Puisi Pena Senja

Puisi: Tentang Janji (Karya Pena Senja)

Tentang Janji Jangan menjanjikan apa pun, Tuan. Sebab meski aku diam sebenarnya hatiku sangat menantikan. Tapi semoga apa yang engkau rencanakan bisa…

Puisi: Tabir Waktu (Karya Pena Senja)

Tabir Waktu Ada yang bilang, “seseorang memilih pergi karna dua hal. Pertama karena matanya telah terbuka. Kedua karena hatinya terluka.” Lalu bagaim…

Puisi: Perjalanan Waktu (Karya Pena Senja)

Perjalanan Waktu Saat menyusuri jalan seorang diri, tidak sengaja mataku melihat seorang nenek yang memikul karung di pundaknya. Dari raut wajahnya s…

Puisi: Katanya (Karya Pena Senja)

Katanya Dalam kerapuhan tersimpan kekuatan, katanya. Dalam keheningan ada keikhlasan, katanya. Dalam sebuah akhir ada awal yang baru, katanya. Di set…

Puisi: Melebur dalam Waktu (Karya Pena Senja)

Melebur dalam Waktu Seorang gadis menari dalam sepi Menikmati alunan yang hanya bisa didengar olehnya; sendiri. Musik yang indah ia padukan dalam set…

Puisi: Bersama Cinta (Karya Pena Senja)

Bersama Cinta Mari tertawa lalu menua bersama. Dengan upaya untuk meredam ego yang terkadang tak bisa terbendung, semoga cintanya tetap menggunung. S…

Puisi: Berdamai dengan Keadaan (Karya Pena Senja)

Berdamai dengan Keadaan Mari berdamai dengan keadaan, menjalani hari dengan senyuman dan diakhiri dengan senyuman pula. Terlalu melelahkan bukan jika…

Puisi: Sebuah Pilihan (Karya Pena Senja)

Sebuah Pilihan Jika kupu-kupu memilih terbang menjauh apakah kita harus mengejarnya? Atau membiarkan kupu-kupu lain singgah lalu menetap di taman kit…

Puisi: Sebuah Harapan (Karya Pena Senja)

Sebuah Harapan Nak, semoga nanti kamu bisa merasakan rumah yang hangat—penuh cinta dan kasih di dalamnya. Rumah yang bukan cuma tempat berteduh, tapi…

Puisi: Bunga Layu (Karya Pena Senja)

Bunga Layu Bunga layu telah mulai merekah kembali, semoga mekarnya abadi. Pojok Kamar, 27 Oktober 2025 Analisis Puisi: Puisi satu baris sering kali m…

Puisi: Sepokok Kayu Usang (Karya Pena Senja)

Sepokok Kayu Usang Dariku, seorang gadis yang tak mempunyai tempat istimewa di hati orang lain. Ya, itu adalah kalimat yang aku pegang erat guna untu…

Puisi: Sosok dalam Cermin (Karya Pena Senja)

Sosok dalam Cermin Aku menggenggam sebuah cermin; di dalamnya terdapat sosok yang katanya kuat. Bagaimana tidak, karna saat terluka sosoknya tetap be…

Puisi: Rasa yang Tak Kunjung Memudar (Karya Pena Senja)

Rasa yang Tak Kunjung Memudar Hai, kamu. Mungkin tulisan ini tidak akan sampai padamu. Mungkin juga sampai; tapi kamu tidak akan mengira ini aku. Bol…

Puisi: Penuh Ketakutan (Karya Pena Senja)

Penuh Ketakutan aku ini penuh ketakutan, maaf jika itu membuatmu risih. tapi jika boleh jujur aku sendiri tidak suka menyimpan ketakutan ini. sudah b…

Puisi: Bertanya (Karya Pena Senja)

Bertanya Sesosok tubuh mungil dengan tangan yang memeluk boneka bertanya, “kalian semua hendak ke mana? Mengapa semuanya berjalan dengan begitu cepat…

Puisi: Sebuah Debar (Karya Pena Senja)

Sebuah Debar perkenalan tanpa rencana ternyata bisa membuat ikatan yang tak terduga. mendekatkan dua hati yang ternyata saling mendamba, membuat duni…

Puisi: Manusia Pencemburu (Karya Pena Senja)

Manusia Pencemburu Kau tahu, Tuan? Aku ini amat pencemburu, bahkan pada gelas yang menempel di bibirmu. Jadi harap pikirkan ulang, hendak tetap maju …

Puisi: Hujan (Karya Pena Senja)

Hujan salah satu rahmat dari Tuhan sebagai bentuk penghiburan; untuk semua jiwa yang dilanda gersang anak-anak riang bermain hujan tanpa merisaukan a…
© Sepenuhnya. All rights reserved.