Bayangan-Bayangan
Bayangan-bayangan lewat kaca
Daun dan daun yang riuh
pada dinding jatuh
Senjapun jadi penuh
Garis-garis warna yang menghilang
Bayangan demi bayangan yang lipu
Geriap senja
Genap, pelahan tersendat
Tiada bayangan
Angin mati. Serasa kegiatanpun berhenti
Ketika cengkerik berbunyi. Ketika bulan berjatuhan
dalam genangan-genangan hujan
Bayang-bayang tipis. Semak-semak
bagai tertelungkup beku
Padaku
Bayangan-bayanganpun takkan pernah
ketemu
Malang, 1969
Sumber: Horison (September, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi "Bayangan-Bayangan" karya Hendro Siswanggono menghadirkan pengalaman senja sebagai ruang perenungan yang sunyi dan rapuh. Dengan diksi yang lirih dan fragmentaris, penyair menampilkan dunia yang perlahan kehilangan bentuk, warna, dan gerak. Bayangan menjadi simbol utama yang menandai kefanaan, keterputusan, dan ketidakmungkinan pertemuan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kefanaan dan keterasingan dalam kesenyapan waktu. Puisi ini juga menyentuh tema hilangnya kehadiran, jarak, dan ketakterjangkauan antara diri dan dunia.
Puisi ini bercerita tentang peristiwa senja yang dilihat melalui bayangan-bayangan: daun yang riuh, warna yang memudar, dan garis-garis cahaya yang menghilang di dinding. Seiring waktu berjalan, bayangan demi bayangan menjadi lipu dan akhirnya lenyap. Dunia seperti berhenti bergerak—angin mati, kegiatan terhenti—hingga malam datang dengan bunyi cengkerik dan hujan. Penyair berada dalam posisi pasif, menyaksikan bahwa bayangan-bayangan itu “takkan pernah ketemu”.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada kesadaran tentang keterpisahan dan ketidakmungkinan perjumpaan yang utuh. Bayangan dapat dimaknai sebagai kenangan, harapan, atau keberadaan yang hanya bisa dilihat sekilas, tetapi tidak pernah digenggam. Hilangnya bayangan menandakan lenyapnya kepastian dan makna, sementara ketidakbertemuan menegaskan rasa sepi yang mendalam.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa waktu, seperti senja menuju malam, membawa segala sesuatu pada keheningan dan keterputusan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, hening, dan melankolis. Pergerakan yang pelan, tersendat, lalu berhenti menciptakan atmosfer sunyi yang menekan, seolah dunia ikut berdiam bersama penyair.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai ajakan untuk menerima kefanaan dan keterbatasan pertemuan dalam hidup. Puisi ini mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat disatukan atau dipertemukan, dan kesadaran akan hal itu adalah bagian dari kedewasaan batin.
Puisi "Bayangan-Bayangan" adalah puisi perenungan yang halus dan sunyi. Hendro Siswanggono menghadirkan senja bukan sekadar peralihan waktu, melainkan ruang batin tempat bayangan, kenangan, dan kehadiran saling menjauh hingga akhirnya tak pernah bertemu.
