Bunga Kertas
belasan tahun diterbangi debu
belasan tahun tegak kaku
hanya warna memudar
dengan kawat melingkar
bunga itu peninggalan orang tua
seperti usianya yang renta
ingin kucabik-cabik saja
dan menyingkir dari meja
bunga kertas yang tak berbatas
selalu melipat usia yang membekas.
2006
Analisis Puisi:
Puisi “Bunga Kertas” karya Tri Astoto Kodarie merupakan puisi pendek yang bekerja melalui simbol-simbol sederhana, namun sarat dengan muatan reflektif tentang waktu, ingatan, dan hubungan manusia dengan warisan masa lalu. Dengan bahasa yang hemat dan citraan yang bersahaja, puisi ini menghadirkan renungan mendalam mengenai usia, keterikatan emosional, serta keinginan untuk melepaskan diri dari beban kenangan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ingatan dan warisan masa lalu yang membeku dalam waktu. Bunga kertas menjadi simbol benda peninggalan yang menyimpan jejak usia, pengalaman, dan hubungan batin antara generasi.
Puisi ini bercerita tentang sebuah bunga kertas yang telah bertahun-tahun dibiarkan diam, diterbangi debu, dan perlahan memudar warnanya. Benda tersebut merupakan peninggalan orang tua, sehingga kehadirannya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Penyair menampilkan konflik batin antara keinginan untuk menyingkirkan benda itu dan kesadaran bahwa bunga kertas tersebut menyimpan lapisan usia dan kenangan yang tak mudah dilepaskan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan hubungan manusia terhadap kenangan dan masa lalu. Bunga kertas melambangkan ingatan yang tidak pernah benar-benar mati, meskipun telah kehilangan warna dan vitalitas. Keinginan untuk “mencabik-cabik” bunga tersebut menyiratkan hasrat untuk membebaskan diri dari beban kenangan, tetapi larik penutup justru menegaskan bahwa usia dan ingatan terus “melipat” dan membekas, tak pernah sepenuhnya hilang.
Suasana dalam puisi
Puisi ini menghadirkan suasana muram dan reflektif, dengan nada tenang namun sarat kegelisahan batin. Tidak ada letupan emosi yang keras, melainkan kesedihan yang tertahan dan kelelahan menghadapi waktu yang terus berjalan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Secara tersirat, amanat puisi ini adalah bahwa kenangan dan warisan masa lalu, betapapun rapuh dan usang, tetap membentuk identitas dan kesadaran seseorang. Upaya untuk menghapus atau menyingkirkannya tidak selalu berarti pembebasan, karena ingatan akan terus hidup dalam bentuk lain.
Puisi “Bunga Kertas” karya Tri Astoto Kodarie menunjukkan bagaimana benda sederhana dapat menjadi pusat refleksi eksistensial. Melalui simbol bunga kertas, penyair mengajak pembaca merenungi hubungan antara manusia, waktu, dan ingatan. Puisi ini tidak menawarkan penyelesaian yang tegas, melainkan menghadirkan kesadaran bahwa masa lalu, meski rapuh dan memudar, tetap hidup dan membekas dalam perjalanan usia manusia.
Puisi: Bunga Kertas
Karya: Tri Astoto Kodarie
Biodata Tri Astoto Kodarie:
- Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
