Assisi
Aku memasuki sebuah hutan
Yang terekam indah di kartu pos:
Ada jalan setapak, kastil-kastil ratusan tahun
Rumput-rumput basah, kerikil di antara bunga-bunga
Cahaya remang menggigil di udara
Aku mencium
Keindahan paling nyata:
Bau sperma dari akar-akar zaitun
Keringat batu karang, bercak-bercak darah
Dan serpihan daging para penziarah
Seorang lelaki
Lebih dekat pada pohon-pohon besar
Kata-katanya menjadi benih sekaligus hama
Musim semi bangkit dari suara
Cahaya merangkai ekornya sendiri
Bercakap-cakap
Dan meledak sendiri
Seorang lelaki
Menjadi hutan dalam diriku:
Sebuah isyarat kelam
Hantu yang memasang perangkap
Bagi anak-anak yang dikuburkan dunia
Sisa teriakan mengkristal
Pada keramik bulan
Semuanya tercatat di kartu pos:
Kematian yang meloncat-loncat
Lonceng yang geram pada gerak waktu
Sebuah ruang khusus malam hari yang membuka
Dan menutup kembali
1993
Sumber: Di Atas Umbria (1999)
Analisis Puisi:
Puisi "Assisi" karya Acep Zamzam Noor menghadirkan pengalaman spiritual yang gelap, kompleks, dan penuh ketegangan batin. Nama “Assisi” segera mengingatkan pada kota religius yang identik dengan kesucian dan spiritualitas—terutama figur Santo Fransiskus. Namun, alih-alih menghadirkan kesalehan yang tenteram, puisi ini justru membongkar lapisan-lapisan keindahan yang berkelindan dengan luka, kekerasan, dan kematian.
Tema
Tema utama puisi ini adalah paradoks spiritualitas: pertarungan antara kesucian dan kebusukan, antara keindahan religius dan kenyataan gelap kemanusiaan. Acep Zamzam Noor mempersoalkan pengalaman iman yang tidak steril, melainkan berlumur darah, tubuh, dan sejarah penderitaan.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan seseorang yang memasuki sebuah hutan yang tampak indah seperti dalam kartu pos—jalan setapak, kastil tua, bunga, dan cahaya remang. Namun, di balik citra estetis itu, ia mencium kenyataan yang brutal: bau tubuh, darah, dan serpihan daging para penziarah. Sosok “seorang lelaki” kemudian hadir sebagai figur simbolik yang menyatu dengan alam, kata-katanya melahirkan kehidupan sekaligus kehancuran, hingga akhirnya menjelma sebagai “hutan” dalam diri penyair.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap romantisasi spiritualitas dan sejarah religius. Keindahan yang direkam “di kartu pos” menyiratkan citra permukaan yang telah dipoles, sementara kenyataan sejatinya menyimpan kekerasan, penindasan, dan korban manusia. Sosok lelaki dapat dimaknai sebagai figur religius, nabi, atau tokoh sejarah yang ajarannya mengandung daya hidup, tetapi juga berpotensi menjadi hama yang melukai.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, mencekam, dan simbolik. Ada ketegangan antara keindahan visual dan horor eksistensial. Cahaya tidak hadir sebagai penenang, melainkan sesuatu yang menggigil, meledak, dan mengintimidasi.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk melihat spiritualitas secara jujur dan kritis. Kesucian tidak selalu bersih dan damai; ia sering lahir dari luka, konflik, dan pengorbanan. Puisi ini mendorong pembaca agar tidak menelan simbol religius secara mentah, tetapi menelusuri sejarah dan dampaknya bagi kemanusiaan.
Puisi "Assisi" karya Acep Zamzam Noor adalah puisi kontemplatif yang berani dan gelap. Ia membongkar mitos kesucian yang terlalu rapi, lalu menghadirkan spiritualitas sebagai pengalaman manusiawi yang penuh luka, darah, dan kegelisahan—namun justru di sanalah kesadaran paling jujur menemukan bentuknya.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
- Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
