Puisi: Blok M (Karya Doel CP Allisah)

Puisi “Blok M” karya Doel CP Allisah menghadirkan potret kehidupan urban Jakarta yang padat, cepat, dan penuh hiruk-pikuk visual.
Blok M

Dari jendela bus bertingkat
seluruh pandang kubingkiskan
buatmu untuk ribuan iklan yang berkejaran
mencari-cari wajah ramah di balik kaca itu,
senyum siapa mengembang melintas arus yang deras?
keriuhan mengental sering aku lupa dan kita tak peduli di kala bersua.

Jakarta, 1990-2006

Analisis Puisi:

Puisi “Blok M” karya Doel CP Allisah menghadirkan potret kehidupan urban Jakarta yang padat, cepat, dan penuh hiruk-pikuk visual. Dengan latar ruang kota yang sangat spesifik—Blok M—penyair mengajak pembaca menyelami pengalaman personal di tengah keramaian, kesementaraan perjumpaan, dan keterasingan manusia modern.

Puisi ini singkat, tetapi sarat dengan lapisan makna. Melalui sudut pandang seorang penumpang bus bertingkat, pembaca diajak melihat kota bukan hanya sebagai ruang fisik, melainkan sebagai ruang emosional dan sosial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan urban dan keterasingan manusia di tengah keramaian kota. Blok M digambarkan bukan sekadar pusat aktivitas, melainkan simbol pertemuan antara manusia, iklan, arus lalu lintas, dan emosi yang saling berkejaran tanpa benar-benar saling menyentuh.

Selain itu, terdapat tema turunan berupa kerinduan, relasi antarmanusia yang rapuh, serta banalitas pertemuan di kota besar.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman penyair yang memandang kota dari jendela bus bertingkat. Dari ketinggian itu, segala sesuatu tampak bergerak cepat: iklan berkejaran, wajah-wajah muncul di balik kaca, senyum melintas tanpa sempat dikenali. Di tengah arus yang deras dan keriuhan yang mengental, pertemuan antarmanusia justru terasa hampa dan mudah dilupakan.

Blok M dihadirkan sebagai ruang transit—tempat orang datang dan pergi—tanpa ikatan emosional yang kuat.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini mengarah pada kritik halus terhadap kehidupan kota yang serba visual dan konsumtif. Ribuan iklan yang “mencari-cari wajah ramah” dapat dimaknai sebagai simbol dunia modern yang terus menjual citra, senyum, dan keakraban semu.

Pertanyaan retoris “senyum siapa mengembang melintas arus yang deras?” menyiratkan kegamangan identitas: manusia hadir, tetapi anonim. Ada pertemuan, namun tanpa kedalaman. Bahkan ketika “bersua”, keriuhan kota membuat manusia lupa dan tak lagi peduli.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi cenderung reflektif dan sedikit melankolis. Meskipun latarnya ramai, nuansa batin yang muncul justru sunyi dan dingin. Keramaian tidak menghadirkan kehangatan, melainkan jarak emosional yang semakin terasa.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk kembali menyadari keberadaan manusia lain di tengah kesibukan kota. Di balik iklan, kaca, dan arus lalu lintas, ada wajah-wajah nyata yang sering luput dari perhatian. Puisi ini mengingatkan bahwa keterhubungan manusia tidak seharusnya kalah oleh keriuhan dan rutinitas urban.

Puisi “Blok M” karya Doel CP Allisah berhasil merangkum kompleksitas kehidupan kota dalam larik-larik sederhana namun bermakna. Dengan memadukan pengamatan visual dan refleksi batin, puisi ini menjadi cermin bagi pembaca tentang bagaimana manusia sering hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional di ruang-ruang urban. Keramaian tidak selalu berarti kebersamaan, dan pertemuan tidak selalu menjamin kedekatan.

Doel CP Allisah
Puisi: Blok M
Karya: Doel CP Allisah
© Sepenuhnya. All rights reserved.