Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Bayang [Aku] Maut (Karya Muhammad Rois Rinaldi)

Puisi “Bayang (Aku) Maut” karya Muhammad Rois Rinaldi menghadirkan lanskap batin yang gelap, penuh ketegangan psikologis, serta pengalaman ...
Bayang (Aku) Maut

Pada akhirnya kau takkan sanggup temukanku
antara puing percumbuan di kota yang kutinggalkan
aroma tubuh jadi hantu gumam sepanjang malam
reringkuk rindu busuk sendiri, kau tersekap nyeri.

Lalu-lolong menyeruak sepi di batas pencarian
bola api berletupan-berlesapan matamu terbakar
lalu-lolong kian menyalak-salak, aku tak jua ditemukan
hingga sampai jiwamu di batas kesadaran.

Aku datang bagai bayang di derai hujan cuka
alirkan salam pedih pada setiap nganga luka
kau mengejang aku tetap bayang beriring maut
di kepalamu segalanya telah kutancapkan!

Cilegon, Banten, 28 April 2012

Analisis Puisi:

Puisi “Bayang (Aku) Maut” karya Muhammad Rois Rinaldi menghadirkan lanskap batin yang gelap, penuh ketegangan psikologis, serta pengalaman kehilangan yang intens. Puisi ini bergerak di wilayah eksistensial, mempertemukan subjek “aku”, bayangan, dan maut sebagai satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Bahasa yang digunakan bersifat metaforis, pekat, dan sarat nuansa surealis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehadiran maut sebagai bayangan batin yang terus mengikuti manusia. Kematian tidak digambarkan sebagai peristiwa fisik semata, melainkan sebagai kesadaran traumatis, rasa bersalah, rindu yang membusuk, serta luka psikologis yang tak kunjung sembuh.

Puisi ini bercerita tentang upaya pencarian yang sia-sia terhadap sosok “aku” yang telah melebur menjadi bayang-bayang maut. Pencarian tersebut berlangsung di ruang kota, kenangan percumbuan, dan sisa-sisa relasi yang telah ditinggalkan. Tokoh “kau” terjebak dalam rasa nyeri, sepi, dan ketakutan, sementara “aku” hadir bukan sebagai tubuh, melainkan sebagai bayangan yang terus menghantui hingga batas kesadaran.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kematian atau kehancuran batin sering kali hadir sebelum kematian fisik itu sendiri. Maut menjadi simbol trauma, kehilangan, dan kehancuran psikologis yang menancap dalam kepala dan kesadaran manusia. Bayangan maut tersebut tidak bisa ditemukan atau dilawan, karena ia telah menjadi bagian dari diri dan ingatan.

Suasana dalam puisi

Puisi ini menghadirkan suasana mencekam, gelap, dan penuh kegelisahan. Rasa sepi, nyeri, ketakutan, serta keputusasaan mengalir kuat dari awal hingga akhir puisi, menciptakan atmosfer yang menekan dan intens.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Jika ditarik sebagai amanat, puisi ini mengingatkan bahwa luka batin, trauma, dan kehilangan yang tidak disadari dapat berubah menjadi “maut” yang terus membayangi hidup. Manusia perlu menyadari dan menghadapi luka-luka tersebut, sebab pelarian justru membuatnya semakin menancap dalam kesadaran.

Puisi “Bayang (Aku) Maut” karya Muhammad Rois Rinaldi merupakan eksplorasi gelap tentang trauma, kehilangan, dan kematian sebagai pengalaman batin. Dengan bahasa yang padat dan imaji yang keras, puisi ini tidak menawarkan penghiburan, melainkan konfrontasi langsung dengan sisi terdalam kesadaran manusia. Kematian dalam puisi ini bukanlah akhir, melainkan bayangan yang terus hidup dan menghantui, menegaskan betapa rapuh dan kompleksnya jiwa manusia.

Muhammad Rois Rinaldi
Puisi: Bayang [Aku] Maut
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

Biodata Muhammad Rois Rinaldi:
  • Muhammad Rois Rinaldi lahir pada tanggal 8 Mei 1988 di Banten, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.