Sumber: Sepasang Bibir di Dalam Cangkir (2011)
Analisis Puisi:
Puisi “Bukan Sambal Terakhir Persembahan Istri” menghadirkan potret kehidupan rumah tangga yang tampak sederhana, bahkan nyaris banal. Namun, di balik aktivitas sehari-hari—makan rendang, bermain boneka, mengetik di depan komputer, dan mengulek sambal—terselip lapisan makna tentang cinta, kesalingan, dan keintiman batin yang bekerja secara diam-diam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dalam kehidupan domestik, khususnya cinta suami-istri yang terwujud melalui kerja sehari-hari dan saling pengertian. Puisi ini juga menyentuh tema keseharian keluarga, kesenyapan perasaan, serta dialog batin antara seni (puisi) dan kerja rumah tangga (memasak).
Puisi ini bercerita tentang sebuah keluarga dalam situasi rumah tangga yang lazim: adik makan di depan komputer, kakak bermain boneka, istri membuat sambal kesayangan untuk ayah, sementara ayah sibuk mengetik puisi. Di tengah rutinitas itu, muncul momen batin yang unik: istri merasa sambal itu adalah persembahan terakhir, sementara ayah mencium “harum terasi” dalam sajaknya. Keduanya saling terhubung tanpa saling menyadari secara langsung.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini terletak pada gagasan bahwa cinta tidak selalu diucapkan secara eksplisit, melainkan hadir melalui tindakan-tindakan kecil dan kebiasaan sehari-hari. Sambal dan puisi menjadi medium yang mempertemukan dua dunia: dunia domestik istri dan dunia kreatif suami. Pernyataan “ini bukan sambal terakhir” di bagian akhir menandai pembalikan makna—bahwa cinta tidak berakhir, justru terus berulang dalam bentuk-bentuk sederhana.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana hangat, tenang, dan intim. Tidak ada konflik keras atau ledakan emosi; yang ada adalah keheningan rumah, aktivitas rutin, dan getaran perasaan yang berjalan pelan namun dalam.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat bahwa cinta sejati kerap bersemayam dalam hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Kesetiaan, perhatian, dan kebersamaan justru menemukan maknanya dalam rutinitas, bukan dalam pernyataan heroik atau dramatik.
Puisi “Bukan Sambal Terakhir Persembahan Istri” menunjukkan kekuatan Kurniawan Junaedhie dalam mengangkat peristiwa sehari-hari menjadi refleksi puitik tentang cinta dan kebersamaan. Melalui bahasa yang sederhana dan naratif, puisi ini menegaskan bahwa cinta tidak selalu hadir dalam kata-kata besar, melainkan dalam sambal yang diulek, puisi yang ditulis, dan kehidupan keluarga yang berjalan apa adanya.
Karya: Kurniawan Junaedhie
Biodata Kurniawan Junaedhie:
- Kurniawan Junaedhie lahir pada tanggal 24 November 1956 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.
