, penolakan tersebut runtuh ketika suara dan aroma yang familiar hadir bersama angin. Kehadiran itu bukanlah sosok nyata, melainkan kenangan yang kembali mengetuk kesadaran, membawa pertanyaan tentang berita dan kisah dari masa lalu.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Meskipun seseorang berusaha menutup diri dan menolak masa lalu, ingatan dapat kembali melalui hal-hal kecil seperti aroma. Bau yang “kecut” dan dikenal sejak sebelum perpisahan menandakan pengalaman emosional yang tidak sepenuhnya manis, tetapi tetap melekat dan sulit diabaikan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana sunyi, sendu, dan reflektif. Kesendirian tokoh lirik terasa kuat, disertai kelelahan emosional akibat perjalanan waktu dan ingatan yang terus memanggil.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari masa lalu. Kenangan, terutama yang sarat emosi, akan selalu menemukan cara untuk kembali. Oleh karena itu, menghadapi dan menerima ingatan tersebut bisa menjadi langkah menuju pemahaman diri yang lebih jujur.

Puisi “Aroma” karya Gunoto Saparie adalah puisi pendek dengan daya sugesti yang kuat. Melalui simbol aroma dan dialog batin yang sederhana, penyair berhasil menggambarkan bagaimana masa lalu tetap hidup dalam ingatan manusia. Puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa kenangan—seberapa pun ingin dihindari—sering kali hadir kembali, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari diri yang belum sepenuhnya selesai.

Gunoto Saparie
Puisi: Aroma
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.