Analisis Puisi:
Puisi “Bulan Pun Jatuh di Kolam” karya Gunoto Saparie menghadirkan lanskap alam yang hening dan puitis sebagai ruang perenungan batin. Melalui citraan alam yang lembut—bulan, kolam, pohon, angin, dan cemara—penyair mengajak pembaca menyelami hubungan antara keindahan alam, ingatan, dan proses kreatif penciptaan sajak. Puisi ini terasa seperti catatan senja yang perlahan berubah menjadi renungan tentang waktu dan kenangan.
Bahasa yang digunakan sederhana, musikal, dan sarat nuansa, sehingga menghadirkan pengalaman membaca yang tenang dan reflektif.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pertemuan antara keindahan alam dan ingatan batin manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesepian, perjalanan waktu, serta lahirnya kreativitas dari perenungan. Alam tidak hanya menjadi latar, tetapi juga pemantik kesadaran dan kenangan.
Puisi ini bercerita tentang suasana senja hingga malam di sebuah tempat yang sunyi: kolam yang memantulkan cahaya bulan, bayangan pohon mempelam yang bergoyang perlahan, serta angin kemarau yang mendesau. Dalam kesunyian itu, aku lirik bertanya tentang ikan-ikan yang menghilang dan sosok yang berdiri dalam sepi, hingga akhirnya ia “terlontar ke masa lampau”.
Dari perenungan tersebut, sajak-sajak pun tercipta, sebelum suasana kembali berubah ketika bulan tertutup awan kelabu.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa keindahan sering kali bersifat sementara. Cahaya bulan yang jatuh di kolam dan kemudian menghilang di balik awan melambangkan momen-momen indah yang datang dan pergi.
Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa ingatan dan kreativitas lahir dari kesunyian. Ketika dunia terasa sepi, batin justru menjadi ruang paling subur bagi kenangan dan penciptaan sajak.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa hening, sendu, dan kontemplatif. Ada keteduhan pada bagian awal, lalu berubah menjadi nuansa melankolis ketika ingatan masa lampau muncul dan cahaya bulan menghilang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah ajakan untuk menghargai momen-momen sunyi sebagai ruang perenungan diri. Puisi ini mengingatkan bahwa keindahan tidak selalu hadir lama, namun dapat meninggalkan jejak mendalam dalam ingatan dan karya. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kesunyian bukan kekosongan, melainkan sumber makna.
Puisi “Bulan Pun Jatuh di Kolam” karya Gunoto Saparie merupakan puisi alam yang lembut dan reflektif. Dengan memadukan citraan alam dan perjalanan batin, puisi ini menunjukkan bahwa dari kesunyian dan keindahan yang sementara, manusia dapat menemukan ingatan, makna, dan sajak. Puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menyimak alam, dan mendengarkan gema kenangan yang muncul di dalam diri.
Karya: Gunoto Saparie
BIODATA GUNOTO SAPARIE
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain. Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.
Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.