Bayangan Ngeri Negeri Tirani
Sela riah gembira dalam dunia penuh cahaya,
Juga hamparan percik kembang api mempesona.
Bayang hampa menjejak tapak dalam sanubari,
Membakar hati, hanguskan empati,
Mengukir kebencian, terus mengikuti
Menjadi siksaan dalam kebencian.
Tepi harapan berubah penuh menjadi kelam,
Di sudut relung kengerian berkali-kali nama ini
Terpanggil lirih, mengingatkan kembali
Akan dosa-dosa tak terampuni.
Gelap di antara gemerlap megah negeri tirani,
Dalam sunyi menyusuri garis jalan lorong waktu,
Imaji ketenangan hutan memutar waktu dalam benak,
Memudar kini tinggal puing-puing dari bata berhambur parah.
Bayang kini mendesah ngeri,
Menjadi jeritan, permohonan, bahkan kini laksana maki dalam amukan.
Air keruh jiwa bercermin malu,
Sketsa lelah dari wajah pendosa mulai mengeluarkan air mata penyesalan.
Bayang-bayang itu adalah lansia, para ibu, para anak, para bayi tanpa noda.
Memohon tanggung jawab atas bencana dari keserakahan ibu kota,
Dominasi kolonialis negeri para tirani.
Saat jiwa tak mampu bercermin lagi,
Saat jemari hati tak sampai menggenggam damai.
Jua saat bayang-bayang mulai menggerayang liar.
Matilah dalam kutukan nikmat yang ternista
Oleh senyum munafik elit tirani.
Matilah bersama derita di bawah bayang-bayang
Menjadi bayangan yang kelak menggerayang
Semua terang di dunia nista.
Aceh, 2 Januari 2026
Analisis Puisi:
Puisi “Bayangan Ngeri Negeri Tirani” menghadirkan potret gelap sebuah negeri yang di permukaannya tampak gemerlap, namun di balik cahaya itu tersembunyi luka, ketidakadilan, dan penderitaan manusia. Yehezkiel menempatkan “bayangan” sebagai simbol trauma kolektif yang terus mengikuti kehidupan masyarakat di bawah kekuasaan tirani. Puisi ini bergerak dari kontras antara kemeriahan dan kengerian menuju gugatan moral terhadap kekuasaan yang menindas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah tirani kekuasaan dan penderitaan kemanusiaan akibat keserakahan serta dominasi politik. Tema pendukungnya meliputi penyesalan, rasa bersalah kolektif, dan kritik terhadap kemunafikan elite.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan di negeri tirani yang tampak penuh cahaya, kembang api, dan kemegahan, tetapi sesungguhnya menyimpan bayang-bayang kengerian. Di balik gemerlap itu, ada jeritan lansia, ibu, anak, dan bayi—korban kebijakan dan keserakahan kekuasaan. Penyair menelusuri lorong waktu batin, memperlihatkan bagaimana penderitaan itu terus membayangi dan menuntut pertanggungjawaban.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa kemajuan dan kemeriahan yang dipertontonkan oleh negara tirani sering dibangun di atas penderitaan rakyat kecil. Bayangan ngeri adalah metafora bagi dosa-dosa sejarah dan kekerasan struktural yang tak pernah benar-benar hilang. Puisi ini juga menyiratkan bahwa penyangkalan nurani hanya akan melahirkan kebencian dan kehancuran moral.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung muram, mencekam, dan penuh amarah tertahan. Kontras antara cahaya dan gelap menciptakan atmosfer ironi yang kuat, mempertegas rasa ngeri dan putus asa.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat agar kekuasaan tidak dijalankan dengan keserakahan dan kemunafikan. Penyair mengingatkan bahwa setiap penindasan akan meninggalkan bayangan penderitaan yang suatu saat menuntut keadilan. Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk menjaga empati dan keberanian moral di tengah dominasi tirani.
Puisi “Bayangan Ngeri Negeri Tirani” adalah puisi protes yang kuat secara emosional dan moral. Yehezkiel menelanjangi kepalsuan kemegahan negara tirani, memperlihatkan bayang-bayang penderitaan yang tak pernah benar-benar lenyap. Puisi ini mengingatkan bahwa tanpa empati dan tanggung jawab, cahaya peradaban hanya akan menjadi lampu palsu yang menyinari kehancuran.
Karya: Yehezkiel
Biodata Yehezkiel:
Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9