Analisis Puisi:
Puisi “Bahwa Maut” merupakan sajak reflektif yang mengajak pembaca menatap kematian secara jernih dan manusiawi. Gunoto Saparie tidak menampilkan maut sebagai sesuatu yang menggelegar atau menakutkan secara dramatis, melainkan sebagai kepastian sunyi yang perlahan mendekat, meninggalkan jejak tanda-tanda pada tubuh dan kehidupan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian sebagai keniscayaan hidup. Puisi ini juga menyentuh tema kefanaan, perpisahan, dan kesadaran manusia terhadap berlalunya waktu.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang menyadari bahwa maut bukan lagi sesuatu yang jauh. Kematian diibaratkan sebagai “ujung lagu”, sebuah penutup yang pasti datang setelah rangkaian nada kehidupan. Tokoh lirik menandai tatapan, kata-kata, serta waktu yang terus menipis, hingga akhirnya harus merelakan kepergian orang yang dicintai.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa maut selalu hadir bersama tanda-tandanya, meski sering diabaikan. Uban, keriput, dan tertundanya rencana hidup menjadi isyarat bahwa waktu manusia terbatas. Puisi ini juga menyiratkan bahwa suka dan duka hanyalah sementara, sementara kematian adalah batas akhir yang tak bisa ditawar.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana sendu dan kontemplatif. Kesedihan hadir secara tenang, tidak meledak-ledak, melainkan mengendap sebagai perasaan pasrah, tercekat, dan lirih ketika menghadapi perpisahan yang tak terelakkan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah ajakan untuk menyadari keterbatasan hidup dan menghargai waktu yang dimiliki. Manusia diajak untuk tidak terlalu melekat pada rencana duniawi, karena maut bisa datang kapan saja. Di akhir, puisi menegaskan bahwa yang tersisa ketika maut datang hanyalah doa dan keikhlasan.
Puisi “Bahwa Maut” adalah puisi perenungan yang tenang namun menghunjam. Gunoto Saparie menghadirkan kematian sebagai bagian alami dari kehidupan, sekaligus pengingat agar manusia lebih sadar, lebih ikhlas, dan lebih bijak dalam menjalani sisa waktu sebelum lagu kehidupan benar-benar mencapai ujungnya.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.
Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
