Bisik-Bisik saat Ziarah
Idealisme seperti dunia yang tergantung
Gagasan-gagasan dibangun dari ketaksadaran
Emosi liar bergentayangan
Roh berjalan sendiri-sendiri di kegelapan
Hasrat yang tak pernah teratasi
Kehidupan adalah kematian ala kadarnya
Konsep-konsep terbatas dalam persepsi
Serupa drama sulit diinterpretasi
Aku kehilangan existensiku
Aku kehilangan identitasku
Sesuatu yang abstrak tenggelam dalam ketanpamaknaan
Aku bukan lagi realitas
Sebuah dunia nyaris tak tergapai
Dan mungkin tak terlampaui
Aku tinggal sebuah simtom
Pengungsi yang terapung-apung di tengah pelimbahan
Tak pernah memahami penderitaan, bahkan kebahagiaan
Moscow, 2019
Sumber: Topeng Gerabah Bermata Cumbu (2021)
Analisis Puisi:
Puisi "Bisik-Bisik saat Ziarah" menghadirkan perenungan eksistensial yang gelap dan filosofis. Ziarah dalam puisi ini tidak semata-mata dimaknai sebagai kunjungan ke makam secara fisik, melainkan perjalanan batin menuju ruang terdalam kesadaran manusia, tempat identitas, makna, dan keberadaan dipertanyakan secara radikal.
Tema
Tema utama puisi ini adalah krisis eksistensi dan keterasingan manusia modern. Puisi menyoroti kegamangan identitas, runtuhnya makna hidup, serta ketidakmampuan manusia memahami penderitaan dan kebahagiaan secara utuh.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami kehilangan eksistensi dan identitas, terjebak dalam dunia abstrak yang tak lagi memiliki pijakan makna. Ia merasa hidup sebagai pengungsi batin, terapung-apung di tengah limpahan konsep, emosi, dan gagasan yang tidak memberi kejelasan arah.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengungkap kritik terhadap idealisme dan konstruksi pemikiran manusia yang terlepas dari realitas kemanusiaan. Ketika gagasan dan konsep hanya berputar dalam ketaksadaran dan persepsi terbatas, manusia justru kehilangan dirinya sendiri, menjadi sekadar “simtom” dari sistem dan pemikiran yang ia bangun.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa suram, hampa, dan penuh kegelisahan eksistensial. Nuansa kegelapan, keterasingan, dan kehampaan mendominasi keseluruhan larik, menciptakan rasa tertekan dan kehilangan arah yang mendalam.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia tidak terjebak sepenuhnya pada abstraksi dan konsep-konsep kering, hingga melupakan pengalaman hidup yang nyata. Tanpa kesadaran akan penderitaan dan kebahagiaan sebagai bagian dari kemanusiaan, manusia berisiko kehilangan makna hidup dan jati dirinya.
Puisi "Bisik-Bisik saat Ziarah" karya Hendro Siswanggono merupakan puisi reflektif-filosofis yang kuat. Ia mengajak pembaca merenungkan kembali arti keberadaan, identitas, dan makna hidup di tengah dunia modern yang dipenuhi abstraksi, konsep, dan kegaduhan batin yang sering kali menjauhkan manusia dari dirinya sendiri.
