Puisi: Bukit Venus (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Puisi “Bukit Venus” karya Wayan Jengki Sunarta bercerita tentang perjalanan seseorang yang tiba di “bukit venus” milik seseorang yang penuh pesona.
Bukit Venus

aku tiba pada hamparan bukit venus
milikmu yang penuh pesona
pada tebing merah muda
di antara rerimbun pinus
sebuah pancuran di atas goa
mengalir air ibu bumi

seperti pertapa tua letih
mencari sumber air suci
aku berjalan tertatih
terseok keluar-masuk
menyibak lebat semak
goa gelap di tebing bukit

cahaya dari hutan pinus
seperti sorot mata ular di taman firdaus
aroma tanah sehabis gerimis

embun menghias pepucuk pinus
merembesi goa tapaku
kurasakan nikmat tertinggi
kidung persembahan ibu bumi

2004

Sumber: Impian Usai (2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Bukit Venus” karya Wayan Jengki Sunarta menghadirkan perjumpaan manusia dengan alam dalam nuansa spiritual dan sensual yang halus. Melalui lanskap bukit, goa, air, dan hutan pinus, penyair tidak hanya menggambarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman batin yang bersifat sakral—sebuah ziarah tubuh dan jiwa menuju sumber kehidupan yang lebih dalam.

Puisi ini bergerak perlahan, lirih, dan penuh perasaan takzim, seolah mengajak pembaca ikut menapaki perjalanan sunyi sang penyair.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesatuan manusia dengan alam sebagai sumber spiritualitas dan kehidupan. Alam tidak diposisikan sebagai objek yang ditaklukkan, melainkan sebagai entitas hidup—“ibu bumi”—yang memberi, merawat, dan layak dipersembahkan penghormatan.

Tema pencarian juga kuat hadir, yakni pencarian makna, kesucian, dan kenikmatan batin melalui kedekatan dengan alam.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan seseorang yang tiba di “bukit venus” milik seseorang yang penuh pesona. Ia menapaki tebing merah muda, goa, dan hutan pinus, berjalan tertatih seperti pertapa tua yang mencari sumber air suci.

Perjalanan fisik ini sekaligus menjadi perjalanan batin. Air yang mengalir dari pancuran di atas goa, embun di pucuk pinus, dan aroma tanah selepas gerimis membentuk pengalaman puncak yang dirasakan sebagai “nikmat tertinggi” dan berujung pada kidung persembahan bagi ibu bumi.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah pemuliaan alam sebagai rahim kehidupan sekaligus ruang spiritual. “Bukit venus” dapat dimaknai sebagai simbol feminitas, kesuburan, dan sumber kenikmatan hidup, yang dalam puisi ini tidak bersifat vulgar, melainkan sakral.

Goa, air, dan bukit menyiratkan simbol kelahiran dan asal-usul kehidupan. Dengan menyebut diri sebagai pertapa tua, penyair menempatkan dirinya sebagai manusia yang rendah hati, datang bukan untuk menguasai, melainkan untuk menyerap dan merayakan anugerah alam.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa hening, kontemplatif, dan sakral. Ada ketenangan yang perlahan meresap, diperkuat oleh citraan embun, cahaya hutan, dan aroma tanah basah. Nuansa ini membuat puisi terasa seperti ritual kecil, bukan sekadar deskripsi perjalanan alam.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk kembali menghormati alam sebagai sumber kehidupan dan spiritualitas. Manusia diajak untuk hadir dengan sikap rendah hati, penuh rasa syukur, dan kesadaran bahwa kenikmatan tertinggi tidak selalu berasal dari kepemilikan, melainkan dari pengalaman menyatu dengan alam.

Puisi ini juga menyiratkan pesan ekologis: alam layak dirawat dan dimuliakan, bukan dieksploitasi.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan sensorik. Imaji seperti “tebing merah muda”, “rerimbun pinus”, “pancuran di atas goa”, serta “embun menghias pepucuk pinus” menciptakan gambaran alam yang lembut dan hidup.

Imaji penciuman muncul melalui “aroma tanah sehabis gerimis”, sementara imaji perasaan hadir dalam pengalaman “nikmat tertinggi” yang dirasakan aku-lirik.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada penyebutan alam sebagai “ibu bumi” yang memberi kehidupan.
  • Simile, seperti “seperti pertapa tua letih” dan “seperti sorot mata ular di taman firdaus”.
Puisi “Bukit Venus” karya Wayan Jengki Sunarta adalah perayaan sunyi atas keindahan alam dan spiritualitas tubuh. Dengan bahasa yang lembut dan penuh citraan, puisi ini menghadirkan pengalaman ziarah yang intim—di mana alam bukan hanya dilihat, tetapi dirasakan, dihirup, dan dipersembahkan dengan kidung syukur. Dalam kesederhanaannya, puisi ini menegaskan bahwa alam adalah ibu yang terus memberi, selama manusia mau datang dengan hormat dan kesadaran.

Wayan Jengki Sunarta
Puisi: Bukit Venus
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Biodata Wayan Jengki Sunarta:
  • Wayan Jengki Sunarta lahir pada tanggal 22 Juni 1975 di Denpasar, Bali, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.