Bertanya
Sesosok tubuh mungil dengan tangan yang memeluk boneka bertanya,
“kalian semua hendak ke mana? Mengapa semuanya berjalan dengan begitu cepat? Aku tidak bisa mengejar, sungguh langkahku begitu dangkal. Mengapa semua nampak terburu-buru? Apakah ada yang mengejar kalian? Siapa? Siapa yang mengejar kalian? Apakah waktu? Apakah usia? Atau apakah memang seperti ini dunia pada umumnya? Saling mengejar bahkan tidak tahu sedang berlomba dengan apa. Sungguh tubuhku tidak sanggup mengimbangi, bolehkan aku kembali ke kamar dan melanjutkan bermain dengan boneka kesayangan?”
Ungkapan, dari seorang gadis yang mulai kewalahan mengikuti alur semesta.
Pojok kamar, 28 Januari 2026
Analisis Puisi:
Puisi “Bertanya” karya Pena Senja menampilkan kegelisahan eksistensial melalui suara seorang gadis kecil yang memandang dunia orang dewasa dengan rasa heran, lelah, dan kebingungan. Dengan teknik bertanya yang beruntun, puisi ini menghadirkan kritik lembut terhadap ritme kehidupan modern yang serba cepat dan menuntut, sekaligus menyuarakan keinginan untuk kembali pada kesederhanaan masa kanak-kanak.
Puisi ini terasa seperti monolog batin yang jujur dan polos, namun justru karena kepolosannya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menjadi sangat tajam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kegelisahan manusia menghadapi dunia yang bergerak terlalu cepat. Di dalamnya juga terkandung tema tentang kehilangan kepolosan, benturan antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa, serta tekanan waktu dan usia.
Puisi ini bercerita tentang seorang gadis bertubuh mungil yang memeluk boneka kesayangannya sambil mengajukan banyak pertanyaan kepada dunia di sekitarnya. Ia heran melihat semua orang berjalan cepat, seolah-olah sedang dikejar sesuatu yang tak terlihat. Gadis itu merasa langkahnya terlalu kecil untuk mengikuti arus, hingga akhirnya muncul keinginan untuk kembali ke kamar dan melanjutkan permainan masa kecilnya.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap kehidupan modern yang menormalisasi kesibukan dan kompetisi tanpa tujuan yang jelas. Pertanyaan seperti “Apakah waktu? Apakah usia?” menunjukkan kesadaran akan tekanan sosial yang memaksa manusia untuk terus bergerak, tumbuh, dan berprestasi, bahkan ketika tubuh dan jiwa belum siap.
Keinginan untuk kembali bermain dengan boneka menyiratkan kerinduan akan ruang aman, ketenangan, dan kebebasan dari tuntutan dunia luar.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa lirih, gelisah, dan reflektif. Ada kepolosan dalam cara bertanya, tetapi juga terselip kelelahan batin yang mendalam. Nuansa ini membuat puisi terasa emosional tanpa perlu bahasa yang berlebihan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan arah hidup. Puisi ini mengingatkan bahwa tidak semua orang harus bergerak dengan kecepatan yang sama, dan bahwa kelelahan adalah hal yang manusiawi.
Selain itu, puisi ini menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga ruang bermain, imajinasi, dan kejujuran batin, bahkan ketika usia terus bertambah.
Puisi “Bertanya” karya Pena Senja adalah refleksi lembut namun tajam tentang dunia yang semakin cepat dan melelahkan. Melalui suara seorang gadis kecil, penyair berhasil menyuarakan kegelisahan yang diam-diam dirasakan banyak orang dewasa. Puisi ini mengajak pembaca untuk berani bertanya: apakah semua perlombaan ini benar-benar perlu, dan kapan terakhir kali manusia memberi izin pada dirinya sendiri untuk berhenti dan bermain kembali?
Karya: Pena Senja
Biodata Pena Senja:
Pena Senja lahir pada tanggal 20 Februari 2004 di Tangerang. Sejak duduk di kelas 4 SD, tepatnya di SDN Sukamanah 1, ia sudah gemar mengumpulkan komik dengan berbagai genre, di antaranya ada cerita rakyat, horor, dan jenaka. Ia memiliki hobi membaca, menulis, dan menonton film. Gadis dengan zodiak pisces ini sangat suka dengan warna biru, katanya biru itu bisa menenangkan bisa juga menenggelamkan.