Begitu Jauh Pegunungan,
Daratan di Mata Kaki
begitu jauh
lembah curam kaliandra,
dataran yang punah
genggaman para tuan tanah,
daun salam di sayuran
diambil sari
dibuang, dilupakan
Unggunan bara terpendam,
Kasih di bayangan sayap elang
Ciumi aku dalam iringan lagu
Tak rugi tak mampus
sebelum kantuk menutup!
begitu dekat
jalan ke rumah
kuburan di sebrang sawah,
menapak tiga pematang.
Biru matamu kureguk,
hilang suara sayup,
tinggallah engkau
di saku,
ya selembar foto pudar,
lama ditinggal mengembara
Setelah bangun tidur!
begitu rapat
wajah cerah
luluran masa silam
Bukan yang pertama dipendam
Nun jauh di lembah Kampung Naga,
pantang adatnya berurai airmata,
kita jumpa terakhir
membuat semua janji
berarti diinjakkan kaki
Mari! Daripada terlambat,
musuh di belakang mata kita
Selamat para pencinta
Danau dan dangau
rindu jamahan kau!
Malam ke siang
tergantung usapan tangan
Selamat menentukan, jadi boneka hiasan atau rawat kemerdekaan!
Kabuyutan Rajamandala, 29 Maret 2019
Analisis Puisi:
Puisi “Begitu Jauh Pegunungan” karya Jang Sukmanbrata menghadirkan perjalanan yang tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga historis, emosional, dan ideologis. Dengan diksi padat dan citra alam yang kuat, puisi ini memadukan pengalaman mengembara, ingatan personal, serta kegelisahan sosial dalam satu tarikan napas puitik.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan dan keterasingan yang berkelindan dengan ingatan serta perlawanan. Selain itu, puisi ini mengangkat tema ketimpangan sosial, perampasan ruang hidup, dan pilihan eksistensial antara kepasrahan dan kemerdekaan. Alam bukan hanya latar, melainkan saksi dan korban dari kuasa manusia.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh melewati pegunungan, lembah, dan dataran yang telah “punah” oleh genggaman para tuan tanah. Perjalanan fisik ini disandingkan dengan perjalanan batin: kenangan akan rumah, kuburan di seberang sawah, sosok yang tinggal dalam foto pudar, hingga perjumpaan terakhir yang sarat janji. Di bagian akhir, puisi berubah menjadi seruan kepada “para pencinta” untuk menentukan sikap terhadap nasib alam dan kemerdekaan diri.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap perampasan tanah dan peminggiran manusia oleh kekuasaan. Pegunungan yang jauh, dataran yang punah, dan alam yang terabaikan mencerminkan hilangnya ruang hidup sekaligus memori kolektif. Puisi ini juga menyiratkan bahwa perjalanan panjang sering kali berujung pada pilihan moral: apakah menjadi “boneka hiasan” yang pasif atau merawat kemerdekaan dengan kesadaran dan tindakan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini melankolis dan getir, terutama pada bagian yang menyinggung kenangan, kehilangan, dan jarak. Pada saat yang sama, terdapat suasana gelisah dan waspada, bahkan mendesak, ketika puisi beralih menjadi ajakan dan peringatan. Di bagian akhir, suasana menjadi tegas dan konfrontatif, menuntut keputusan dari pembaca.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk tidak melupakan akar, ingatan, dan tanah yang menjadi ruang hidup manusia. Penyair menegaskan pentingnya kesadaran akan ketidakadilan sosial serta keberanian untuk memilih kemerdekaan, bukan kepasrahan. Puisi ini mengingatkan bahwa keterlambatan dan sikap abai dapat berujung pada kehilangan yang lebih besar.
Puisi “Begitu Jauh Pegunungan” merupakan puisi yang memadukan lirisme alam dengan kesadaran sosial. Jang Sukmanbrata tidak hanya mengajak pembaca menelusuri jarak dan kenangan, tetapi juga menantang mereka untuk menentukan sikap: tunduk pada kekuasaan yang meminggirkan, atau merawat kemerdekaan dengan keberanian dan kepedulian.
Puisi: Begitu Jauh Pegunungan
Karya: Jang Sukmanbrata
Biodata Jang Sukmanbrata:
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.
Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.
Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.
Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
